Langsung ke konten utama

Label Halal atau Label Haram?

Menjadi muslim itu gampang, tapi menjadi dipersulit oleh saudara2 kita sendiri sesama muslim.

Saya tergelitik dengan masalah ini ketika ada salah satu netizen yang memposting gambar salah satu warung kaki lima di Bali yang mencantumkan kata HARAM di gerobaknya. Ya memang makanan yang dia jual terbuat dari daging babi.

Eh ternyata ada juga muslim yang menjual kosmetika halal. Halalnya ternyata dititikberatkan pada ketiadaan alkohol, zat yang setahu saya tidak pernah diharamkan dalam Islam. Khamar atau tuak memang diharamkan dalam Islam, yaitu minuman hasil fermentasi sari buah. Sedangkan alkohol adalah zat yang sudah pasti, niscaya, wajar ada dalam setiap buah2an. Makanya banyak ustadz yang ilmunya ala kadarnya tidak bisa menjawab kenapa buah2an tidak diharamkan, padahal kandungan alkoholnya jauh lebih tinggi dari kebanyakan minuman keras yang dijual di toko swalayan.

Eh ternyata ada isu juga bahwa sebuah perusahaan roti tidak memperpanjang sertifikasi halalnya karena merasa diperas oleh pihak berwenang sertifikasi.

Dari 3 temuan di atas saya akhirnya mencaritahu apa itu halal haram dan bagaimana aplikasinya dalam hal makanan. Beberapa hadits saya baca dan kesimpulan saya : memang tidak ada kewajiban label halal. Justru apa yang dilakukan penjual makanan di Bali iulah yang benar, label HARAM.

Seorang muslim tidak berkewajiban untuk menyelidiki sampai paranoid setengah mati pada bahan makanan yang mereka akan makan. Jadi sebatas makanan itu memang tidak terbuat dari bahan haram, maksudnya kalau judul hidangannya adalah BABI GULING, TUMIS ANJING, atau sejenisnya ya jangan dimakan. Atau warungnya punya menu haram ya cari tempat lain. Kalau pun ga ada tempat lain, misalnya di Bangkok susah nyari warung halal ya pesan saja makanan dengan judul halal, semisal IKAN BAKAR, AYAM KECAP dan sejenisnya.

Islam itu woles. Allah juga tidak berniat nyusahin kita kok. Dan fenomena NAKUT2IN dan nyusahin sesama muslim memang sudah lumrah terjadi. Makanya bid'ah dilarang karena nambah2in ritual ibadah selain yang diajarkan Rasulullah termasuk nyusahin umat.

Saya memang orang biasa, bukan ustadz. Tapi setau saya nanti di akhirat saya sendiri yang harus tanggung jawab sama tindakan saya, pilihan saya. Bukan ustadz A, B, atau siapa pun. Jadi saya berhak memilih apa yang menurut saya benar. Dan anda yang membaca blog ini juga jangan menyalahkan saya sebagai alasan jikalau pendapat ini salah.

Jadi jika nanti ada keperluan penting, bukan berwisata lho ya, ke tanah mayoritas non muslim rasanya kita tidak perlu lagi paranoid seperti ibu2 atau bapak2 lainnya. Makan saja menu sapi, kambing, ikan, ayam dan sejenis makanan halal lainnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...