Langsung ke konten utama

Pilihan Juri atau Pilihan Penonton

Banyak yang ngeluh soal acara idol2an yang muncul di TV. Suara sumbang soal pilihan penonton yang cuma melihat tingkat kemiskinan peserta. Lucunya mereka yang protes justru yang mendukung pemilihan langsung presiden dan kepala daerah. Mereka udah tau rakyat milih dengan sudut pandang yg kurang tepat, eh tapi lain di TV lain di politik. Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya. Melainkan acara kompetisi2 ini.

Ketika Artika Sari menjadi Putri Indonesia pertama yang berhasil menembus 15 besar terasa ada yang janggal. Itu keikutsertaan Indonesia pertama kali di Miss Universe, setelah sekian lama dianggap miring. Artika Sari juga bukan peserta dengan "body" 15 besar, sepanjang sejarah Miss Universe, bisa dicek. Kecerdasan? Jawaban2 Artika tidak ada yang istimewa. Bukan tidak mungkin semua terjadi karena juri2 Miss Universe ingin Indonesia ikut lagi dan lagi dalam kompetisi ini. Dieluslah sedikit dengan titel 15 besar, padahal ga ada yang istimewa.

Eh ketika Masterchef US memilih seorang buta jadi juara kompetisi masak, saya makin heran. Eh diulang lagi di season terakhir. Claudia yang beberapa kali punya kualitas masakan tidak istimewa, bahkan jelas2 dibantuin sama juri waktu masak kue, eh bisa juara dibanding rocker yang terbukti luar biasa dengan hidangan2nya.

Sekarang salah satu kompetisi stand up comedy favorit saya memilih 4 besar komika dengan cara yang tidak dimengerti (ga mau bilang aneh). Ipul yang jelas2 lucu malah keluar. Epi yang menurut saya komika "maksa", malah maju ke 4 besar. Musdalifah yang sudah "habis" juga maju. Heran. Seperti Valentino Rossi, idola saya yang belakangan suka curigaan, saya ikut curiga. Mohon koreksi jika saya salah, bahwa kompetisi ini ditentukan hasilnya oleh juri. Bukan vote penonton. Kecurigaan saya adalah Epi dipilih karena dari Timur Indonesia. Meski tak selucu Ipul, tapi harus disodok, demi alasan.........politis. Musdalifah meski sudah kehabisan bahan, dipiliha karena alasan.........gender.


Ternyata kompetisi yang ditentukan juri, justru tak lebih baik dari keputusan Penonton. Kesimpulannya : Mulai berlatih menonton acara kompetisi di televisi sebagai sajian semata. Bukan sebagai kompetisi. Karena hasilnya selalu dibumbui oleh pandangan politik atau alasan ga jelas si juri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...