Langsung ke konten utama

Bedanya "Muslim" dan "Baru Muslim"

Mungkin pada bingung sama judul di atas. Iya maksudnya, apa bedanya muslim sejati, ulama, alim, dengan "baru muslim", yaitu orang2 yang baru mendapat hidayah alias "berhijrah" kalau kata orang2 kekinian.

Sebelumnya mohon artikel ini jangan salah ditanggapi sebagai "anti hijrah". Justru saya senang banyak artis atau sahabat yang "hijrah". Namun tentu segala sesuatu ada kekurangan yang harus diperbaiki. Dan kewajiban seorang muslim untuk saling menasehati dalam kebaikan.

Pertama, mereka yg hijrah sering "berkacamata kuda" dalam mengambil dalil. Apa yang dikatakan ustadz atau gurunya atau website panutannya, itulah yang benar. Selain itu......haram. Padahal yang harus dilakukan ketika mendengar pendapat org lain adalah menyelidiki dulu keabsahan pijakan dalilnya. Kalau sah, meski beda, layak diterima sebagai perbedaan yang wajar. Bukannya didebat panjang lebar.

Berkaitan dengan hal di atas, Baru Muslim juga sering memancing perdebatan di tengah pergaulan. Saya tidak menggunakan kata "suka memancing" karena "sering" dan "suka" sangat berbeda. Suka artinya memang dia senang berdebat. Kalau sering artinya kerapkali "tergelincir", tanpa sengaja, memancing perdebatan. Pertanyaan2 "orang awam" di tengah grup atau medsos, seringkali mereka tanggapi dg ilmu yang "seumur jagung". Kemudian jawaban pihak lain yang sebetulnya ada dasar dalil yg sah malah ditanggapi sebagai "lawan" yang harus dipatahkan. Apalagi kalau pihak "lawan" tidak berjenggot atau celana cingkrang. Bahkan meski "lawannya" adalah seorang profesor di bidang agama sekalipun. Padahal hikmah dalam Islam bisa diperoleh dari manapun.
Bukan hanya di level "kroco". Ternyata di level ustadz pun ada yang seperti ini. Bahkan ustadz mencap ustadz lain tidak boleh diikuti karena tidak satu kelompok dengan dirinya. Padahal seseorang, apalagi ulama, tidak mungkin salah semuanya, meski juga tidak mungkin betul semuanya. Tapi bukan alasan untuk "menghitamkan"nya. Mungkin mengritisi pendapatnya tentang ini, itu, wajar. Tapi kalau mencap sepenuhnya dia tidak boleh diikuti, sebetulnya anda sudah termasuk golongan orang "jahil".

Selanjutnya, "baru muslim" kerap menasehati orang lain, namun sayangnya nasehatnya basi, alias sudah dilakukan. Dengan kata lain "pahlawan kesiangan". Misalnya "kamu jangan pungli ya." Padahal yang dinasehati sudah puluhan tahun bebas dari perbuatan pungli. Dan selidik punya selidik ternyata si "baru" memang baru saja meninggalkan pungli. Atau ketika sahabatnya menunggu di luar mesjid, dia lambat keluar, pas keluar menghampiri sahabatnya sambil kuliah 3 sks tentang shalat sunat yang baru dikerjakannya. Padahal sahabatnya sudah melaksanakan semuanya, cuma berbeda lama pelaksanaan saja sehingga menunggu di luar.
Sahabatnya sudah rajin puasa sunat, eh si "baru" kuliah lagi 5 sks tentang kebaikan puasa sunat. Basi kedengarannya. Bedanya dengan ulama atau orang alim adalah mereka yg alim hanya mengingatkan jika sahabatnya bermaksiat, atau jika ditanya. Kalau sekedar perbedaan mazhab dalam ibadah tidak memancing mulut mereka untuk bereaksi.

Mudah2an kita semua diberi petunjuk untuk sama2 menjadi alim dalam ilmu agama. Sehingga tidak menjelek2an antar sesama karena boleh jadi ilmu kita masih jauh dibanding orang yang kita "ceramahi". 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Terbuka Ruslan Buton Untuk Joko Widodo

Kepada Yth. Saudara Ir. H .Joko Widodo. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Ruslan Buton, mewakili suara seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Di tengah pandemi Covid-19, saya melihat tata kelola berbangsa dan bernegara yang begitu sulit dicerna akal sehat untuk dipahami oleh siapapun. Kebijakan-kebijakan saudara selalu melukai dan merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Yang lebih menghawatirkan lagi adalah ancaman lepasnya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kami cintai ini. Suka atau tidak suka, di era kepimimpinan saudaralah semua menjadi kacau balau alias amburadul dalam segala hal. Entah karena ketidakmampuan saudara atau bisikan kelompok yang memiliki kepentingan yang tidak bisa saudara pahami atau mungkin karena saudara telah tersandra oleh kepentingan para elit politik. Disini saya tidak akan memaparkan kebijakan-kebijakan saudara yang lebih banyak merugikan ...

Dokter Bhinneka Tunggal Ika? Atau Dokter Anti Islam?

Hhmmm dokter bineka tunggal ika..??? Rasanya dari dulu ga pernah ada masalah dengan Bhineka Tunggal Ika....dari mulai kuliah rekan2 dari sabang sampe merauke, dosennya juga dari berbagai suku ras dan agama.. sampai sekarang jadi TS.. pasien2 juga beragam dari mulai yang matanya sipit kulitnya hitam, dilayani dengan baik sesuai kode etik.. Kenapa tiba2 ada yang ngaku2 dokter Bhinneka Tunggal Ika? Hahaha.. Pilkada DKI sudah selesai, jangan profesi dokter kalian tunggangi karena sakit hati. InsyaAllah tinggal usulkan : Presiden harus beragama non muslim dan berasal dari etnis Tionghoa di UUD kita nanti. Sesuai penafsiran Bhineka Tunggal Ika kalian kan? Hahahaha

3 Cara Mendisinfeksi Masker

Ahli medis merekomendasikan untuk mencuci masker setidaknya sekali sehari. Berikut adalah tiga metode untuk mendisinfeksi masker  secara efektif. 1. Bersihkan masker di mesin cuci Jika Anda memiliki mesin cuci, sebenarnya sudah cukup untuk membersihkan masker Anda. Pastikan untuk mencuci masker Anda setiap selesai digunakan. Pakailah kantong khusus seperti mencuci sepatu untuk melindungi elastisitasnya. Cuci masker Anda dengan deterjen cuci biasa dan bisa tambahlan  air panas juga. Selanjutnya, keringkan.. Metode yang sama juga berlaku untuk penutup wajah kain lainnya seperti bandana atau syal. 2. Bersihkan masker di wastafel Karena tidak memiliki akses ke mesin cuci, Anda juga dapat membersihkan masker kain di wastafel dapur Anda. Isi wastafel Anda dengan air panas dan sabun cuci piring. Biarkan masker wajah Anda terendam dalam air sabun panas selama setidaknya lima menit. Pastikan untuk mengeringkannya sampai benar2 kering sebelum memakainya. 3. Disinfeksi masker...