Ustadz Dr. Zakir Naik datang k Indonesia. Saya senang luar biasa. Berharap bisa nonton, meski via online.
Eh ternyata...
Antusiasme nonton Dr. Zakir Naik terganggu oleh translator atau penterjemah yang entah ide siapa, disetel menterjemahkan ucapan Dr. Zakir Naik per kalimat. Soundnya jadi berantakan, ucapan Dr. Zakir Naik tidak terdengar jelas.
Koreksi sy jika salah : cuma di Indonesia yang pakai translator untuk acara Dr. Zakir Naik.
Mencoba prasangka baik bahwa mereka melakukan itu agar semua masyarakat bisa memahami. Tapi.....
Apakah memang bangsa Indonesia sebodoh itu? Apakah mahasiswa Indonesia sebodoh itu? Sampai tidak bisa mengikuti seminar berbahasa Inggris.
Lalu, apakah kebodohan itu akan dipelihara? Sebagaimana pemerintah melestarikan kebodohan anak Indonesia lewat film2 yang didubbing?
Niat baik juga harus pakai pertimbangan dan evaluasi. Kalau sudah "gone wrong", kenapa tetap dipaksakan?
Jadi ingat dengan seorang santri di mesjid Darut Tauhid, dia berinisiatif menyetel jadwal iqamat 15 menit setelah adzan. Padahal imam sudah datang, mesjid sudah penuh. Alhasil jamaah bengong nunggu iqamat. Padahal niatnya baik, untuk beri kesempatan jamaah shalat sunat.
Niat baik, tetap harus dievaluasi. Jangan ngotot kalau sudah "gone wrong".
Eh ternyata...
Antusiasme nonton Dr. Zakir Naik terganggu oleh translator atau penterjemah yang entah ide siapa, disetel menterjemahkan ucapan Dr. Zakir Naik per kalimat. Soundnya jadi berantakan, ucapan Dr. Zakir Naik tidak terdengar jelas.
Koreksi sy jika salah : cuma di Indonesia yang pakai translator untuk acara Dr. Zakir Naik.
Mencoba prasangka baik bahwa mereka melakukan itu agar semua masyarakat bisa memahami. Tapi.....
Apakah memang bangsa Indonesia sebodoh itu? Apakah mahasiswa Indonesia sebodoh itu? Sampai tidak bisa mengikuti seminar berbahasa Inggris.
Lalu, apakah kebodohan itu akan dipelihara? Sebagaimana pemerintah melestarikan kebodohan anak Indonesia lewat film2 yang didubbing?
Niat baik juga harus pakai pertimbangan dan evaluasi. Kalau sudah "gone wrong", kenapa tetap dipaksakan?
Jadi ingat dengan seorang santri di mesjid Darut Tauhid, dia berinisiatif menyetel jadwal iqamat 15 menit setelah adzan. Padahal imam sudah datang, mesjid sudah penuh. Alhasil jamaah bengong nunggu iqamat. Padahal niatnya baik, untuk beri kesempatan jamaah shalat sunat.
Niat baik, tetap harus dievaluasi. Jangan ngotot kalau sudah "gone wrong".
Komentar
Posting Komentar