judul di atas sekedar gambaran ironisnya hidup seorang muslim di Indonesia. Saya anggap juga sebuah nasehat buat diri pribadi.
Ya, kebanyakan muslim yang saya temui bercita2 sebagai PNS. Tapi tidak senang dengan ekonomi Indonesia yang dikuasai Cina.
Padahal sejarah Islam diawali oleh muslim2 pengusaha yang luar biasa. Bahkan PNS baru muncul kemudian sebagai profesi yang dijauhi karena beban amanah yang teramat besar.
Kebalikannya saat ini. Muslim berlomba jadi PNS, tapi ngamuk melihat ekonomi dikuasai orang kafir. Terus mau gimana? Situ yang ga punya nyali buka usaha. Situ yang tidak percaya pada jaminan Allah akan rezeki. Orang kafir yang justru percaya kalau pantang menyerah pasti berhasil. Lah kok malah situ yang ngamuk kalau mereka sukses? Lah kok situ justru jadi koruptor demi "mengimbangi" pendapatan mereka? Lah kok situ yang ngutakngatik UU demi kenaikan gaji PNS?
Situ yang setengah mati ingin petantang petenteng dengan baju hijau, sambil pegang papan bertuliskan "masa depan terjamin", lah kok iri lihat orang lain yang bangga dengan papan "pengusaha"?
Ya, kebanyakan muslim yang saya temui bercita2 sebagai PNS. Tapi tidak senang dengan ekonomi Indonesia yang dikuasai Cina.
Padahal sejarah Islam diawali oleh muslim2 pengusaha yang luar biasa. Bahkan PNS baru muncul kemudian sebagai profesi yang dijauhi karena beban amanah yang teramat besar.
Kebalikannya saat ini. Muslim berlomba jadi PNS, tapi ngamuk melihat ekonomi dikuasai orang kafir. Terus mau gimana? Situ yang ga punya nyali buka usaha. Situ yang tidak percaya pada jaminan Allah akan rezeki. Orang kafir yang justru percaya kalau pantang menyerah pasti berhasil. Lah kok malah situ yang ngamuk kalau mereka sukses? Lah kok situ justru jadi koruptor demi "mengimbangi" pendapatan mereka? Lah kok situ yang ngutakngatik UU demi kenaikan gaji PNS?
Situ yang setengah mati ingin petantang petenteng dengan baju hijau, sambil pegang papan bertuliskan "masa depan terjamin", lah kok iri lihat orang lain yang bangga dengan papan "pengusaha"?
Komentar
Posting Komentar