Asisten saya bercerita bangga tentang pacarnya yang dia katakan "jenius". Dalam hati saya berkata, siapa yang tidak akan bangga dengan pacarnya. Apapun pasti dibilang bagus.
Tapi lalu sebuah niat untuk menyadarkan jutaan pemuda Indonesia yang berharap "easy money" di dunia kesehatan membuat mulut saya tak tertahan.
"Kalau dia jenius, jadi dokter, bukan jadi perawat." Tanggapan saya.
"Emang kok, katanya dia bisa saja masuk kedokteran, tapi orang tuanya ga sanggup karena biayanya mahal." Timpal asisten saya.
Mendidih rasanya dalam hati. Sudah terlalu banyak orang sombong, gengsian yang tidak mau dianggap bodoh atau gagal, kemudian menyebar fitnah di tengah masyarakat tentang mahalnya biaya sekolah dokter. Padahal semua orang tahu, biaya jadi dokter (lewat jalur negeri) sama saja dengan biaya kuliah di jurusan lainnya. Kecuali "maksa jadi dokter" (jalur swasta).
Masih mending kalau pacar asisten sy ini sempat mencoba UMPTN, tp ternyata tidak. Mencoba ujian masuk perguruan tinggi negeri saja tidak, lalu nekat menjaga gengsi dengan berlagak "saya bisa saja masuk kedokteran, tapi orangtua saya tidak sanggup membiayai." Padahal biaya kuliah yang dia tempuh 2x lipat biaya kuliah di kedokteran.....negeri ya bukan "maksa" eh swasta maksudnya.
Fitnah ini juga yang menghalangi ribuan anak desa untuk menjadi dokter. Padahal kalau mereka mau rajin belajar dan melakukan konfirmasi ke kampus2 negeri, mereka mungkin saja sekarang sudah menjadi tenaga kesehatan yang terpandang dan bisa menopang ekonomi keluarganya.
Tapi lalu sebuah niat untuk menyadarkan jutaan pemuda Indonesia yang berharap "easy money" di dunia kesehatan membuat mulut saya tak tertahan.
"Kalau dia jenius, jadi dokter, bukan jadi perawat." Tanggapan saya.
"Emang kok, katanya dia bisa saja masuk kedokteran, tapi orang tuanya ga sanggup karena biayanya mahal." Timpal asisten saya.
Mendidih rasanya dalam hati. Sudah terlalu banyak orang sombong, gengsian yang tidak mau dianggap bodoh atau gagal, kemudian menyebar fitnah di tengah masyarakat tentang mahalnya biaya sekolah dokter. Padahal semua orang tahu, biaya jadi dokter (lewat jalur negeri) sama saja dengan biaya kuliah di jurusan lainnya. Kecuali "maksa jadi dokter" (jalur swasta).
Masih mending kalau pacar asisten sy ini sempat mencoba UMPTN, tp ternyata tidak. Mencoba ujian masuk perguruan tinggi negeri saja tidak, lalu nekat menjaga gengsi dengan berlagak "saya bisa saja masuk kedokteran, tapi orangtua saya tidak sanggup membiayai." Padahal biaya kuliah yang dia tempuh 2x lipat biaya kuliah di kedokteran.....negeri ya bukan "maksa" eh swasta maksudnya.
Fitnah ini juga yang menghalangi ribuan anak desa untuk menjadi dokter. Padahal kalau mereka mau rajin belajar dan melakukan konfirmasi ke kampus2 negeri, mereka mungkin saja sekarang sudah menjadi tenaga kesehatan yang terpandang dan bisa menopang ekonomi keluarganya.
Komentar
Posting Komentar