Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Kemudian saya mulai mempelajari "warisan" ini lebih dalam, ketimbang membuat tulisan tanpa dasar di media sosial. Tulisan yang memang bikin tenar, tapi cuma bermodalkan kemalasan mempelajari "warisan" saya.
Mendalami "warisan" membuat saya akhirnya paham, kenapa ustadz2 bilang : nikmat iman dan Islam itu adalah luar biasa. Karena kalau saya lahir dari keluarga non muslim, belum tentu saya akan kenal dengan Islam. Satu2nya agama di dunia yang kitab sucinya tidak bisa disentuh "revisi" selama ratusan tahun, sesuai jaminan yang juga tertulis dalam kitab sucinya. "Keajaiban" itu yang membuat saya selalu yakin bahwa Islam adalah jalan lurus.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena agama saya tidak pernah mengajar kami untuk membakar rumah ibadah, beribadah di tengah malam menggunakan pengeras suara di tengah pemukiman, atau mendirikan rumah ibadah tanpa izin. Toh mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara. Dan meskipun mereka ragu dengan "warisan" mereka, tentu mereka sadar dengan beratnya tekanan yang akan mereka terima dari keluarga dan lingkungan, jika mereka meninggalkan "warisan" itu.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri. Maka sudah seharusnya, ketika kita mulai bisa berfikir, "warisan" adalah hal terpenting yang kita fikirkan. Seperti Ibrahim yang mencari Tuhan. Karena kita bukan anjing yang bisa begitu saja mengikuti perintah tuannya tanpa bertanya. Kita diberi akal untuk mempelajari "warisan" kita masing2.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Alangkah berbahayanya kalau saya tidak mempelajari "warisan" saya dan hanya ikut2an, padahal sudah diberi otak untuk berfikir.
Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Bayangkan kalau banyak orang "beda warisan" yang "GR" ketika kita sedang mendengarkan ceramah dari pemuka agama kita. Padahal di agama mereka juga punya sebutan untuk orang yang "beda warisan" . Tapi karena "GR" dan malas mempelajari "warisan" akhirnya nangis atau ngamuk waktu dibilang "kafir". Padahal dalam hatinya sudah ragu dengan "warisan" yang dia punya. Tapi ya itu tadi, malas mikir dan takut pada lingkungan keluarga. Yang ngaku muslim "keGRan" dan memilih tetap jadi muslim dan berhijab, padahal dia sama sekali tidak percaya pada "warisan"nya. Tapi karena "GR" merasa Islam akan buruk kalau dia memilih ikut "warisan" orang dia memilih tetap Islam.
Seperti orang yang ingin ke pantai, tapi karena 1 bis mau ke gunung dia ikut aja. Tapu anehnya sepanjang perjalanan dia sibuuuuk aja bikin status tentang indahnya pantai dan buruknya gunung. Kalau istilah dalam "warisan" saya : munafik. Tidak mau mengaku "beda warisan" padahal memang "beda".
Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."
Untung Jalaluddin Rumi bukan nabi, jadi pendapatnya tidak saya gunakan untuk memahami "warisan" ini.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman". Atau mereka takut mencari pembuktian karena kalau terbukti? Panjang urusan. Bimbang di hati yang bisa berlanjut pada "pindah warisan" dan tekanan lebih berat dari lingkungan keluarga.
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan karena memang tidam bisa. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba. Usah komentari "warisan" orang lain, cukup dalami "warisan" sendiri.
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini? Tapi kalau semuanya itu sama, kenapa si Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu dan ateis begitu keras menolak menjadi muslim?
Sampai akhirnya kitab "warisan" saya menjawab sendiri dengan tantangan : buatlah kitab suci sendiri, silakan.
Bahkan juga di dalam kitab itu tertulis : tidak ada paksaan untuk urusan agama.
Artinya saya keGRan sendiri selama ini, seolah2 "warisan" yang butuh saya untuk mengagungkanNya. Rasa GR yang semakin besar dan parah karena saya berhijab tapi malas mempelajari "warisan" sendiri dan akhirnya putus asa dan mengambil kesimpulan tergampang : semua sama. Kesimpulan yang tak butuh otak untuk mencernanya.
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
Artinya ada tujuan dari semua itu. Bukankah soal2 ujian di sekolah pun punya pilihan jawaban yang salah dengan satu jawaban yang benar? Apa jadinya kalau semua jawaban benar? Apa gunanya ujian?
Itu sebabnya "warisan" diberi kitab suci, supaya umatnya berfikir. Tidak hanya ikut tren, seperti beberapa wanita berhijab.
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana. Apalagi kalau minoritas menginjak2 mayoritas tanpa sebab.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan. Setiap warga negara harus dihormati haknya. Bukan berarti presiden harus Nasrani atau bersuku Tionghoa baru dianggap toleran. Setiap agama dan suku berhak menjadi pemimpin atau pejabat di negara ini tapi lewat proses demokrasi. Bukan melakukan kampanye hitam dengan menuduh mereka yang tidak memilih Ahok adalah anti Pancasila. Kalau orang Kristen gagal jadi presiden, atau Tionghoa, atau Papua gagal jadi presiden, gubernur, walikota, introspeksi cara kampanyenya. Mungkin si calon memang sudah "nyakitin" orang2 beda "warisan" sebelumnya. Bukannya malah nyari alasan buat ngeles. Alasan yang malah bikin masyarakat saling benci dan curiga. Sudah kalah malah bikin rusuh dan bencana di negara.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena gadis2 berhijabnya malas mikir dan mempelajari agama, tapi sudah berani nulis soal warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan yang entah kenapa tidak kita dalami sejak dini.
Malas mikir itu silakan untuk urusan2 remeh temeh. Tapi kalau urusan masa depan abadi , masa bacotnya mau asal ngomong sih? Kecuali memang tidak yakin dengan adanya akhirat. Dan kalau memang tidak percaya dengan akhirat, lalu kenapa harus repot2 ngomongin agama? Ibarat orang yang benci beras di Indonesia. Buat apa? Cari perhatian media sosial karena kurang mendapat kasih sayang di rumah?
Malas mikir itu silakan untuk urusan2 remeh temeh. Tapi kalau urusan masa depan abadi , masa bacotnya mau asal ngomong sih? Kecuali memang tidak yakin dengan adanya akhirat. Dan kalau memang tidak percaya dengan akhirat, lalu kenapa harus repot2 ngomongin agama? Ibarat orang yang benci beras di Indonesia. Buat apa? Cari perhatian media sosial karena kurang mendapat kasih sayang di rumah?
.
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir dan mempelajari warisan masing2. Atau kalau malas mikir langsung saja jadi muslim. Toh semua warisan itu baik kan?
Komentar
Posting Komentar