Langsung ke konten utama

Fitnah Terhadap Ustadz YM

Kata Ali bin Abi Thalib : kebenaran tidak boleh disembunyikan.  Maka tergetarlah hati saya untuk sedikit angkat bicara soal kasus salah satu ustadz ternama. Menjadi geram, karena si bodok yang jadi "korban" diekspos pernyataannya oleh salah satu media online yang merusak nama baik si ustadz.

Ustadz bukan Nabi, memang! Tapi juga bukan iblis yang lantas dibiarkan saja ketika dijelek2an orang. Apalagi dengan berita yang dirasa fitnah. Maka rasanya kewajibana sy untuk menyebarkan apa yang saya tahu perihal kasus ini.

Jikalau di kemudian hari ternyata terbukti si ustadz tidak sesuai dg pernyataan saya ya silakan doakan hukuman pada Allah SWT. Ga ada ruginya juga, toh kata pendukung Ahok kan semua muslim itu koruptor dan maling, atau tikus kotor.

Pertama yang saya ingin jelaskan, si ustadz berniat mendirikan sebuah usaha yang diniatkan beliau hasilnya nanti akan diputar lagi demi membiayai kepentingan umat. Niat yang mulia.

Si ustadz mengajak, MENGAJAK umat untuk berinvestasi demi mewujudkan niat itu. Selain menggunakan laba untuk kepentingan umat, si ustadz menjanjikan sebagian laba juga akan diserahkan kepada para investor.

Sayangnya si ustadz tidak tahu mengenai aturan OJK soal prosedur pengumpulan dana dalam jumlah besar dari masyarakat. Inilah aturan yang terlanggar, TERLANGGAR, oleh si ustadz.

Dan seperti biasanya, ada muslim bodok yang tidak paham soal proyek, tidak paham soal investasi, tidak paham soal Islam, eh langsung lapor sana sini. (Semoga Allah mengampuni ibuk yang ga ngerti agama ini). Proyek yang sedang berjalan tentu saja belum menghasilkan laba, karena proyeknya berupa properti. Apalagi dalam Islam kalau barang belum ada tidak boleh dijual. So ibuk bodok heboh nyerocos sana sini. Padahal ustadznya ga kabur kemana2.

Si ibuk bodok juga curiga, CURIGA uangnya yang diinvestasikan akan dibawa kabur ustadz ini. Jadi berdasarkan itulah dia sebar fitnah sana sini, sampai telinga OJK.

Jadilah si ustadz ditegur dan muncul headline di berbagai media dengan judul investasi ilegal. Padahal semuanya hanya perihal ketidaktahuan si ustadz soal tidak bolehnya masyarakat mengumpulkan dana milyaran tanpa izin OJK.

Padahal niat si ustadz bukan untuk pribadi. Toh si ustadz sudah terkenal kaya jauh sebelum ada kasus itu. Ibuk bodok yang merasa ustadz dalam Islam harus jadi pengemis ini merasa puas.

Karena sudah disuruh hentikan oleh OJK tentu saja proyek itu berhenti. Ya sudah. Si ustadz berhenti mengumpulkan dana. Tapi dana yang sudah terkumpul mau diapakan? Akhirnya diinvestasikan si ustadz, sambil nunggu para investor minta dananya kembali.

Kasus ini sudah lama, si ustadz tidak kabur karena memang bukan berniat menawarkan investasi bodong. Eh ternyata barusan saya baca di salah satu media online ada bapak bodok yang baru nyadar (mungkin karena tinggalnya juga di luar jakarta) kalau uangnya bisa diambil.

Setau saya juga pengambilannya tidak berbelit. Tapi karena sudah tersebar dengan judul investasi bodong. Rusaklah nama baik si ustadz. Kecuali ustadznya kabur ke luar negeri atau mempersulit pengembalian uangnya sih silakan difitnah terus. Ini si ustadz sendiri bahkan minta tolong diberitahukan kepada investor2 lain yang mau menarik dananya. Emang ada kriminal kayak gitu?

Sudah lelah rasanya melihat oknum2 muslim perusak citra Agama seperti si ibu bodok dan bapak bodok ini. Dulu ceramah Rhoma Irama yang memang tertulis dalam Al quran malah dilaporkan k polisi oleh seorang oknum bapak bodok juga. Kemudian kasus Buni Yani. Sekarang ustadz satu ini mau difitnah habis2an gara2 oknum bapak bodok lainnya.

Lainkali selidiki dulu sebelum berkata. Timbang dulu. Investigasi dl. Jangan mentang2 dia ustadz dan ente manusia rakus tamak, lalu menjadikan si ustadz sasaran empuk untuk difitnah.

Tolong kabari saya betapa besarnya dosa bapak bodok setelah menyebar fitnah terhadap ustadz yang satu ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...