Langsung ke konten utama

Persekusi Versi Siapa?

Tak heran masyarakat makin geram. Seorang dokter yang MEMANCING RIBUT di media sosial malah di blow up oleh media sebagai korban. Persis kasus tokoh kafir Jakarta sebelumnya. Pertama2 bertindak sok jago petantang petenteng ngomentari sesuatu di ruang publik, kemudian ambil posisi jadi korban ketika sadar sudah bikin rusuh dan menyakiti hati masyarakat. Dengan kata lain : petantang petenteng dulu, playing victim kemudian, ketika ternyata salah memprediksi kekuatan lawan.

Ketika si dokter sudah "kalah jumlah", sama seperti kasus tokoh kafir Jakarta dulu, dimunculkanlah tuduhan "persekusi". Sebagaimana kata "hoax" diangkat oleh seorang pejabat demi menambah amunisi untuk membela tokoh kafir Jakarta mati2an. Padahal "hoax" sudah ada sejak lama dan dilakukan oleh pihak pendukung si tokoh kafir juga. Tapi seolah2 muslimlah yang mencetuskan "hoax".

Persekusi pun bukanlah hal baru di media sosial. Status saya di media sosial saja pernah "diserbu" nonmuslim. Lalu kenapa diangkat tinggi oleh media anti Islam, setelah tahu korbannya adalah teman seperjuangan mereka? Kenapa waktu Jonru dicacimaki dulu si media anti Islam tidak menggunakan kata PERSEKUSI? Pantas saja teman2 saya beranggapan bahwa si TV Biru anti Islam. Toh tindak tanduknya memang berat sebelah.

Lalu apa namanya tindakan pemerintah yang menangkapi orang2 yang menulis sesuatu yang tidak sependapat dengan pemerintah? Bukankah cuma penghinaan terhadap negara yang jadi pidana? Kok kapolri tiba2 setingkat dengan presiden dengan tidak boleh dibahas di medsos? Bukankah tindakan pemerintah bisa dianggap persekusi juga?

Sampai berapa kali harus saya bilang. Kalau pakai topeng, pakailah dengan baik. Jangan marah2 waktu topeng anda terbuka lebar dan anda ketahuan.

Percuma melakukan TES PASAR ala si dokter melulu. Yang rugi anda sendiri. Kalau anda nonton film2 mafia, mereka saja geram dengan anggotanya yang terlalu sering mengekspos kegiatan mereka. Biasanya si anggota dihabisi diam2 demi menjaga kesenyapan organisasi mereka.
Mustinya orang2 seperti si dokter yang anda gebuk, Pak Jokowi. Tindak tanduk pemerintah yang terus membela si dokter atas dasar sejalan pemikiran, dengan segala cara, justru malah "cost"nya terlalu besar. Lihat saja nanti 2019 kalau tidak percaya.

Toh si dokter yang memang ingin tenar dengan "melawan arus" sambil TES PASAR. Justru hasil tes pasar ini yang harus anda fikirkan. Si dokternya mah : makan tuh akibat perbuatan sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masalah Itu Gara2 Ulah Manusia Sendiri

Judul artikel ini merujuk pada ayat Al Quran. Tapi kenyataannya memang demikian. Beberapa masalah yang akhir2 ini diributkan orang justru penyebabnya mereka sendiri. Maraknya begal dan pembunuhan. Lah udah disuruh hukum potong tangan, hukum mati jika si begal membunuh, dilakukan di depan umum supaya ada efek jera, eh malah ga dikerjakan. Jadilah begal2 itu residivis kambuhan. Bukannya masyarakat yang dilindungi, justru si begal yang terlindungi dari hukuman berat. Susahnya cari tanah kuburan. Lah udah dibilang sama Rasulullah kuburan seorang muslim itu cuma tanah aja, ga pake pertanda apa2, apalagi sampai dibikinin nisan+bangunan di atasnya. Tapi ya kok tetap pada ngeyel? Pembangunan tidak merata. Lah udah dibilang bikin bangunan atau rumah ga boleh menghalangi matahari ke rumah tetangga, ini malah berlomba bangun pencakar langit. Jadinya? Ya numpuk di Jakarta. Mau ngeluh banjir? Macet? Ngeyel sih. Pelecehen seksual merajalela. Lah udah diajarin syarat nikah itu suka sama ...

5 Juli

Nayla datang untuk kontrol terakhir sebelum pernikahannya. Ia mengenakan dress putih. Cantik sekali. Katanya, ia ingin senyum terbaik di hari bahagianya. “Terima kasih, Dok. Kamu selalu sabar.” Aku ingin memeluknya, atau sekadar bilang jangan pergi… Tapi aku hanya berkata, “Senyummu… sudah sempurna sejak pertama kali kamu datang, Nay.” Itu hari terakhir aku melihatnya secara langsung.

KFC atau McD atau A&W?

Sebetulnya masih banyak ayam2 lainnya. Tapi semuanya saya kerucutkan menjadi 3 merek di atas. Dari ketiganya, saya pilih A&W.  Dulu pertama kali nyoba A&W itu bareng sepupu. Pesan paket dengan rootbeer yang bikin sepupu nanya : Assep minum bir? Ya namanya rootbeer tp isinya bukan minuman haram itu. InsyaAllah ga memabukan. Kayak soda biasa aja. Maksudnya jenia minumannya. Kalau rasanya.....hmmm unik. Mungkin lantaran di booth fastfood lain sudah pakai cocacola atau pepsi yang rasanya hampir2 mirip, jadinya pas nyobain rootbeer A&W berasa beda banget.  A&W itu rasa ayamnya unik. Entah kenapa bumbunya yang beda dengan yang lain menjadikan rasa ayamnya lebih asik di lidah. Mau yg original atau pun yang hot alias lebih pedas tidak membosankan. Tapi ini berlaku di jawa saja ya. Saya trauma nyobain A&W kalimantan timur. Soalnya rasanya beda. Semua kenangan saya akan rasa A&W jadi rusak di sana. Kalau dari segi harga, memang lebih mahal dibanding yang lain. Ma...