Masih tentang prasangka dan perasaan lebih dari orang lain.
Seorang dokter atau katakanlah pengusaha junior yang baru datang di kota A langsung melejit, sukses, mendahului seniornya yang lebih dahulu mengadu peruntunga di kota A.
Ketika berpapasan, si junior tak mengucapkan kata apapun, hanya melihat, tapi tak menyapa. Si senior heran : "Tidak sopannya" karena itu terjadi beberapa kali, maka itulah kesimpulannya.
Mungkin sebagian kita akan memelintir dengan alasan : kenapa si senior tidak menyapa duluan? Si senior sombong. Tapi : "kenapa juga kalau junior tidak mau memulai?" Akhirnya bagai mana duluan ayam dan telur.
Tapi, kembali ke urusan prasangka tadi. Benih kesombongan membumbui insiden tadi. Akibatnya :"Ya Allah, saking irinya dia pada kesuksesanku, seniorku itu sampai tidak mau menyapaku lagi."
Padahal masalah yang dirasakan si senior hanya perihal kesopanan, bukan yang lain.
Atau ada pengusaha yang memberikan kliennya, pelanggannya pada pengusaha lain, lalu mempromosikannya : "saking baiknya saya, pelanggan saya saya berikan pada dia, supaya dia tahu kalau hidup itu bukan soal persaingan." Jengjengjeng....
Padahal dia sendiri yang sedang bersikap negatif. Mungkin si pengusaha lain itu justru tidak berfikir apa2 tentang dia. Itulah jebakan kesuksesan, keberhasilan. Membuat diri gampang merasa GR dan BAPER.
Hikmah pentingnya : hidup itu bukan perihal GR dan BAPER. Tapi bagaimana menanggapi setiap peristiwa dengan sikap terbaik, positif. Yang akan diuntungkan bukan siapa yang merasa lebih baik, melainkan siapa yang berprasangka terbaik.
Seorang dokter atau katakanlah pengusaha junior yang baru datang di kota A langsung melejit, sukses, mendahului seniornya yang lebih dahulu mengadu peruntunga di kota A.
Ketika berpapasan, si junior tak mengucapkan kata apapun, hanya melihat, tapi tak menyapa. Si senior heran : "Tidak sopannya" karena itu terjadi beberapa kali, maka itulah kesimpulannya.
Mungkin sebagian kita akan memelintir dengan alasan : kenapa si senior tidak menyapa duluan? Si senior sombong. Tapi : "kenapa juga kalau junior tidak mau memulai?" Akhirnya bagai mana duluan ayam dan telur.
Tapi, kembali ke urusan prasangka tadi. Benih kesombongan membumbui insiden tadi. Akibatnya :"Ya Allah, saking irinya dia pada kesuksesanku, seniorku itu sampai tidak mau menyapaku lagi."
Padahal masalah yang dirasakan si senior hanya perihal kesopanan, bukan yang lain.
Atau ada pengusaha yang memberikan kliennya, pelanggannya pada pengusaha lain, lalu mempromosikannya : "saking baiknya saya, pelanggan saya saya berikan pada dia, supaya dia tahu kalau hidup itu bukan soal persaingan." Jengjengjeng....
Padahal dia sendiri yang sedang bersikap negatif. Mungkin si pengusaha lain itu justru tidak berfikir apa2 tentang dia. Itulah jebakan kesuksesan, keberhasilan. Membuat diri gampang merasa GR dan BAPER.
Hikmah pentingnya : hidup itu bukan perihal GR dan BAPER. Tapi bagaimana menanggapi setiap peristiwa dengan sikap terbaik, positif. Yang akan diuntungkan bukan siapa yang merasa lebih baik, melainkan siapa yang berprasangka terbaik.
Komentar
Posting Komentar