Langsung ke konten utama
Saya baru baca sebuah artikel dengan kata "konflik Palestina vs Israel" di salah satu situs berita milik "anak dugem".

Saya memang mengelompokan media berdasarkan 3 kelompok, yaitu : baik, anti Islam dan gaul/dugem.
Media yang baik adalah media yang menyajikan berita tentang Islam secara proporsional. Tak harus membela, tapi minimal proporsional lah. Contoh paling baik adalah ILC. Mereka memberi porsi yang layak pada semua pihak untuk berbicara.
Media yang anti Islam sering menampilkan berita dari sudut pandang yang menjelekan umat Islam. Citra Islam makin terpuruk. Kalau seandainya mereka punya forum seperti ILC sih asik. Ini tidak. Mereka punya sebuah talkshow yang dipandu oleh wartawati yang katanya hebat. Padahal intinya si wartawati hanya menolak semua alasan si narasumber, bukannya berhasil menggalinya. Di akhir acara pun ada adegan aneh saat si wartawati membacakan kesimpulan dari seluruh acara seenak perutnya. Padahal itu tadi, intinya dia tidak mau mendengar pendapat si narasumber, apalagi bisa menggalinya.

Media ketiga adalah media dugem atau anak gaul. Isinya tayangan2 youtube, acara makan2 dan liburan. Oiya ada komedi juga. Intinya mereka bersenang2. Akibatnya klo ada berita, terasa betul dangkalnya isi kepala mereka. Mungkin karena sibuk hedonisme sepanjang hari. Meski demikian, terlihat niat "baik" mereka dengan tayangan dakwah di pagi hari. Walaupun yaaaaa...itu tadi, ustadz yang dipilih ya yang GAUL atau PELAWAK.

Si media dugem ini juga punya situs berita di internet. Heran saya membaca ulasan mereka. Mereka tampak begitu hati2 dengan kasus yang melibatkan Israel dan Palestina. Kenapa? Entahlah.

Kalo kata orang2 gaul di luar sana, atau mereka yang ingin netral, konflik Palestina Israel bukan masalah agama. Lalu kenapa media gaul ini ketakutan memberi judulnya? Bukankah itu semudah membalik telapak tangan? Karena andai ada yang tersinggung pun, mereka mau apa? Toh yang satu negara miskin tak berdaya, yg satu lagi kecil dan tak punya hubungan diplomatik dg indonesia.
Tapi namanya kebanyakan "ngobat" dan minum, ya si media dugem tetap saja takut.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...