Langsung ke konten utama
Jadi presenter itu harus bisa jurus siku mengibas.

Awalnya cuma terpancing oleh gerakan siku keluar dari salah satu anchor di stasiun tv makan2 punyanya konglomerat indonesia. Entah apa makna gerakan itu, entah keteknya gatal, baju atau jas yang terlalu sempit. Tapi lama2 bukannya menarik, menunjukan kegagahan, keeleganan, malah jadinya kayak orang yg kelebihan populasi bulu ketek.

Apalagi stasiun tv jalan2 ini juga pernah menjagokan anchor-wati yg pinggulnya goyang2 saat bacakan berita. Tp kykny sdh pensiun atau pindah k belakang layar.

Eeeh pas anchor nya ganti ke anchor-wati baru, ternyata jurus siku mengibas ini kembali terjadi.

Eeeeeeeeh lagi, di acara adu masak di tv swasta tertua di Indonesia muncul lagi co host dg jurus siku mengibas ini.

Tampaknya syarat untuk tampil di tv bertambah dengan jurus siku mengibas ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Ada Gigi yang Ditambal Langsung, Ada yang Tidak?

Tidak semua gigi bisa langsung ditambal karena kondisi kerusakan setiap gigi berbeda-beda. Berikut alasan utama kenapa ada yang bisa langsung ditambal dan ada yang tidak: 1. Tingkat Kerusakan Gigi Bisa langsung ditambal: Jika lubang pada gigi masih kecil atau sedang, dan tidak mencapai saraf gigi. Tidak bisa langsung ditambal: Jika lubangnya terlalu dalam, atau sudah mengenai saraf (pulpa), maka harus dilakukan perawatan saluran akar dulu sebelum ditambal. 2. Infeksi atau Nyeri Hebat Gigi yang bernanah, bengkak, atau sakit berdenyut tidak bisa langsung ditambal. Harus diobati dulu infeksinya. Menambal langsung bisa “mengurung” bakteri di dalam, dan itu memperparah kondisi gigi. 3. Kebutuhan Perawatan Lanjutan Dalam beberapa kasus, dokter perlu membersihkan lubang gigi secara bertahap atau dilakukan perawatan saluran akar sebelum tambalan permanen. 4. Struktur Gigi yang Tersisa Kalau kerusakan terlalu besar, tidak cukup kuat hanya ditambal. Bisa jadi perlu dibuat mahkota gigi (crown). J...

19 Oktober 2023

Hari ini aku dapat kabar… Nayla meninggal. Kecelakaan. Dunia seperti ikut berhenti bersamaku. Aku datang ke pemakamannya. Berdiri di antara orang-orang yang mencintainya secara nyata, sedangkan aku? Aku hanya bayang-bayang di sudut kenangan. Tak ada yang tahu, bahkan ia pun tak pernah tahu… aku menyayanginya lebih dari yang bisa kupahami.