Langsung ke konten utama
Miskin itu kadang bukan soal realita, tapi pola pikir.

Banyak orang yang merasa miskin, padahal sebetulnya penghasilannya sudah rata2 atau mungkin di atas rata2. Mereka terjebak dalam pikiran mereka sendiri, persis seperti orang mabuk atau sakau, yang sudah kecanduan dengan candu yang mereka minum secara sengaja maupun tidak.

Salah satu orang dekat saya menganggap penghasilan dirinya dan suaminya, digabung, kecil. Padahal sudah menyentuh angka 5 juta an sebulan. Saya rasa anda pun akan setuju kalau jumlah itu sebetulnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari2 sepasang suami istri dg 1 org anak bukan? Apalagi tak ada beban cicilan rumah lagi (mereka sudah punya). Tapi rupanya pengaruh tv, lingkungan, dan tingkat pendidikan yg rendah, membuat mereka tetap merasa miskin.

Beberapa hal yang menjadi 'penyebab' terus meningkatnya angka kemiskinan sebetulnya adalah:
Pertama, tidak sanggup membeli susu untuk anak. Sebab ini paling sering saya dengar. Rupanya karena iklan tv yang luar biasa gencarnya. Sadar atau tidak, penonton yang rata2 ibu2 rumpi, ga suka acara NATGEO atau DISCOVERY CHANNEL, betul2 yakin kalau anak SGM jauh lebih hebat dalam segala hal ketimbang anak ASI. Padahal, saya sendiri sebagai contoh, minum susu sapi cuma sekali setahun, bisa jadi seperti sekarang, sehat2 saja, dokter gigi lagi. Artinya : kemakan iklan penyebab kemiskinan.

Kedua, kesehatan itu mahal? Kata siapa? Saya paling sering berobat k puskesmas sembuh2 aja kok. Cuma banyak orang kemakan acara gosip di tv+artis2 gengsian. Akibatnya di kepala mereka berobat itu minimal ke SILOAM atau RS di Singapura. Yaiyalah klo berobat k sana tiap hari ga setiap orang sanggup. Tapi masak disebut miskin gara2 itu?

Fakta ini kebongkar waktu Lula Kamal mewawancarai seorang pasien miskin yang sama2 jd bintang tamu di sebuah acara talkshow.

Lula : kenapa ga memeriksakan kehamilan k puskesmas buk?

Pasien yang ngaku miskin : mahal buk

Lula : berapa mintanya?

Pasien yang ngaku miskin : ga tau buk

Lula : lho, ibuk belum pernah k puskesmas?

Pasien yang ngaku miskin : belum buk

Lula : terus tau darimana kalau mahal? Setahu saya lagi ada program bla2 (lulakamal menjelaskan sebuah program puskesmas yang memang juga ada di puskesmas saya dan memang gratis)

Pasien yang ngaku miskin : yaa...kata orang2 sih gitu buk, mahal, jadi saya ga mau ke puskesmas.

Lula : oalah buk2, jangan cuma dengerin omongan orang donk, lgsg buktikan sendiri.

Ketiga, pendidikan itu mahal. Ini sih ada unsur kemakan acara gosip di tv sama kemakan fitnahan atau ngelesan orang2 yg gagal menggapai cita2nya.

Kalo ga masuk sekolah favorit ga mau, akibatnya sekolah favorit jd rebutan, permintaan meningkat. Hukum ekonomi : permintaan tinggi, harga naik. Padahal klo sekolah di sekolah mana pun yang baik2 (artinyasekolahnya ga punya kebiasaan tawuran atau kebiasaan negatiflainnua,sekedar kurang terkenal aja) insyaAllah bisa sukses juga kok.

Klo kedokteran beda kasus lagi. Banyak org yg ga lulus ujian UMPTNnya di kedokteran, akibat otaknya dongo, ternyata akhlaknya juga dongo, akhirnya menyebar fitnah : biaya kuliahnya mahal. Padahal kalau ditanya lagi : emang sudah nyoba ujian UMPTNnya? Pasti jawabnya belum. Lha kok nyebar fitnah duluan?

Keempat, biaya transportasi mahal. Biasanya isu ini muncul waktu mudik. Lagi2 karena hukum supply and demand. Artinya lumrah, kecuali di negara komunis, emang ga akan terjadi kenaikan harga. Lagian mudik kan bukan kewajiban agama, klo situ tetap maksa ya salah sendiri.

Jadi kemiskinan itu bukan gara2 realita, tp kebanyakan karena pola pikir. Oiya tambahan penyebab kemiskinan : ngomongin susahnya hidup sambil ngabisin rokok 3 bungkus sehari. Ngakunya miskin, rokok jalan terus. Sakit lo!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...