Langsung ke konten utama
Standar keimanan orang Islam di Indonesia kadang tidak ditentukan oleh kerajinan ibadahnya. Tapi dari hal lain yang kadang tidak masuk akal. Misalnya ketahanan terhadap suara speaker mesjid atau mushala.

Semakin tahan si muslim terhadap kerasnya suara speaker masjid, makin soleh dia. Makanya banyak muslim yang memilih tidak protes ketika mesjid atau mushala di sebelahnya menyuarakan suara pengajian atau selain azan dengan level kebisingan yang tinggi. Takutnya kalau protes malah dibilang ga saleh, ga beriman.

Kalo jumatan lain lagi. Kita bisa ngetes tingkat kehebatan si khatib dari lama ceramahnya. Khatib yang ceramahnya cuma 10 menit dianggap imannya lemah, kurang saleh. Sementara khatib yang  bisa ceramah sampai 3 jam dianggap sudah pasti masuk surga. Hahaha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Ada Gigi yang Ditambal Langsung, Ada yang Tidak?

Tidak semua gigi bisa langsung ditambal karena kondisi kerusakan setiap gigi berbeda-beda. Berikut alasan utama kenapa ada yang bisa langsung ditambal dan ada yang tidak: 1. Tingkat Kerusakan Gigi Bisa langsung ditambal: Jika lubang pada gigi masih kecil atau sedang, dan tidak mencapai saraf gigi. Tidak bisa langsung ditambal: Jika lubangnya terlalu dalam, atau sudah mengenai saraf (pulpa), maka harus dilakukan perawatan saluran akar dulu sebelum ditambal. 2. Infeksi atau Nyeri Hebat Gigi yang bernanah, bengkak, atau sakit berdenyut tidak bisa langsung ditambal. Harus diobati dulu infeksinya. Menambal langsung bisa “mengurung” bakteri di dalam, dan itu memperparah kondisi gigi. 3. Kebutuhan Perawatan Lanjutan Dalam beberapa kasus, dokter perlu membersihkan lubang gigi secara bertahap atau dilakukan perawatan saluran akar sebelum tambalan permanen. 4. Struktur Gigi yang Tersisa Kalau kerusakan terlalu besar, tidak cukup kuat hanya ditambal. Bisa jadi perlu dibuat mahkota gigi (crown). J...

19 Oktober 2023

Hari ini aku dapat kabar… Nayla meninggal. Kecelakaan. Dunia seperti ikut berhenti bersamaku. Aku datang ke pemakamannya. Berdiri di antara orang-orang yang mencintainya secara nyata, sedangkan aku? Aku hanya bayang-bayang di sudut kenangan. Tak ada yang tahu, bahkan ia pun tak pernah tahu… aku menyayanginya lebih dari yang bisa kupahami.