Gw pikir manusia manapun di dunia ini bakal mentingin
kesehatannya daripada apapun. Ternyata gw salah. Beberapa manusia lebih mentingin
kemenangan dalam olahraga, kecantikan atau pekerjaan.
Waktu di puskesmas ada pasien gw anak SMP.
Datang sama nyokapnya dengan keluhan gigi geraham bawah sakit. Gw saranin
ditambal. Eh si nyokap minta cabut aja. Alasannya si anak mau ikut PORSENI,
nanti mengganggu dia waktu lomba. Langsung gw hipertensi, ‘Jadi pertandingan
lebih penting daripada gigi anak ibu?’
Betapa rendahnya beliau memandang kenikmatan
sebuah gigi asli buatan Allah.
Kalau di praktek seringnya soal penampilan.
Banyak pasien yang giginya rempil dikit udah minta cabut, diganti gigi palsu. Enteng
banget ngomongnya, kayak makan kerupuk. Alasannya, kalau tambalan ntar lepas
lagi n sakit lagi. Padahal baru rempil 10%.
Pasien cabut biasanya keberatan sama kapas yang
harus digigit abis pencabutan. Padahal fungsinya kan buat mengendalikan perdarahan
setelah cabut gigi.
Kalau anak kecil kasusnya lain lagi. Anak kecil
atau balita dibawa ortunya dengan keluhan gigi depan keropos. Biasanya pas baca
di kolom usia masih balita, muka gw langsung berubah jadi Voldemort. Biasanya
ngomong ga terlalu jelas karena gigi mengatup, atau minimal otot pipi
mengencang. Soalnya anak seumuran ini kesehatannya kan urusan ortu. Klo mereka
sakit, biasanya ortu yang ga cakap menjaga. Sering gw minta jangan dikasi susu
dot lagi sebelum tidur, bukan seumur hidup, SEBELUM TIDUR. Tapi alasan ortunya
yang bikin hipertensi,
‘Nangis terus dia dok kalo ga dikasi susu.’
Ya itulah fenomena yang menyebabkan anak2
milenial jadi sakit mental dan menganggap orangtua sebagai pembantu mereka.
Soalnya sejak kecil ortu bukannya menunjukan apa yang baik buat anak mereka,
malah Cuma memberikan sesuatu agar anaknya tidak rewel, meski itu buruk buat
anak mereka kelak.
Komentar
Posting Komentar