Maju mundur saya mau nuliskan ini. Sudah sejak beberapa hari lalu. Takutnya gara2 emosi semata, melihat maling teriak maling. Dia yang bikin masalah kesehatan ditarik ke politik, eeeh malah nuduh orang lain. Tapi karena makin banyak saja orang yang tidak punya latar belakang medis yang berani menyebar tulisan tentang corona. Nampaknya gak ada pilihan lain.
Sebelum saya menuliskan ini. Saya ijin menyampaikan disclaimer dulu. Saya seorang tenaga medis, tapi bukan virolog. Jadi tulisan saya boleh dikritik, karena saya bukan virolog, atau expert di bidang corona. Asal pengkritiknya seorang virolog. Jadi dalam membaca tulisan saya jangan pakai kebencian anda pada muslim, 212 atau Anies Baswedan.
Saya menulis ini karena dorongan hati. Saya menyadari tak punya kemampuan menulis yang bagus. Tapi niatnya membantu orang lain agar tidak salah paham membaca tulisan orang lain yang sebenarnya bukan virolog, tapi malah ngotot menyebar info yang salah tentang corona. Maka saya menulis, agar kemudian kita memahami jalan keluar dari kabut gelap ini.
Agar kita bisa memahami tentang pilihan sulit ini, ijinkan saya membahas tentang apa yang dilakukan Wuhan, Korsel dan Italia. Versus dengan apa yang dilakukan Iran.
Di Wuhan dan Italia, skenario Lockdown terbukti berhasil. Karena memang warganya dan pemerintahnya tegas dan jelas.
Warganya paham bahwa pilihan lockdown adalah pilihan terbaik di antara yang buruk. Warganya teredukasi. Patriotismenya pun di atas uang. Jadi mereka paham lockdown akan menimbulkan korban dan kerugian, tapi jauh lebih sedikit daripada tidak lockdown. Pemerintah pun mengkomunikasikan masalah ini dengan jelas kepada masyarakat. Bukan malah menariknya ke politik.
Beda kayak di negeri ini, masih ada yang dendam soal pilkada DKI. Mereka yang dendam ini adalah penguasa medsos. Akibatnya sulit untuk masyarakat Indonesia yang terkenal hobi mengakses medsos untuk mendapat informasi yang netral, tidak punya tendensi apa2.
Pemerintah Cina dan Italia juga efisien dengan sumber dana. Bukannya bayar buzzer untuk kasus corona, mereka fokus pada penanganan corona, ngasih bantuan, dan menjaga suplai pangan.
Indonesia sebaliknya, habis2an untuk meredam informasi corona, ketimbang sigap mencegahnya.
Konsep lockdown ini seperti "menghapus file". Anda seperti pukul nyamuk satu-satu.
Virus ini makhluk yang butuh inang. Butuh reservoir untuk hidup. Butuh agen. Butuh nempel di makhluk hidup agar dia bisa eksis.
Maka virus tanpa inang akan mati. Tanpa menempel di inang ia akan selesai. Begitu teorinya. Waktu bertahan tanpa inang berbeda pendapat antar ilmuwan.
Wuhan, Italia, menerapkan pola ini : virus pada manusia dipaksa mati dengan anti bodi. Virus di luar tubuh manusia dibiarkan mati, hilang, atau dibersihkan.
Yang positif di isolasi. Yang sakit berat di rawat.
Yang nampak tidak bergejala juga di test massal. Untuk dicari yang positif yang mana. Begitu positif, di isolasi lagi.
Kenapa? Karena menjadi carrier tanpa gejala inilah yang menjadi biang gak selesainya sebaran kasus.
Maka Wuhan dan Italia sangat ketat dengan lockdown.
Tapi lockdownnya bukannya air , LPG dan barang2 ga bisa keluar masuk. Hanya lalu lintasnya diperketat, disemprot disinfektan, seperti jam malam.
Kalo korsel beda lagi. Mereka tidak lockdown, tapi melakukan rapid test segera. Mirip Jepang.
Mereka tahan semua orang didalam rumah. Karena andai yang didalam rumah gak ditest, virus akan mengalami masa inkubasi hingga 14 hari. Bakal mati sendiri. Apalagi Wuhan menjalani lockdown 2 bulan.
Wuhan secara strategi sebenarnya menahan interaksi sosial. Lalu membiarkan yang sebenarnya positif walau tidak dites memiliki antibodi dengan sendirinya.
Begitu juga yang dilakukan di Italia. Di lock. Diberesin satu demi satu. Hingga targetnya zero casses per day seperti Wuhan.
Secara garis bessr begitu. Hingga Wuhan hari ini memulangkan dokter-dokternya. Menutup rumah sakit darurat. Dan sudah 3 hari ini zero case covid-19. Mereka sudah statement menang atas corona.
Strateginya begitu. Total lockdown. Semua di isolasi di rumah. Disiplin.
Rumus ini akan buyar kalo yang satu nau di isolasi sementara yang lain masih keluyuran. Bubar dah skema lockdown.
Sekarang kita ke negeri ini, kita buka mata dan hati ya. Saya sampaikan ini murni pendapat atas masalah kemanusiaan. Sentimen politik kita bahas nanti. Bukan saatnya.
Ramai di linimasa ini, sahabat dominan menyerukan jangan lockdown. Menganggap bahwa skenario Wuhan dan Italia tidak bisa kita lakukan.
Dari apa yang saya lihat hari ini - semoga saya salah - Total Lockdown bukan skenario yang dilakukan di negara kita. Tapi anehnya rapid test pun tidak. Jadi lebih parah dibanding negara2 di atas. Mungkin ada yang sering ikut ceramah motivasi. Mereka yang gagal kadang bukan mereka yang salah pilih. Tapi justru mereka yang setengah setengah dengan pilihannya, atau bahkan kebingungan tidak memilih tindakan apa2.
Makanya masyarakatnya juga ikut bingung. Disuruh santai menghadapi corona, tapi waktu ada yang liburan dinyinyirin.
Menolak lockdown, tapi waktu ada yang pulang kampung malah dinyinyirin. Jadi maunya apa sebetulnya?
Katanya petugas kita tidak cukup untuk mengatasi lockdown. Whaaaaat? Berarti selama ini negara kita dalam ancaman sepanjang waktu donk? Kalau kelemahan ini dibaca pihak asing gimana? "Polisi Indonesia tidak sanggup mengendalikan Jakarta". Wow. Bisa menang WO mereka yang berniat menjajah Indonesia lagi. Pantas di Papua beritanya polisi dibunuh terus.
Tapi memang bukan kali ini saja pemerintah Indonesia "bunuh diri". Dulu waktu ada N250, dihancurkan. Ada yang bisa bikin mobil listrik, dicuekin. Dan bukan sesuatu yang asing lagi kalau pemerintah berkata "kita belum bisa". Itu kata2 wajib daei pejabat Indonesia untuk membunuh kemampuan warganya.
Di Italia, polisinya tegas, mondar-mandir, yang keluar tanpa keperluan ditegur. Cek aja linimasa. Banyak beritanya.
Itu aja sudah pake polisi, terjadi puluhan ribu pelanggaran. Masih aja keluar. Apalagi kalau hanya himbauan seperti Indonesia?
Belum lagi, di Wuhan dan Italia, mereka punya solusi, kalo diam di rumah, stay at home, work for home, makan mereka terjamin. Di Indonesia pun bisa. Ada gojek. Dan orang Indonesia itu kreatif kok. Berhentilah membunuh kemampuan warga indonesia.
Saya cuma ingin buka mata kita semua. Lockdown kayak Wuhan dan Itali, untuk negeri dengan sosio kultur kayak Indonesia. Sangat bisa dilakukan. Asal jangan dibawa ke politik. Biasa, politik kan bahan jualannya "membantu wong cilik". Padahal uang yang mereka dapat dari tetap berjualan selama kasus corona nanti tidak akan sebanding dengan jika mereka setuju dengan lockdown.
Rame kan di berita, udah jelas jadi suspect, malah bantu-bantu nikahan tetangga. Ditelpon sama dinkes untuk ngontrol, malah ngakunya di rumah, padahal jalan-jalan. Itu kalau pemerintah tidak tegas melakukan lockdown, minimal untuk Jakarta.
Nampaknya hanya resiko sosial saja yang ada di fikiran Pak Jokowi. Resiko pertambahan korban corona dan kebutuhan dana yang tak akan sebanding dengan pendapatan selama tidak melakukan lockdown, luput dari pandangannya.
Setidaknya lakukanlah rapid test seperti di korsel. Mungkin akan ada efeknya meski tidak di lockdown. Tapi kalau lockdown tidak, rapid test pun ragu2, mau kemana?
Maka bisa dilihat di Iran. Mereka masih terus aktivitas. Adanya yang terjangkit covid-19 dan sakit berat, ya makin bertambah. Nanti saya jelaskan di tulisan berikut, kenapa Iran begitu. Meskipun Iran juga bertindak brilian dengan mendirikan pabrik masker dan disinfektan baru untuk melawan corona. Hal yang juga tidak ditiru Indonesia.
Jadi lockdown ogah, rapid test lelet, bikin pabrik ga mau. Jadi maunya apa? Nungguin presiden positif corona?
Belum lagi dengan slowdown nya Jakarta. Dan status Jakarta menjadi episenter pendemi. Membuat banyak warga jabodetabek mudik ke kampung halaman.
Panah-panah merah sudah menyebar ke daerah. Ini seperti anak-anak muda Lombardi yang mudik ke Italia selatan. Persis.
Intinya karena skenario lockdown tidak dilakukan. Tapi juga tidak melakukan tindakan lain.
Lalu bagaimana kira2 pikiran mereka yang anti lockdown dalam mengakhiri wabah ini?
Satu dua expert sudah mulai bicara. Walau malu-malu. Kecuali menteri pertahanan Israel yang pada akhirnya bicara tentang ini juga : Herd Immunity. Termasuk PM Inggris Pak Borris.
Begini,
Virus yang menjangkiti tubuh akan diserang oleh antibodi ini. Inilah tafakur mendalam kita hari ini, antibodi kita menyusun bahan baku serangan untuk virus covid-19. Khusus untuk si dia saja.
Maka muncul angka 14 harian, atau lebih, dimana antibodi kita menyusun serangan ke covid. Hingga antibodi yang khusus dibentuk untuk covid terbentuk.
Maka setelah terbentuk antibodi alami covid, tubuh kita kebal covid. Secara teori, tidak lagi bisa dijangkiti covid-19. Mudah-mudahan teorinya bener.
Nah, Ketika sudah cukup banyak masyarakat yang terjangkiti covid-19, akan terbentuk "sekawanan" manusia yang sudah kebal covid-19. Dan disaat itulah terbentuk namanya Kekebalan Kawanan : Herd Immunity
Tapi ini butuh waktu yang tidak bisa ditebak. Bahkan bisa berbulan2. Bahkan mungkin tahunan.
Ikhtiar lockdown akan memberikan waktu bagi paramedis untuk melayani yang sakit berat. Jangan sampai okupansi rumah sakit gak cukup. Maka jangan sampai yang positif covid dan gejala berat jumlahnya puluhan ribu atas satu waktu.
Teori Herd Community ini berat untuk disampaikan. Karena agak mirip perjudian. Judulnya "teori". Dan untuk mencapai hasilnya mungkin memakan korban yang jauuuuuuuh lebih banyak dibanding jika lockdown dilakukan. Secara ilmiah, 60%-70% masyarakat akan terjangkit. Dan kemudian mayoritas yang bertahan akan membentuk antibodi alami.
Di Wuhan, mungkin gak butuh sampai 60-70 persen. Karena mereka total lockdown. Mereka sampai semprot kota pake disinfektan 2 hari sekali. memang targetnya bunuh virus. Korban tentu ada, tapi akhirnya mereka menemukan Avigan sebagai obat yg efektif melawan corona.
Italia juga nampak cara memeranginya sama. Total Lockdown.
Namun lihatlah Iran, mereka menolak lockdown. Meski demikian mereka brilian dengan mendirikan pabrik disinfektan dan masker baru. Setidaknya ada tindakan jelas memerangi corona. Ini fakta.
Iran mengerahkan mahasiswa dan tenaga medis untuk melakukan rapid test di penjuru negeri. Bahkan menginstruksikan peneliti untuk segera menemukan vaksin untuk corona. Bukan berjudi dengan harapan kemunculan antibodi alami.
Walau skenario perlawanan terhadap corona di negara kita tidak kemana2, melihat kondisi negeri dan perilakunya, inilah yang sebenarnya membuat Indonesia indah. Karena orangnya suka berjudi dan "lihat saja nanti".
Saya secara pribadi berharap, lockdown dan social distancing akan memperlambat penularan, memberikan waktu kepada dunia untuk menemukan obat corona. Tapi tentu tak mungkin ada hasil tanpa pengorbanan.
Sampai di titik ini, Anda pembaca mungkin merasa saya mendoakan yang buruk untuk negeri. Sama sekali tidak. Ini ulasan ilmiah dari studi literatur saja. Bahwa begitulah wabah berakhir. Lockdown solusi terbaik dari yang terburuk.
Bayangkan kalau penjelasan mereka yang anti lockdown tentang pembentukan HERD IMMUNITY terjadi. Mereka bilang indonesia tidak punya dana untuk lockdown, bahkan sekedar jabodetabek pun tak sanggup. Tapi rupanya mereka yakin bahwa indonesia sanggup punya dana untuk membiayai dampak ekonomi jika seluruh populasi indonesia terkena corona. Plinplan kan?
Semoga sampai disini hati tetap dingin dan optimis. Tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan. Dan pilihan terbaik dari yang terburuk, tentu ada "buruk"nya.
Target saya menulis ini adalah... agar kita sebagai anak bangsa bisa cerdas membaca propaganda. Jangan sampai karena mereka benci muslim, 212 dan Anies Baswedan, kita yang rugi.
Lockdown di rumah ini harus menjadikan kita pribadi yang sehat jasmani dan batin. Karena kalau pemerintah tetap gagal bertindak, paparannya cepat atau lambat akan segera datang. Apalagi si covid ini rada bandel, cepet nular.
Makan yang bergizi , perkuat imunitas tubuh, istirahat yang cukup, olahraga gerakkan tubuh, bantu tubuh menyiapkan metabolisme yang optimum, untuk memproduksi antibodi covid secara mandiri.
Untuk urusan ini sudah banyak yang menuliskannya. Saya gak mau nulis ulang. Silakan cari sendiri.
Termasuk persiapan batin, mulailah memaafkan diri sendiri, memaafkan orang lain, saling mendoakan. Kita perlu batin yang sehat untuk masa-masa ekstrim seperti ini
Konsekuensi kedua tanpa lockdown adalah "mayoritas carrier"
Dengan demografi anak negeri yang penuh anak muda. Secara statistik, masyarakat kita akan mengalami gejala ringan di anak muda. Bahkan tak bergejala.
Maka anak muda negeri ini akan dominan menjadi cariier virus.
Ini juga yang harusnya diedukasi mendalam. Bahwa positif covid-19 bukan seperti positif HIV. Ini ada di berita, begitu positif covid-19 malah kabur. Salah faham kayaknya. Butuh diedukasi.
Dengan simpulan ini, saya menyarankan bangun gerakan pisahkan manula dan anak muda. untuk usia 50 tahun keatas, jangan sampai berbaur dengan yang muda.
Pada orang tua, pada masayikh itu terdapat kemuliaan dan kebaikan, kita sangat perlu keberadaan mereka untuk tetap sehat dan mendoakan kita. Mengarahkan. Dan menasehati.
Baca data yang jujur. China 2M populasi, Italia 60 juta Populasi. Angka kematian di Italia sudah melebihi Cina akan covid. Ini karena para manula gak segera dipisahkan dengan yang muda.
Konsekuensi ketiga dari tidak lockdown adalah "Siapkan Fasilitas Medis"
Angka ilmiahnya sudah ada. 60% Terjangkit. Mayoritas tanpa gejala.
20% gejala ringan. Bisa isolasi mandiri.
10% gejala berat yang dimana sepertiganya diprediksi meninggal. Maka muncul angka kematian 3%.
Coba simulasi aja. Gak nakut-nakutin, agar kita bersiap.
Jangan sampai kayak Italia hari ini, kaget gak ada tempat rawat. Karena santai ketika corona datang. Padahal Italia ini negeri yang kesehatan gratis. Kesehatan ini jadi nomor 1 perhatian. Ujian memang. Kita doakan segera berlalu.
Akhirnya sibuk bangun tenda darurat. Sibuk nyari gedung untuk rumah sakit. Full sampe lorong-lorong kepake semua.
Kita jangan sampai kaget di akhir. Mumpung ada waktu, siapin aja dari sekarang.
Jangan nunggu intruksi pemerintah, sediakan aja secara swadaya dari arus bawah. Siapin bangunannnya. Bed nya. Pelan-pelan.
Dengan skenario anti lockdown maka yang akan terpapar 60% populasi, lebih baik mumpung ada waktu kita bersiap. Karena jumlah penduduk kita 4,5 kali Italia. Beneran.
Kalo pendekatan pencegahan/preventif lewat lpckdown gak mau, ya sudah fokus pengobatan dan biayanya.
Pak jokowi katanya impor obatnya. Mungkin menurut beliau dengan itu akan beres semuanya. Semoga.
Wisma Atlet towernya akan dijadikan rumah sakit darurat.
Ada pulau yang disiapkan jadi pulau isolasi. Lah kok kuat dananya? Tapi buat lockdown ga cukup dana?
Arah pemerintah ini nampak bersiap mengobati dan merawat ketimbang melockdown. Karena perhitungannya bisa jadi kita banyak anak muda, memang yang diharapkan antibodi alami anak negeri yang bekerja. Lalu selamatkan yang elder.
Maka konsekuensi ketiga ini perlu kita dalami.
Satu masjid satu rumah sakit darurat.
Pak Erick Tohir saja sudah calling relawan. Oprec relawan secara nasional. Ndak lama lagi akan banyak program wakaf dan infaq alat medis.
Memang ke situ arahnya kalau tanpa lockdown. Virus akan memapar ke mayoritas anak bangsa. Berharap Herd Immunity terbentuk dengan sendirinya.
Yang perlawanan antibodinya tanpa gejala ya alhamdulillah.
Yang sakit ringan-sedang bisa isolasi mandiri di rumah. Semoga rumahnya ada. repot kalo yg gak punya rumah, kamarnya gak cukup, perlu ada rumah isolasi tambahan. Tentunya dana pemerintah. Yang katanya ga cukup buat membiayai orang2 tidak mampu ini saat lockdown.
Yang sakit berat, semoga fasilitas kesehatan kita bisa obati dan tanggulangi.
Dan semoga angka kematian rendah. Angka 8,5% death rate itu karena di kita belum banyak yang test covid. Karena biaya test mandiri itu mahal. Sementara pemerintah menolak melakukan rapid test. Baru belakangan insaf dan menginstruksikan rapid test. Telat tapi baguslah daripada tidak sama sekali.
Tapi meskipun angka death ratenya kecil, yang jelas kita juara satu jumlah kematian. Bukti ada yang salah dalam cara penanganannya. Coba saja nanti mass rapid test. Akan banyak yang positif tanpa gejala. dan death rate akan kecil sekali. Tapi kematian makin menjadi. Angka persentase itu tidak sebanding dengan jumlah nyawa yang hilang.
Panjang ya.. Saya juga sampe keram ini nulisnya. Maaf.
Semoga perjudian Herd Immunity berhasil untuk negeri ini.
Segera kita beraktifitas lagi.
Segera kita belanja lagi ke kaki lima, gerakkan ekonomi UMKM.
Segera kita wisata domestik lagi, lakukan economic transfer antar daerah.
Segera kita produksi apa-apa yang gak di impor lagi. Mumpung negeri orang lagi restart pabrik, mumpung gak ada yang berani ke Indonesia.
Segera kita bangun negeri, dunia lagi de-globalisasi. Sekat-sekar antar negara makin keras dan tebal.
Bagus aja itu mah... Kesempatan kita urus diri kita sendiri. Nanam bawang putih sendiri. Nanam padi sendiri. Bikin baju sendiri. Wassalam import. Ahlan wa sahlan kemandirian negeri.
Tulisan ini adalah bentuk muhasabah keras untuk anak negeri, jika kita tidak bisa se serius Wuhan dan Italia, maka skenarionya akan menuju Herd Immunity dengan alami. Dan pengorbanannya akan sangat besar sekali.
#AllahMahaKuat
#MomenKebangkitanNegeri
#Stopberjudidengannyawa
Komentar
Posting Komentar