Belakangan ini masyarakat menjadi sangat sensitif. Tapi yang menyebalkan bukan itu. Tapi suporter di belakangnya.
Viral seorang bapak ngamuk2 kepada beberapa orang petugas psbb. Ternyata alasannya gara2 si petugas meminta istrinya untuk pindah duduk ke belakang. Sebagai orang normal dan waras, rasanya wajar untuk mengikutinya. Memang di sisi lain wajar juga istri duduk di samping suaminya saat berkendara. Tapi ini semua kan karena protokol covid. Dan si petugas cuma meminta istrinya pindah ke belakang. Lain cerita kalau istrinya disuruh dorong mobil dari belakang atau bahkan pindah mobil. Lain cerita juga kalau si petugas minta istrinya goyang india.
Pantas juga si bapak marah atau emosi, tapi mungkin sebagai orang normal dan waras emosinya itu cuma disampaikan sekali dan bukan teriak2 seperti orang gila.
Suporter yang mendukungnya pun berteriak di sosial media mendukung si bapak. Masih tidak aneh. Tapi kemudian ikut membully orang yang menyayangkan sikap si bapak. Alasannya "si bapak memuliakan istrinya.." Benarkah? Memuliakan atau Mempermalukan? Gimana gak malu. Persoalan sepele yang bisa diselesaikan dengan membuka pintu mobil lalu pindah duduk ke belakang menjadi seolah disuruh cerai di tengah jalan. Lagian kalau memuliakan justru dia akan memindahkan istrinya ke belakang. Karena kalau si komentator pernah naik mobil, tentunya mereka tahu bahwa dia yang duduk di belakang lebih dimuliakan daripada dia yang di depan/supir.
"Tidak boleh mematuhi perintah yang mengandung maksiat." Alasan lainnya. Maksiatnya di mana? Toh si petugas minta istrinya pindah bukan minta dia melepaskan pakaian di tengah jalan. Lagipula kalau komentator yang pro si bapak betul2 paham agama, perintah penguasa yang boleh dilawan cuma 1, yaitu ketika dia sudah melarang shalat. Apakah petugas psbb melarang shalat?
Jadi rasanya ada benarnya pernyataan ketua BPIP yang sempat kontroversial dulu. Tapi dia salah menggunakan kata2. Harusnya :" musuh kemanusiaan adalah orang dungu yang beragama."
Ya, dari kesimpulan2 di atas rasanya cukup jelas kalau tidak ada unsur "kepatuhan pada agama" yang dilakukan si bapak. Tapi karena dalam amukannya dia meneriakan hal2 yang berbau agama, maka suporter yang dungu ikut membelanya.
Sebetulnya beliau sudah memenuhi unsur penistaan terhadap agama. Yaitu menuduh agamanya mengajarkan hal itu. Padahal agama dan Allah tidak pernah mengajarkannya bertingkah seperti orang gila. Sama dengan penistaan. Tapi biarlah nanti pengadilan akhirat yang membahas hal tersebut.
Dan benar saja. Setelah kejadian si bapak, banyak kasus berikutnya yang senada. Ada anak muda yang katanya buru2 tidak pakai masker, lalu memukul petugas psbb yang menegurnya. Ada polisi yang ngamuk tidak mau pakai masker ketika ditegur. Ada suami yang jelas2 istrinya tidak pakai masker pun ikut ngamuk ketika ditegur.
Jadi ingat zaman PKI dulu. Komunis berjaya karena dikit2 ngomong soal membela si miskin..........tapi boong. Malah komunis memaksa orang miskin tetap miskin, seperti di korea utara.
Daaaan.. zaman sekarang, orang begitu gampang tertipu oleh oknum yang dikit2 bawa kata "Allah" atau "agama". Mereka rela mati2an membela para pelaku ini, yang sebetulnya justru jauh dari nilai agama.
Ya kalau ketemu lagi dengan kasus ini sebaiknya perlu diingat......yang waras ngalah aja 😊
Komentar
Posting Komentar