Langsung ke konten utama

Kapan Bayimu Sebaiknya Mulai ke Dokter Gigi?

Kamu baru saja memperhatikan gigi pertama anakmu mencuat keluar dari gusinya. Apakah itu berarti saatnya untuk membawanya ke dokter gigi? Bisa jadi

Tidak semua ahli sepakat soal kapan sebaiknya pertama kali ke dokter gigi. Tetapi American Academy of Pediatric Dentistry merekomendasikan bahwa kunjungan dokter gigi pertama dilakukan ketika gigi pertama anak itu muncul, biasanya antara usia enam bulan sampai satu tahun.

Kunjungan dokter gigi pertama biasanya sangat sederhana, terdiri dari pemeriksaan untuk pertumbuhan dan perkembangan gigi normal, pemeriksaan gigi berlubang, dan banyak informasi untuk keluarga tentang pencegahan gigi berlubang.

Ini termasuk informasi tentang diet dan nutrisi, penggunaan pasta gigi berfluoridasi, dan mencegah bakteri yang menyebabkan gigi berlubang dari orang tua ke anak. Lapisan fluoride dapat diaplikasikan pada gigi anak untuk mencegah gigi berlubang.

Pada kunjungan ini, dokter gigi akan menjelaskan teknik menyikat gigi dan flossing yang tepat (kamu perlu benang gigi setelah bayimu memiliki dua gigi yang berdekatan) dan melakukan pemeriksaan gigi bayimu sambil duduk di pangkuanmu.

Kunjungan-kunjungan awal ini juga membantu anakmu mengenal dokter gigi. Sehingga ia tidak akan takut pergi ke dokter gigi lagi ketika ia semakin besar.

Seringkali, rontgen dan pembersihan karang gigi bisa ditunda sampai anak lebih besar.

Sangat penting untuk mulai mengunjungi dokter gigi bahkan untuk gigi bayi. Gigi tidak hanya membantu anak-anak berbicara dengan jelas dan mengunyah secara alami. Gigi juga membantu menciptakan jalur yang dapat diikuti oleh gigi permanen ketika siap untuk tumbuh menggantikan si sulung (susu). Lubang pada gigi bayi juga terkadang dapat mempengaruhi perkembangan gigi permanennya nanti.

Jangan lupa bahwa bayimu membutuhkan lebih dari hanya sekedar kunjungan ke dokter gigi untuk memiliki mulut yang sehat. Sikatlah gigi anakmu setidaknya dua kali sehari. Hindari minuman atau jus bergula. Jangan gunakan botol dot sebelum tidur, dan beri makan bayimu makanan sehat rendah gula.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...