Langsung ke konten utama

Mudahnya Alay, Anak Dugem dan Cabe2an Termakan Isu

Ada tokoh alay yang menulis bahwa bantuan yg diberikan saat PSBB adalah junk food. Kemudian tulisan itu diberi ilustrasi, entah oleh si empunya pendapat, atau si empunya kanal berita, sebungkus mie instan.

Junk food, kalau diterjemahkan menjadi makanan sampah. Sebetulnya sebuah hinaan terhadap makanan. Jadi tak perlu jauh2, sebagai muslim anda seharusnya sudah menghindari menjuluki makanan sebagai junk food. Meskipun seorang dokter yang "islami" terus menggunakan istilah ini dalam ceramahnya. 

Tapi kemudian saya tidak ingin berhenti di situ. Setelah saya perhatikan, mereka di Amerika sana, yang sering mengeluarkan istilah junkfood adalah para orang ternama, baik di bidang kuliner maupun bidang lain. 

Sebagian tokoh publik kemudian mengatakan bahwa junk food itu dinamakan begitu karena tidak sehat dan begini dan begitu. Lalu kita alihkan pandangan pada kata "makanan sehat". Siapa sih yang sering ceramah dan menggunakan istilah "makanan sehat" ini? Mereka artis, atau tukang bangunan? Kerja di lapangan atau banyak duduk di depan komputer?

Akhirnya suatu hari saat menonton youtube, munculah sebuah menu bernama "garbage plate". Kalau diterjemahkan ya kurang lebih "sampah" lagi. Kemudian ditanyakan kepada si pembuatnya, ternyata dinamakan demikian karena semuanya masuk. Daging masuk, lemak masuk, kentang masuk, semuanya dipotong kecil dan dimasukan ke dalam satu kuali besar. Daaaan kata kunci yang paling penting di telinga saya saat itu adalah "orang miskin". Ya mereka yg sangat lapar dan ingin makan puas pasti memesan masakan itu. Dan itu di Amerika. Jadi dari penamaan2 ini jelaslah bahwa junk food juga kemungkinan karena menganggap sampah sebuah makanan.

Apakah benar fastfood itu sampah? Kata siapa? Dia diolah dengan bersih, dan enak. Ooh bisa menyebabkan kanker ini karena dimasak dengan minyak ini dan itu......nenekmu juga masak dengan minyak ini dan itu. 
Oooh bisa menyebabkan kegemukan dan ini dan itu. Makanya jangan tanya ke artis seksi yang harus menjaga bentuk tubuh tidak melebihi sebesar lidi. Cobalah tanya kebutuhan kalori seorang tukang bangunan atau petani dalam sehari. 
Oooh gizinya kurang......cobalah makan bayam saja sepanjang hari, saya jamin 100 persen pasti anda akan kekurangan gizi. 
Jadi bukan karena makan junkfood yang membuat anda kekurangan gizi, melainkan kurangnya variasi makanan. Atau makan salah satu sumber gizi saja terus2an. Tubuh butuh karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Kalau anda cuma makan salah satunya saja, yakinlah anda akan kekurangan gizi. Jadi bukan gara2 junk food.
Mie instan itu bahaya......ya kalau dia bahaya pastilah ada tulisan "Mie instan membunuhmu" di bungkusnya. Pastinya juga tidak akan ada logo halal di bungkusnya. 

Ya....ini semua efek dari media dikuasai oleh alay, anak dugem dan cabe2an. Sense mereka terhadap apa yang terjadi di dunia sangat bebal. Jadinya mereka cuma merekam apa yang mereka dengar......dari lingkungan dugemnya. Mereka tidak tahu soal kebutuhan kalori tukang bangunan, apalagi petani. Sayangnya ya merekalah yang sering tampil dan berkoar di depan kamera. 

Tentu saja makan mie harus disertai dengan kelengkapan gizi lainnya seperti sayuran dan daging. Tapi bukan berarti mienya salah. Kurang lengkap saja. Dan andaikata seorang tukang bangunan banyak makan mie, itu sama sekali tidak salah. Karena mungkin dia butuh karbohidrat yang banyak. Untuk mendukung pekerjaannya yang butuh banyak kalori. 

Ada lagi video penting di Youtube. Seorang binaraga makan sampai ribuan kalori. Artinya dia menghabiskan banyak kalori tiap hari. Dan bandingkan berat badannya dengan tukang bangunan Indonesia. Coba suruh tukang bangunan itu, yang sedang aktif bekerja tentunya, untuk makan menu yang sama dengan binaragawan tersebut. Cobalah dan buktikan kata2 saya.

Jadi berhentilah mencela makanan dengan sebutan junk food. Semua makanan itu selama halal dan seimbang tidaklah buruk. Dan semua makanan pasti akan buruk kalau anda memakannya dengan tidak seimbang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...