Makin lama makin bingung dengan arah negara bingung ini.
Waktu covid 19 merebak semua orang diminta di rumah saja, tapi dia malah ribut soal empati kepada pekerja informal alias pedagang jalanan yang harus keluar rumah untuk mendapatkan rezeki. Jadi sebetulnya nyuruh di rumah saja, atau nyuruh keluar untuk membeli dagangan si penjual?
Waktu covid 19 merebak, semua orang jangan panik. Semua harus santai bae. Tapi waktu orang2 santai dan bahkan sampai menganggap covid19 sebagai hoax, dia malah kelabakan sendiri. Jadi sebetulnya masyarakat harus santai atau panik?
Waktu krisis moneter, dilahirkanlah produk baru berupa LPS. Lembaga Penjamin Simpanan. Supaya masyarakat tidak takut menyimpan uang di bank. Tapi di sisi lain, dia berharap masyarakat dan milenial untuk menjadi entrepreneur, wirausahawan. Mana mungkin orang yang bisa nyimpan uang di bank dengan jaminan tidak akan gimana2, disuruh ngeluarin uang untuk kerja keras membangun usaha. Kan mending dia hidup dari makan bunga? Jadi sebetulnya harus nabung atau bikin usaha?
Waktu pemilu. Demi popularitas, dibentuklah BPJS. Kesehatan gratis. Semua biaya kesehatan ditanggung pemerintah. Dari bahasa awalnya saja sudah rencana gila bin gak masuk akal. Terbukti kemudian ketika mereka akhirnya memangkas jenis penyakit yang bisa ditanggung oleh BPJS. Belum lagi defisit yang terus terjadi. Tapi lucunya, dia meminta masyarakat untuk menjaga kesehatan. Mana mungkin orang yang kalau sakit apapun ditanggung pemerintah akan berhati2 menjaga kesehatan dirinya. Jadi sebetulnya ingin masyarakat lebih sadar hidup sehat, atau mau meraih popularitas dengan memanjakan mereka?
Waktu BUMN merugi. Dia marah2. Padahal waktu harga ini naik, harga itu naik, BUMN disuruh, alias dipaksa menurunkan harga. Padahal perusahaan kalau mau untung ya harus memenangkan persaingan usaha, bukan malah jadi sarana sosial. Jadi bingung, sebetulnya BUMN harus untung, atau harus melayani masyarakat? Mustahil kedua2nya. Kecuali kalau mau untungnya Rp. 1000,- dalam 1 tahun.
Waktu banyak milenial tidak mau jadi petani. Dia malah ikut ribut waktu harga daging dan hasil pertanian naik. Padahal mungkin ada milenial yang tertarik bertani setelah melihat kenaikan harga cabe misalnya. Tapi ketika pemerintah menampar harga hasil tani, tentu saja mereka berubah fikiran. Oooo ternyata pemerintah berniat menjaga petani di seluruh Indonesia tetap miskin. Biar saja saya jadi pegawai kantoran saja. Soalnya kalau mereka teriak daging mahal, bawang mahal dll. pasti harganya langsung digebukin pemerintah. Jadi sebetulnya pengen milenial jadi petani atau pegawai kantoran.
Komentar
Posting Komentar