Langsung ke konten utama

Rasisme di Papua

Beberapa Universitas di Indonesia tampaknya sedang tertarik dengan masalah rasisme. Ya seperti biasanya anak2 muda ini senang dengan kekinian. Dan isu yang kekinian adalah rasisme. Sejak kematian George Floyd yang diduga terjadi karena kekerasan polisi AMERIKA SERIKAT, ribuan orang di AMERIKA SERIKAT mulai sadar untuk melihat ke dalam. Bahwa kenyinyiran mereka selama ini kepada negara lain itu salah. Negara mereka sendiri buruknya tak main2. Tapi tentu kuman di ujung sana keliatan, gajah di pelupuk mata tak kelihatan. 

Daaaan.....n bukan anak muda Indonesia namanya kalau tidak mengimpor sesuatu dari luar padahal kuper di lingkungannya. Contoh gampangnya adalah soal emansipasi. Seorang gadis muda curhat pada teman Belandanya soal kaum wanita indonesia yang begini dan begitu. Padahal di seberang sana Malahayati, Siti Rohana Kudus dkk sudah loncat2an kegirangan dengan berbagai sepak terjang mereka di dunia kerja. Si Belanda tentu saja senang masih ada gadis muda kuper yang tidak tahu kalau wanita indonesia itu lebih baik kondisinya daripada wanita belanda. Jadilah si gadis dielu2kan, padahal gadis indonesia sudah lebih hebat dari gadis di manapun. Tapi anak2 muda indonesia sudah karakternya ingin impor, jadilah tanggapan si belanda dijadikan dasar untuk emansipasi wanita indonesia.

Kemudian soal anak angkat. Di berbagai keluarga yang punya anak angkat, saya temukan bahwa mereka selalu memberitahukan bahwa anak itu adalah anak angkat. Dan buat si anak tidak ada masalah juga. Tapi film AMERIKA SERIKAT selalu menampilkan drama. Ya namanya bukan film kalau tidak ada drama. Jadilah menceritakan status anak angkat menjadi demikian buruknya. Dan anak muda indonesia, bukan anak muda namanya kalau tidak impor. Jadilah beberapa keluarga indonesia main drama juga ala AMERIKA SERIKAT.

Kemudian soal Islam. Ceramah agama diisukan oleh AMERIKA SERIKAT sebagai mempromosikan kekerasan. Tidak boleh didengarkan. Eeeeh.. coba cek saja film2 AMERIKA SERIKAT apakah itu namanya tidak mempromosikan kekerasan?

Sekarang soal Papua. Gara2 AMERIKA SERIKAT rasis, anak muda Indonesia tidak tahan untuk tidak impor. Akhirnya dibukalah diskusi soal rasisme di Papua. Tapi bagus juga diskusi ini. Setidaknya untuk membuka mata anak2 muda alay tentang apa sebetulnya yang terjadi di Papua. Di AMERIKA SERIKAT orang kulit hitam jadi korban kekerasan. Di Papua? 
"Kekurangan pendidikan dan ekonomi itu juga bentuk kekerasan lho..."
Mungkin sebagian anak alay yang mengaku bijak akan berkata demikian. Tapi kalau itu alasannya, tentu semua maling dan rampok akan ikut membela diri. Kami ini maling dan rampok karena menjadi korban diskriminasi. Tentu itu kata mereka jadinya.

Jadi bagus ada diskusi soal rasisme di Papua. Rasanya tidak senang juga mendengar berita mesjid dibakar atau pembantaian perantau di Papua terus2an. Kalau ada rasisme di Papua tolong diungkap seterang2nya. Tapi jangan pakai alasan mereka didiskriminasi secara ekonomi dan pendidikan. Nanti maling2 di penjara ikutan protes karena ditangkap. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...