Langsung ke konten utama

Dokternya Pake Hazmat Gak?

Awal mula ada pasien yang berkomentar soal baju hazmat atau APD lengkap, saya sudah curiga. Pasti ada orang awam yang salah paham atau termakan hoax. Atau salah mengambil kesimpulan saking pusingnya dengan pandemi.

Hoax itu adalah BAJU HAZMAT MEMBUNUH VIRUS. Hampir mirip dengan hoax ada kalung antivirus. Mereka berfikir bahwa dokter yang memakai baju hazmat atau APD lengkap sedang melindungi diri mereka, si pasien, dari virus covid19. Padahal..........boong. 

APD sifatnya melindungi si pemakai dari paparan virus atau kuman dari luar. Setidaknya itu yg saya ketahui dari pendidikan saya sebagai tenaga medis. Saya belum pernah dengar APD sakti yang bisa membuat seluruh ruangan, atau seluruh pasien yang dia pegang menjadi anti covid19, atau membunuh virus tersebut.

Hoax berikutnya adalah dokter yang pakai APD atau hazmat, tidak akan menularkan virus kepada pasiennya. Kembali ke paragraf sebelumnya, APD itu melindungi diri, bukan melindungi orang lain. Jadi kalau si dokter baru berinteraksi dengan penderita covid19, kemudian tidak mengganti APDnya, jangan pikir bahwa virus dari pasien itu tidak akan pindah ke anda. Makanya saya sebetulnya sedikit tersinggung waktu kasir di salah satu mal ternyata menggunakan satu sarung tangan untuk semua pelanggan. Soalnya artinya dia egois ingin melindungi diri sendiri dari covid19, tanpa peduli pelanggan lain akan ikut ketularan. Seharusnya dia menggunakan sarung tangan sekali pakai, kalau memang niatnya menghambat penyebaran covid19. Lebih baik setiap pelanggan diwajibkan saja untuk menggunakan sarung tangan. Itu lebih aman. Setidaknya si kasir tidak akan kena, dan tidak bisa menyebarkan. Kecuali dia sendirilah penderita covid19.

Dari situ seharusnya pasien sudah paham bahwa ketika dokter menggunakan baju hazmat atau APD adalah sedang melindungi diri mereka sendiri. Kecuali, kecuali, si dokter memang sudah dinyatakan positif covid19. Berarti memang dia mencegah covid19 menyebar ke anda. Tapi coba tanya logika anda sendiri. Apakah anda mau datang ke dokter yang sudah positif covid19? Memangnya sebelum memakai APD dia tidak menyentuh benda lain di ruangan itu? Ayyooo jawab. Hehe

Jadi dari hal di atas kesimpulannya adalah.....anda tidak perlu peduli atau bertanya, apakah si dokter pakai APD lengkap atau tidak, karena itu tidak akan berpengaruh pada kesehatan anda. Kalau dia pakai APD lengkap, tapi dipakai untuk melayani semua pasien, dan salah satu pasiennya covid19, anda pasti kena juga. Kecuali APD tadi benar2 digunakan sekali pakai. Andai sekali pakai pun, anda harus bertanya lagi, apakah seluruh ruangan dan alat2 disterilkan ulang saat jeda satu pasien ke pasien berikutnya? 

Rumit kan? Satu lagi, kalau pun anda ingin dokter tadi pakai APD lengkap, lalu kenapa anda merasa tarif cabut 1 gigi 1 juta itu mahal? Memangnya anda pikir APD lengkap harganya sama dengan ketan susu? 

So......mulai dari sekarang, berhentilah melihat kuman di seberang lautan. Cobalah urus gajah anda di pelupuk mata. Artinya tidak perlu bertanya apakah dokter yang melayani anda pakai APD lengkap atau tidak. Itu tidak akan berpengaruh pada anda. Yang perlu anda tanyakan adalah apakah si dokter sehat, atau apakah alat2nya disterilkan sebelum melayani pasien. Mau dokternya pakai APD lengkap, jika pasien sebelumnya covid19, dan dokter tidak ganti APD, anda akan kena juga. 

Kemudian, harga dari keamanan yang anda minta di atas itu tidak semurah ketan susu. Jadi jangan sombong berlagak sanggup bayar berapapun saat bertanya apakah dokternya pakai APD lengkap atau tidak. Padahal ketika biaya tambal gigi 1 gigi 1 juta anda sudah terkencing2. 

Pastikan saja diri anda sudah menerapkan protokol kesehatan covid19 dengan benar. Itu lebih berharga daripada APD selengkap apapun. Apalagi APDnya dipakai orang lain, bukan anda. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...