Dulu pernah ada kasus seorang pembantu dibunuh anjing punya majikannya. Hingga kini, tidak tahu bagaimana ending dari kasus itu. Kalau sudah divonis dengan adil syukur, tapi bukan rahasia lagi kalau di Indonesia banyak kasus berakhir dengan KEKELUARGAAN.
Kalau nilai KEKELUARGAAN di Saudi masih mending, sangat tinggi, bahkan nyaris sebetulnya tidak masuk akal untuk pelaku pembunuhan di sana untuk bisa memenuhi syarat KEKELUARGAAN untuk bisa bebas dari hukuman.
Kalau di Indonesia? Angka jutaan pun sudah sebanding dengan nyawa manusia. Daaaaan.......titik2 pun seakan memaksa dengan halus agar si korban menerima. Mereka ga mau sibuk. Padahal ga mau kerja menegakan keadilan, itu intinya.
Kembali ke tanktop. Banyak pula orang berada yang mulai memelihara binatang2 eksotis. Bahkan sampai menghabiskan jutaan, puluhan juta, hanya demi MEMBERI MAKAN hewan2 tersebut.
Di sisi lain, buaaaanyaaaaak orang lain yang butuh bantuan keuangan. Manusia2 gerobak yang tak punya tempat tinggal.
Sayang binatang memang sebuah kewajiban juga. Tapi rasanya tak ada yg lebih pantas untuk dibantu selain manusia lainnya. Binatang? Allah sudah menjamin rezekinya. Memang kalau ada hewan yang butuh, tentu saja dibantu. Tapi kalau dengan sengaja memelihara hewan langka?
Bukankah ahli hewan juga sering berpidato bahwa mengurung binatang atau memberinya makan secara rutin, akan mematikan insting kebinatangannya? Lalu apa menariknya kalau harimau tak lagi bisa menerkam mangsanya? National Geographic bakal tak menarik lagi donk?
Ya, tapi mungkin orang2 berada itu sudah banyak pahalanya. Dan saking kayanya, dia juga sudah membuat kaya orang2 di sekelilingnya. Tidak ada lagi yang butuh uang dari mereka. Itu sebabnya akhirnya pilihan jatuh pada binatang.
Komentar
Posting Komentar