Langsung ke konten utama

Perbedaan Frappuccino dan Cappuccino

Saat melihat menu, terkadang ada hal-hal yang sedikit membingungkan. Apa perbedaan antara cappuccino dan frappuccino?

1. Cappuccino adalah minuman panas, sedangkan frappuccino adalah minuman dingin
Biasanya cappuccino dihidangkan panas, uapnya mengepul dari hidangan kopi tersebut. Itu karena salah satu bahannya adalah espresso yang didapatkan dengan menggunakan air panas. 

Kemudian ditambahkan susu. Perbandingan espresso 1: 4 dengan susu, dengan sisa cangkirnya diakhiri dengan busa susu. Cangkir standarnya berukuran 150 ml.

Sedangkan frappuccino adalah minuman dingin. Anda akan menemukan campuran batu es yang dihancurkan, kopi, krim kental, susu kental dan mungkin sirup.

Ini semua dicampur sampai menyerupai milkshake. Di atasnya, ada krim kocok yang nikmat dan dingin, biasanya juga ditambahkan sirup.

Perbedaan suhu membuat minuman ini dicicipi dengan cara yang berbeda pula. Kopi panas akan memberi Anda tendangan kafein yang lebih cepat daripada kopi dingin. 

Cappuccino dan frappuccino adalah minuman yang sangat berbeda, tetapi mereka memiliki asal yang sama. Frappuccino dimaksudkan sebagai semacam jawaban untuk keinginan akan adanya cappuccino dingin.

Hanya saja Anda tidak bisa membuat busa susu panas di atas kopi susu dingin. Seperti seni lukis di atas kopi yang dilakukan para barista.

2. Tidak semua frappuccino mengandung kafein.
Banyak frappuccino tidak mengandung kafein. Ini karena frappuccino adalah minuman bebas, dan dapat diubah dengan cara apa pun. Misalnya Anda bisa mendapatkan Matcha frappuccino, dan tidak ada kopi di dalamnya.

Minuman itu memang mengandung kafein, dari bubuk Matcha yang dikandungnya. Tapi itu saja. Untuk kasus strawberry frappuccino (atau minuman lain semacam itu) di mana kopi tidak ditambahkan sama sekali, tidak ada kafein.

Ini bisa menjadi berkah bagi orang-orang yang mencari versi tanpa kafein dari minuman favorit mereka. 

Cappuccino di sisi lain selalu dibuat dengan dasar espresso. Bukan cappuccino namanya jika dibuat dengan cara yang berbeda. 

3. Ada lebih banyak gula dan lemak dalam frappuccino daripada cappuccino
Melihat cara pembuatan cappuccino yang sangat berbeda dari frappuccino, masuk akal bahwa keduanya akan memiliki kalori yang berbeda pada akhirnya.

Segelas espresso, dasar cappuccino, memiliki hampir nol kalori karena hanya sedikit lemak dari kopi yang memberinya kalori.

Lalu ada susu. Ini menambahkan beberapa kalori sendiri, tetapi hanya itu.

Gula tidak wajib, Anda cukup menambahkannya jika mau.

Frappuccino lain cerita. Frappuccino vanilla bean mengandung sekitar 400 kalori, dengan semua krim, susu kental, dan tambahan sirup.

4. Cappuccino adalah minuman khusus, setiap perubahan akan menghasilkan minuman yang berbeda
Ketika membuat cappuccino, ada resep tertentu. Menambahkan lebih banyak susu atau lebih banyak kopi akan menghasilkan minuman yang berbeda.

Jadi ini artinya cappuccino Anda bukan cappuccino jika rasio espresso 1: 4 terhadap susu diabaikan. Mengurangi susu akan menghasilkan espresso macchiato ( espresso 1: 1 susu).

Membuat minuman espresso 1: 2 susu, Anda mendapatkan caffe latte.

Frappuccino di sisi lain jauh lebih fleksibel, dan rasio dapat disesuaikan dengan keinginan Anda. Dan masih bisa disebut frappuccino.

5. Frappuccino dapat dibuat dengan kopi apa pun, cappuccino membutuhkan espresso
Membuat sendiri frappuccino yang dingin dan nikmat tidak selalu membutuhkan mesin espresso. Bahkan tidak membutuhkan kopi.

Satu-satunya yang konstan dalam resep frappuccino adalah es yang dicampur dengan krim kental.

6. Cappuccino lebih kecil dari frappuccino
Cappuccino selalu lebih kecil dari frappuccino. Ini karena cappuccino biasanya dibuat dengan cangkir 150 ml, sedangkan frappuccino adalah minuman dengan gelas 350 ml yang paling kecil.

Ini tidak berarti frappuccino mengandung lebih banyak kafein, kecuali jika Anda secara khusus meminta dua porsi espresso di dalamnya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...