Langsung ke konten utama

Kisah Hidup Ed Sheeran: Bagaimana Seorang Bocah Berambut Pirang yang Sering Di-bully Menjadi Musisi Terbesar di Inggris

Edward Christopher Sheeran lahir pada Februari 1991 di Halifax, Inggris. Dia memiliki satu kakak laki-laki dan orang tuanya menjalankan usaha konsultan seni pada saat itu.

Meskipun harus berjuang dengan sosialisasi di sekolah, dia memiliki minat besar pada musik sejak usia yang sangat muda. Dia menjadi bagian dari paduan suara gereja pada usia 4 tahun dan mulai mengenal gitar. Pada usia 11 tahun dia sudah menulis lagu, yang terinspirasi dari obrolan di belakang panggung dengan Damien Rice (ingat lagu the blower's daughter?). Tidak hanya kecintaannya pada musik yang mulai jelas, tetapi juga bakatnya mulai diperhatikan oleh orang lain di sekitarnya.

“Kecintaan saya pada gitarlah yang pertama kali membuat saya menyukai musik dan menyanyi.” katanya

Ed Sheeran diintimidasi setiap hari di sekolah, terutama karena gagap dan kacamatanya yang besar.

Saat masih kanak2, dia menjalani operasi yang tidak lancar dan menyebabkan masalah di mata dan cara bicaranya. Setiap kali dia mencoba berbicara di kelas, mulutnya akan kelu dan tidak ada kata yang keluar. Anak-anak lain sering mengejeknya tentang ini. Lama kelamaan dia berhenti berpartisipasi dan sama sekali tidak mengangkat tangannya di kelas.

Anehnya, hal itu tidak terjadi dalam hal menyanyi dan membuat musik. Dia menikmati bernyanyi di gereja lokal dan merasa bahwa bermain gitar di kamarnya adalah satu-satunya saat dimana dia merasa memegang kendali.

Rambut merahnya tidak membantu dengan citranya di sekolah. Namun, dia menyadari sejak awal bahwa meskipun pria berambut merah atau pirang itu tidaklah menarik, mereka perlu usaha keras jika ingin mewujudkan sesuatu. Selain itu, dia merasa rambutnya adalah apa yang menyelamatkannya sebagai musisi.

“Menjadi anak berambut pirang bisa terlihat seperti hal yang buruk ketika Anda masih muda. Tapi sebagai musisi itu adalah anugrah saya, karena jika Anda melihat anak berambut pirang di TV dan hanya ada satu anak pirang berambut berantakan yang jago bermain gitar, tentu sangat mudah untuk menemukannya di YouTube. ”

Terapi wicara tidak berjalan dengan baik untuknya dan salah satu ketakutan terbesarnya adalah dia akan seperti itu selama sisa hidupnya. Tetapi banyak hal berubah ketika suatu hari ayahnya membawakannya kaset Eminem. Ed Sheeran kagum dengan seberapa cepat penyanyi itu nge-rap. Ini menginspirasinya dan dia mulai belajar lebih banyak kata baru saat berusia 10 tahun .

Dia juga mulai menulis lebih banyak lagunya sendiri, dan tiba-tiba kegagapannya hilang. Ed tahu musik adalah panggilan jiwanya dan dia harus melakukan sesuatu. Jadi selain bermain gitar dan menulis lagu, dia mulai tampil di beberapa tempat berbeda. Tak butuh waktu lama, dia akhirnya memiliki 12 pertunjukan dalam seminggu. Itu berlangsung selama empat tahun, dan tidak lama kemudian dia sudah mulai merekam CD dan menjualnya.

Pada usia 14 tahun, Ed Sheeran mengambil gitarnya, mengemasi beberapa pakaian, dan pergi ke London untuk secara resmi memulai karir musiknya dan melihat kemana nasib akan membawanya.

Hidup di jalanan itu jauh dari kata mudah. Ketika dia tidak dapat menemukan sofa atau kursi empuk untuk malam itu, dia harus tidur di taman atau di dalam kereta bawah tanah. Dia mengalami malam-malam ketika dia tidak punya uang untuk makan dan seringkali hampir menyerah . Tapi dia tidak melakukannya.

Di London, dia mulai bermain di tempat-tempat kecil, memproduksi lebih banyak lagunya sendiri, merilis album, mengikuti audisi, dan melakukan kolaborasi dengan penyanyi yang dia temui di sepanjang jalan. Dia bermain di lebih dari 300 pertunjukan di tahun 2009 saja.

Lompatan besar terjadi pada tahun 2010, dan meskipun itu tidak akan mungkin terjadi tanpa kerja keras dan semua yang telah dilakukan Ed Sheeran sebelumnya, media sosial membuat kesuksesannya terjadi lebih cepat.

Tidak banyak penyanyi yang memanfaatkan potensi saluran media sosial pada saat itu, tetapi Ed Sheeran dengan cepat melihat (dan memanfaatkan) potensi itu. Dia memposting videonya secara online, dan salah satunya diperhatikan oleh rapper Inggris bernama Example, yang sangat menyukai gayanya dan mengajaknya untuk tur bersama.

Hal itu membantunya semakin meningkatkan kepopuleran online-nya, dan orang-orang di seluruh dunia mulai banyak menonton video YouTube-nya. Segera saja media mulai memperhatikan bocah pirang dengan gitar dan suara yang luar biasa, dan beberapa nama besar dan surat kabar mulai menyebut namanya.

Itu membuat Ed Sheeran mulai bermimpi lebih besar . Dia tahu bahwa jika dia ingin melihat kemajuan besar, dia harus pindah ke Amerika.

Dia pun terbang ke LA tanpa kontrak rekaman atau tempat tinggal.

Dia mulai mengirimkan demonya kepada siapa pun yang dapat dia hubungi, tetapi belum mendapatkan jawaban. Hingga suatu hari, di suatu acara lokal pembawa acara mengundangnya ke atas panggung. Meski deg2an, dia mulai bernyanyi. 12 menit kemudian, dia mendapat tepuk tangan meriah.

Nama pembawa acara itu adalah Jamie Foxx , yang sangat terkesan sehingga kemudian mengizinkan Ed Sheeran menggunakan studio rekamannya. Bukan hanya itu, tetapi dia juga membiarkannya tidur di sofa nyaman selama beberapa minggu.

Setelah mencapai # 2 di iTunes dengan lagu barunya, Ed ditawari bekerja dengan Atlantic Records. Dengan bantuan mereka, dia membuat album debut resminya "+". Album ini dengan cepat terjual 102.000 kopi dan kemudian di tahun itu juga menjadi album debut terlaris kedua di Inggris. Setahun setelah rilis "+", album itu sudah terjual lebih dari satu juta kopi.

Setelah hit instan ini, dia berkolaborasi dengan One Direction dan Taylor Swift. Salah satu lagunya, "I See Fire" , digunakan dalam film The Hobbit.

Album berikutnya, "x", memuat beberapa hit terbesarnya, keluar pada tahun 2014, dan langsung menduduki peringkat # 1 di AS dan Inggris. Berkat itu, pada 2016 ia memenangkan Grammy Award untuk Best Song of The Year.

Kisah hidup Ed Sheeran adalah salah satu kisah inspiratif modern yang dapat mengembalikan harapan pada seniman yang kelaparan dan anak yang tidak populer. Dia suka mengingat fakta bahwa salah satu anak paling keren dari sekolahnya kemudian menjadi tukang ledeng. Itu sebabnya dia tetap percaya menjadi diri sendiri daripada mengikuti orang banyak atau menyembunyikan perbedaan dirinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...