Sudah 2 kasus mobil menghalangi ambulance yang saya baca di berita online. Sampai akhirnya melihat sendiri salah satu ambulance lewat di depan mata.
Ada motor yang tat tet tot ga jelas di depannya. Kesannya memang membuka jalan. Tapi kalau melihat jarak antara si pengendara motor dan ambulance, lebih tepatnya si motor menghalangi sopir ambulance untuk melaju maksimal.
Kembali ke kasus mobil tadi, sepertinya ini serupa. Tapi isi hati/niat tak ada yang tahu kecuali si pengemudi sendiri. Apalagi setelah melihat tulisan di rompi salah satu pengemudi motor yang sempat berada di depan saya di lampu merah. Tulisannya "PENGAWAL AMBULANCE". Saya sendiri bertanya2 apakah betul ada pengawal ambulance?
Jadi mungkin kalau niatnya baik, si pengemudi mobil bukan berniat menghalangi, tapi dia juga berniat "MENGAWAL" si ambulance sampai ke RS yang dituju. Hanya saja apa daya, dia tak berani, atau tak mampu melaju lebih cepat lagi, sehingga justru jadinya menghalangi laju ambulance. Sama seperti pengemudi motor yang saya lihat di depan ambulance itu.
Jadi masalahnya harusnya : PERLUKAH AMBULANCE DIKAWAL? Kalau berkaca dari negara2 maju, saya rasa ambulance tidak perlu dikawal. Ambulance justru harusnya dikasih jalan.
Oiya, kembali ke niat tadi, ada juga yang niatnya egois, yaitu memanfaatkan sirene ambulance untuk bisa mendapatkan jalan, berkedok mengawal ambulance. Jadi karena tau orang akan ngasih jalan, dia sengaja narok mobil atau motornya di depan ambulance, dengan harapan bisa lancar di perjalanan. Tapi ujung2nya ya menghalangi ambulance.
Jadi PERLUKAH AMBULANCE DIKAWAL? Rasanya dikasih jalan akan lebih maksimal. Ya bukan rahasia lagi kalau di Indonesia banyak kebaikan yang justru merusak kehidupan banyak orang. BPJS berniat baik menjamin kesehatan masyarakat miskin, eeeh ujung2nya bikin sengsara pasien yang harus antri gila2an, tenaga medis yang harus kerja rodi, sampai tunggakan pembayaran bpjs yang membuat keuangan RS ambyar. Padahal kalau diserahkan pada hukum ekonomi, semuanya akan lebih manusiawi. Permudah penjualan alat medis, izin praktek, dan kelulusan tenaga medis, lama2 biaya kesehatan akan turun drastis dengan sendirinya.
Begitu juga soal yayasan sosial. Kesannya sih bagus, SOSIAL. TIDAK CARI UNTUNG. Tapi buktinya, banyak yang malah jadi bermasalah. Investasi bodong dll. Kalau sudah bersentuhan dengan uang, organisasi apapun akan amburadul. Andai setiap organisasi fokus pada menjadi organisasi, mengurus administrasi dan advokasi anggota dengan maksimal, dunia akan aman damai. Tapi kalau sudah mulai mendirikan koperasi, hmmm....tinggal tunggu waktu untuk masalah baru. Masalah yang tidak ada hubungannya dengan maslahat anggotanya. Misalnya, ketika koperasi merugi, tiba2 anggota organisasi diwajibkan iuran ini dan itu. Padahal, yang cari masalah pengurusnya, yang coba2 melompat ke ranah baru, ranah ekonomi. Belum lagi di saat pandemi ini. Pikiran nanti jadi bertambah ke soal pegawai koperasi yang kasihan kalau diberhentikan. Padahal kalau dari dulu organisasi tidak bikin koperasi, ga akan ada masalah2 LUAR ini. Padahal katanya niat awalnya untuk KEBAIKAN anggota.
Jadi kebaikan itu harus pada tempatnya. Tidak semua kebaikan akan menghasilkan perbaikan jika tidak didasari niat yang benar dan cara yang benar.
Komentar
Posting Komentar