Langsung ke konten utama

Jilbab dan Pelecehan Seksual

Belakangan, gelombang industri fesyen muslim punya pengaruh signifikan terhadap bergesernya norma kepatutan pakaian perempuan. Meskipun, sejak dulu penggunaan jilbab punya pengaruh signifikan terhadap political correctness hingga tersangka koruptor pun selalu berjilbab dadakan di ruang sidang.

Hari ini, diskursus jilbab terus berkembang dalam lanskap sosial Indonesia. Laporan Alvara Research Institute dalam Indonesian Moslem Report 2019 mendata jumlah perempuan berjilbab di Indonesia mencapai lebih dari 75%.

Di sekolah negeri, tanpa landasan tertulis apa pun, semacam terdapat kesepakatan tak tertulis menyoal bentuk seragam panjang, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Banyak cerita dari siswi yang tak berjilbab atau tak berseragam panjang mendapat teguran langsung dari guru atau kepala sekolah. Tapi sayangnya cerita itu dieksploitasi kaum feminis sebagai doktrinasi dan intimidasi. Padahal masih banyak siswi yang bebas tidak berjilbab. Mereka yang akhirnya berjilbab pun rata2 bukan lantaran teguran dari guru, melainkan merasa BEDA dengan teman2nya yang berhijab. Apakah itu pemaksaan? Seperti orang kafir yang akhirnya mengungkapkan bahwa dirinya merasa TIDAK INDONESIA karena dilahirkan dari ras yang berbeda dengan mayoritas penduduk Indonesia? Seperti seorang penggemar dangdut yang bekerja di radio anak muda kemudian berhakkah dia disebut DIINTIMIDASI oleh penggemar KPOP? Dengan kata lain, ketidaknyamanan menjadi minoritas tak berjilbab dapat berasal dari perbedaan yang ia rasakan dengan lingkungannya yang berjilbab. Bukan karena sindiran atau teguran yang terus menerus.

Di perkampungan, kaum ibu berangkat ke acara hajatan dengan model fesyen muslim terkini. Para ibu sesungguhnya tak benar-benar mendefinisikan apa yang syar'i dan bukan syar'i menurut standar kekinian, melainkan model fesyen itulah yang dapat mereka temukan di pasar dan menjadi tren. Tren industri yang membentuk standar kepatutan baru, sampai-sampai balita perempuan pun terimbas tren itu.

Sebagai pilihan berpakaian untuk perempuan, tentu saja gelombang fesyen muslim ini bersifat dinamis. Sebagaimana produk kebudayaan lain, tren berpakaian akan terus berdialog dengan masyarakat sebagai pemakai produk kebudayaan itu. Produk yang fungsional, nyaman disertai daya kreatif akan keindahan akan memenangkan kebutuhan dan imajinasi manusia untuk sebuah kualitas barang.

Persoalan muncul ketika tren fesyen muslim untuk perempuan tidak bergerak sejalan dengan kesadaran perempuan akan agensi diri yang semakin kokoh. Perempuan, dengan pilihan berpakaiannya tidak boleh dilecehkan dan tidak boleh menjadi korban kekerasan. Itu benar. Tapi perempuan juga harus tahu bahwa pakaian itu diperintahkan Allah sama seperti sabuk pengaman atau helm. Allah tidak mengatakan kalau bajumu sudah begitu pasti akan aman. Sama seperti ketika anda disuruh pakai helm dan sabuk pengaman, apakah lantas dijamin anda akan tahan banting saat tabrakan? Tidak kan? Allah juga tidak bilang lantaran baju anda yang terbuka lah, maka anda diperkosa atau mengalami pelecehan. Allah terang2an mengatakan, anda dianjurkan menutup tubuh anda dengan baik agar laki2 yang ADA PENYAKIT dalam otaknya tidak melecehkan anda.

Perlawanan terhadap pelecehan seksual mulai menjadi gerakan global lewat tagar "MeToo" pada 2017. Berawal dari laporan New York Times dan New Yorker tentang dugaan pelecehan seksual, kekerasan seksual dan pemerkosaan yang dilakukan oleh Harvey Weinstein kepada lebih dari 80 perempuan dalam industri film, perempuan dari seluruh dunia bersepakat untuk mulai bicara soal pengalaman kekerasan seksual yang mereka alami. Yaaaa.....wanita di seluruh Indonesia itu selalu soal tren di barat. Ketika wanita barat masih dilecehkan, wanita muslim di Aceh sudah jadi panglima armada perang, wanita di Minangkabau sudah jadi wartawan dan pimpinan lembaga pendidikan. Wanita di Maroko sudah mendirikan perguruan tinggi. Tapi itu tidak masuk hitungan wanita Indonesia. Wanita indonesia itu gimana barat. Ketika Amerika diguncang kasus pelecehan seksual, bukannya sadar bahwa Indonesia lebih baik, eeeeh malah ikutan bilang MeToo. Padahal pelecehan di Indonesia baru muncul setelah pengaruh kolonialisme datang. Sebelumnya malah Indonesia menjaga perempuan2nya dengan baik. Ketika Amerika masuk daftar negara dengan kasus perkosaan tertinggi di dunia, feminis2 diam, padahal mereka rata2 pintar dan hasil pendidikan tinggi. Tapi mereka baru bergerak otaknya ketika ada MeToo tahun 2017. Aneh. Kemana saja selama ini?

Pada 2018, muncul gerakan #MosqueMeToo untuk mengeskalasi cerita pengalaman pelecehan seksual yang dialami perempuan ketika beribadah haji dan berziarah di tempat suci. Seorang Muslimah Pakistan, Sabica Khan, yang pertama menuliskan pengalaman di Facebook menghapus kiriman karena ketakutan, tetapi disambut dengan dukungan dari perempuan seluruh dunia yang kemudian mulai turut bercerita. Inilah contoh propaganda standar ganda feminis. Ketika terjadi pelecehan saat kegiatan ritual yang menggabungkan lelaki dan perempuan di satu tempat, mereka heboh, diekspos besar2an. Tapi ketika Islam mengatur agar perempuan dan laki2 ditempatkan dalam jamaah yang berbatas, mereka tetap ribut. Jadi bukan masalah pelecehannya yang sebetulnya dikejar, tapi masalah agamanya.

Di Mesir, pada Juli 2020, untuk pertama kali media massa memuat headline survei pelecehan seksual. Menurut survei itu, pelecehan seksual menimpa perempuan berhijab dengan persentase 32%, perempuan tanpa hijab 21%, kemudian menyusul perempuan dengan abaya lebar sebesar 20%. Setelahnya, akun Instagram @assaultpolice rutin mengawal aduan pelecehan seksual di lingkungan akademik dan tempat kerja. Akun ini juga menjadi inisiatif gerakan untuk edukasi anti pelecehan seksual kepada perempuan di Mesir. Anehnya, tentu saja di Mesir pelecehan terhadap hijab adalah yang paling besar, bukannya di sana pengguna hijab adalah mayoritas? Di indonesia saja yang muslimnya hanya 25 persen dari total penduduk, pengguna hijab 75 persen. Artinya potensi hijaber dilecehkan tentu lebih besar. Kalau propaganda feminis yang aneh ini disetujui oleh semua pihak, artinya penggunaan helm dan sabuk pengakan juga harus dipertanyakan. Cobalah cek ke kantor polisi perihal data kecelakaan. Apakah korban kecelakaan parah rata2 pakai helm atau sabuk pengaman? Tentu saja iya, karena memang rata2 begitu. Ibaratnya kalau nanti data kecelakaan lalu lintas didominasi oleh pria, apakah berarti pria adalah pengendara yang buruk? Tentu tidak. Karena rata2 pengemudi adalah pria, makanya mereka yang paling banyak terlibat kecelakaan. Bukan karena pria adalah pengemudi yang buruk. Permainan data inilah yang sering dimanfaatkan oleh feminis untuk meminggirkan hijab.

Panggung politik perempuan bersiap melawan pelecehan seksual. Jika Anda masih bertanya sampai kapan para perempuan ini terus berisik? Jawabannya, barangkali, belum dalam waktu dekat ini mereka berhenti bicara. Sebab, yang mereka lawan adalah sebuah keniscayaan. Laki2 tidak akan pernah bisa ditundukan oleh perempuan. Iya mungkin kalau satu dua kasus tentu saja laki2 kalah sama perempuan. Di dunia politik saja, laki2 menang WO lawan perempuan. Laki2 harus berjuang meraih suara, eeeh perempuan dikasi jatah. Itu sebuah bukti nyata bahwa perempuan sudah mengibarkan bendera putih melawan tokoh politik pria. Di dunia olahraga lain lagi cerita. Ada sebuah video youtube pesepakbola wanita yang ngerjain pesepakbola pria. Sambutan komentar dari feminis adalah itu membuktikan bahwa wanita bisa bersaing dengan pria. Padahal ternyata, yang dilawan pesepakbola amatir. Yaeyaaalah kalah. Coba lawan Christiano Ronaldo, bisa gak? Bahkan kalau kalah pun itu mungkin lantaran CR7 menghormati, bukan lantaran kalah beneran. Demikian juga di lingkungan sosial, ladies first, dahulukan perempuan, parkir khusus wanita, dan sejenisnya, adalah bukti dari kibaran bendera putih tersebut. Kekalahan wanita ini sudah terbaca dari keinginan mereka mengalahkan laki2 di medan pertempuran milik laki2, yaitu dunia kerja. Akibatnya bukan saja mereka harus mati2an, mereka sendiri akhirnya ikut terbenam di dunia yang harusnya jadi bidang yang CEWEK BANGET. Penguasa kuliner......laki2, penguasa fashion......laki2, bahkan penguasa tari ternama pun.........laki2. Psikolog anak...........laki2. apalagi? Akibat  melihat rumput tetangga, terbenam di rumput sendiri. Dan semuanya gara2 propaganda feminis barat. Karena mereka mengalami pelecehan oleh lelaki bule mereka. Padahal kalau wanita timur, muslim, memaksimalkan potensi mereka, mereka bisa kuasai psikologi anak, masak memasak, dan menciptakan generasi laki2 yang akan menghormati perempuan2 mereka. Bukan malah sibuk dengan persaingan kuantitatif, kalau laki bisa pake kolor doank kemana2, saya juga bisa. Padahal fitrahnya kalau kamu kemana2 pake kolor doank, diperkosa, ga akan bisa melawan. Oke hukum akan bertindak dan menghukumnya seumur hidup, tapi dirimu juga sudah ternoda seumur hidup. Sampai suatu saat nanti perempuan sadar bahwa posisinya bukan untuk menyaingi laki2, tapi mendampingi. Sampai mereka sadar bahwa yang harus menghargai diri mereka adalah mereka sendiri. Sampai mereka sadar sampai kiamat pun mereka takkan sanggup menundukan kaum pria secara kualitatif. Tapi mereka bisa mengalahkan kaum pria kapan pun mereka mau, secara kualitatif. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Ada Gigi yang Ditambal Langsung, Ada yang Tidak?

Tidak semua gigi bisa langsung ditambal karena kondisi kerusakan setiap gigi berbeda-beda. Berikut alasan utama kenapa ada yang bisa langsung ditambal dan ada yang tidak: 1. Tingkat Kerusakan Gigi Bisa langsung ditambal: Jika lubang pada gigi masih kecil atau sedang, dan tidak mencapai saraf gigi. Tidak bisa langsung ditambal: Jika lubangnya terlalu dalam, atau sudah mengenai saraf (pulpa), maka harus dilakukan perawatan saluran akar dulu sebelum ditambal. 2. Infeksi atau Nyeri Hebat Gigi yang bernanah, bengkak, atau sakit berdenyut tidak bisa langsung ditambal. Harus diobati dulu infeksinya. Menambal langsung bisa “mengurung” bakteri di dalam, dan itu memperparah kondisi gigi. 3. Kebutuhan Perawatan Lanjutan Dalam beberapa kasus, dokter perlu membersihkan lubang gigi secara bertahap atau dilakukan perawatan saluran akar sebelum tambalan permanen. 4. Struktur Gigi yang Tersisa Kalau kerusakan terlalu besar, tidak cukup kuat hanya ditambal. Bisa jadi perlu dibuat mahkota gigi (crown). J...

19 Oktober 2023

Hari ini aku dapat kabar… Nayla meninggal. Kecelakaan. Dunia seperti ikut berhenti bersamaku. Aku datang ke pemakamannya. Berdiri di antara orang-orang yang mencintainya secara nyata, sedangkan aku? Aku hanya bayang-bayang di sudut kenangan. Tak ada yang tahu, bahkan ia pun tak pernah tahu… aku menyayanginya lebih dari yang bisa kupahami.