Langsung ke konten utama

Bahasa Isyarat dan Syarat Menjadi "Orang Besar" yang Dipenuhi oleh Anies Baswedan

Beberapa hari lalu, di salah satu akun media sosial pribadi saya menggungah kalimat begini:

"Karena semua yang besar itu merepotkan. Syarat pertama jika Anda ingin menjadi besar ... Anda harus mau repot atau direpotkan oleh banyak urusan!”

Saya teringat akan pernyataan itu saat melihat unggahan akun media sosial (Instagram) dari Anies Baswedan. Sebagai Gubernur DKI dengan segala urusannya, beliau masih menyempatkan waktu untuk belajar bahasa isyarat, lalu mempraktekkannya ketika hendak mengucapkan “Selamat Idul Fitri” yang diperingati masyarakat Jakarta.

Videonya sih tidak panjang. Hanya berdurasi 1 menit. Namun, Anies Baswedan dengan cukup baik hendak menyampaikan pesan, yang bila dituliskan akan terbaca seperti di bawah ini:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

saya Anies Baswedan

kami mengucapkan Selamat Idul Fitri

mohon maaf lahir dan batin.

Semoga ibadah kita selama Ramadhan diterima oleh Allah.

Amin.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terlihat biasa?

Coba Anda cek langsung akun IG beliau dan lihat kesungguhan Anies Baswedan melakukan hal yang bagi saya terasa sangat menyentuh ini. Beliau juga melakukan dengan raut wajah tersenyum, yang terpancar dari sorotan mata dan ekspresinya di video.

Terlihat kurang kerjaan?

Ngawur! Justru beliau menunjukkan empati yang luar biasa, sekaligus memberi dukungan kepada kaum difabel dengan meluangkan waktu untuk belajar bahasa isyarat, agar dapat mengucapkan kalimat seperti di atas pada momen yang tepat.

Belum lama ini, Anies Baswedan  juga terlihat mengunjungi Lembaga Kebudayaan Betawi, sambil bercanda mau belajar Lenong. Lantas, ada pula video kunjungan ke Naturale Market, sebuah program pemberdayaan UMKM yang dicetuskan Pemda DKI.

Ah, melihat apa yang beliau lakukan, sungguh membuat hati ini terasa adem. Semoga saudara-saudariku kaum difabel yang menonton video Anies Baswedan ini juga merasakan hal yang sama. Ada dukungan yang diberikan oleh Gubernur terhadap kalian, tak hanya yang berdomisili di Jakarta, sebagai kawasan dimana Anies Baswedan memimpin sebagai gubernur.

Bagaimana respons netizen?

Owwwhh ... jangan ditanya! Selang sehari kemudian,  saya sempat melihat sudah tembus 59.000 hits dengan komentar mendekati angka 300. Saya yakin dalam waktu tak kurang dari 24 jam kemudian, video inspiratif dari DKI-1 ini akan tembus 60-70 ribu dengan komentar lebih dari 500 netizen.

Dan saya ... sekali lagi mau tak mau lantas teringat akan pengajaran dari ulama, yang menempatkan “mau repot atau direpotkan” sebagai syarat nomor satu bagi orang yang ingin menjadi besar.

Oya ada lagi 4 syarat lainnya, bagus juga untuk bisa kita renungkan:

(1) Kemauan untuk berpikir lebih (menggumulkan sesuatu sampai jadi),

(2) Kecakapan untuk mengatur segala sesuatu

(3) Mampu menghitung segala sesuatu dengan baik

(4) Jangan ada mental gratisan (tidak mau keluar uang / bayar harga)

Naaaah ... bagaimana sekarang? Apakah warga Indonesia semakin kesengsem dengan sosok Anies Baswedan? Semakin pantas diajukan sebagai calon penerus Pakde Jokowi sebagai RI-1? Saya rasa dari kelima syarat yang sudah saya sebutkan di atas, kelimanya ada dalam diri Anies Baswedan, pertanda beliau memang cocok untuk menjadi “sosok yang besar” yang sangat dibutuhkan hari-hari ini oleh negeri kita.

Kalau dari saya: "Panjenengan pancen ngeten, Pak!" (sambil kasih jempol dua)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...