Covid-19, antara Konspirasi, Ketidakpedulian dan ParanoiaIni adalah artikel saya yang pertama di bulan ini. Beberapa rekan, baik penulis, teman seko
Pertanyaan model gini memang gampang-gampang susah njawabnya, tapi kalau mau jawaban sederhana, ada dua sebab. Pertama, rebutan laptop. Sekolah daring, membuat perebutan laptop di rumah kami, intensitasnya naik. Sebagai orang tua yang baik, saya lebih memilih anak saya memakai laptop, dibanding keharusan saya menuli
Saya pikir, pembaca beberapa waktu terakhir ini cukup akrab dengan kata “konspirasi”. Kalau saya ditanya, apakah covid-19 adalah sebuah konspirasi? Maka jawabannya adalah ya dan tidak. Covid adalah sebuah sesuatu yang nyata, bukan hasil sebuah konspirasi seperti analisa penganut "PKI itu ideologinya Pancasila".
Tapi di pihak lain, beberapa kelompok “ekonomi” dan “politik” memang sengaja menggoreng isu ini. Sebagian lagi, ikut-ikutan riding the wave aja. Mengambil keuntungan dari hiruk pikuk dan kekalutan berbagai pihak, yang kebingungan menghadapi masalah yang tidak ada manual book-nya ini.
Salah satunya adalah, peselancar politik, yang berpindah dari satu gelombang ke gelombang lainnya. Mencari keuntungan dan mengeruk popularitas, dari berbagai isu. Entah itu isu ekonomi, kesehatan, hingga isu basi soal kekalahan di Pilkada DKI.
Kelompok lainnya, adalah kelompok “ekonomi kreatif”. Bukan, saya bukan ngomongin musisi atau penggagas unicorn. Saya sedang ngomongin mereka yang kerjaannya mengail di air keruh. Kalau ada banjir, mereka bisnis banjir. Kalau ada ceruk pasar agama, mereka jualan agama. Nah, kebetulan saat ini lagi pandemi, otomatis mereka akan berusaha mencari sepotong roti, plus sebatang emas, apapun caranya. Kebetulan juga, saat keadaan bencana, begitu banyak celah yang bisa dimanfaatkan untuk cari uang. Bagi mereka, semakin lama suasana bencana berlangsung, semakin baik.
Kelompok-kelompok ini berkelindan satu sama lain. Berbagi kesempatan dengan barisan pendukung Jokowi, bergandeng tangan dengan pengasong komunisme, dan makan bareng dengan pengagum Orde Lama.
Tidak Peduli
Di sisi lain, ada juga (bahkan banyak) masyarakat yang bersikap tidak peduli. Mereka merasa semua protokol kesehatan tidak ada gunanya, pake masker itu mengganggu pernafasan dan menjaga jarak itu melawan slogan Nokia.
Maka tidak heran, kita akan mudah menemui kelompok anak muda yang ngobrol-ngobrol dengan sohib-sohibnya, ngopi atau sekedar begadang, walau tiada artinya. Emangnya Soneta…. Mereka merasa mereka masih muda, fisiknya masih bagus. Kalaupun sakit, bisa sembuh sendiri dengan imun tubuhnya. Mereka tidak peduli, bila nantinya mereka bisa jadi pembawa virus, dan menulari orang-orang di sekitarnya.
Keadaan ini juga diperburuk dengan kelompok-kelompok orang mabuk agama, apapun agamanya. Mereka merasa, kalau mereka ibadah, mereka akan dijagai oleh Allah. Kalaupun mereka sakit, itu adalah takdir, bahkan jika mati, itu sudah suratan.
Paranoid
Kalau ada kelompok yang cuek-cuek aja, ada juga kelompok paranoid dan sebagian lagi super paranoid. Mereka ini sebagian besar adalah kelompok menengah dan atas. Kelompok-kelompok aktivis sosmed, sebagian berusia paruh baya, sebagian lagi memiliki anak balita. Begitu banyak dan derasnya arus informasi yang masuk, membuat filter mereka over capacity. Akhirnya mereka melakukan tindakan paranoid dan super preventif di satu sisi, tapi menjadi teledor dan tidak masuk akal di sisi yang lain.
Mereka takut keluar rumah, takut pesan makanan dari ojol, takut ketauan selingkuh (…lho). Mereka menyemprot segala sesuatu dengan disinfektan, kalau keluar pake baju astronot, dan membeli segala macam alat, mulai dari sarung tangan hingga lampu Ultra Violet.
Mereka ini lupa, ketika seseorang tidak keluar rumah, otomatis kekebalan tubuh kita akan menurun juga. Ujung-ujungnya malah gampang sakit.
Celakanya lagi, para kaum kagetan ini, sangat gampang terkena hoax karena kebanyakan menelan informasi. Jangan heran, kalau kita menemukan sebagian dari mereka aktif beli barang via online, lalu menerima pengiriman kurir dengan memakai tongkat pramuka. Mereka membeli segala macam vitamin dan “senjata” penguat imun. Saya pikir, mereka mungkin tidak bakal meninggal karena covid, tapi mungkin akan menjadi penghuni Arkham Asylum bersama Joker dan Penguin.
So?
Jadi sebenarnya apa yang saya ingin bagikan melalui tulisan ini?
Pertama, saya akan cerita kehidupan saya selama pandemi ini. Saya setiap hari bekerja, berinteraksi dengan orang, sama seperti sebelum pandemi. Tentu dengan menambah protokol kesehatan secukupnya. Saya memakai masker dan memperbanyak cuci tangan. Saya tidak ke mesjid dulu.
Saya optimis bersama pemerintah untuk menyambut vaksin penolong di awal tahun nanti. Walaupun, itu too good to be true. Tapi pantas dinantikan. Kehilangan harapan itu kan namanya mati sebelum mati, jangan. Yakinlah, vaksin itu akan memperbaiki keadaan, karena mempercepat kekebalan kita terhadap virus.
Hal kedua dan terakhir, yang ingin saya bagikan adalah, jangan mengail di air keruh. Kita ini sedang menghadapi bencana, Indonesia sedang memasuki krisis. Jangan memperburuknya, dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak perlu. Patuhi sajalah protokol kesehatan dan segala pernak perniknya, walau mungkin kita merasa itu tidak masuk akal. Berhenti menggerus uang negara dengan mengambil sesuatu yang tidak menjadi hakmu, entah itu hanya sekedar selembar masker atau segebok pulsa.
Saya juga mengharap, kesadaran pada mereka yang dinyatakan ODP. Meskipun sebenarnya terbukti negatif setelah dites, dan sudah melewati masa karantina. Hargailah mereka yang menjauhimu selama tidak merugikan secara material. Karena yakinlah kaupun dulu juga begitu, dan mungkin jika tetanggamu yg kena, kamupun akan menjauhinya, sedikit ataupun banyak. Kalau kau tidak menjauh, hargailah keluargamu, anakmu, istrimu, orangtuamu yang mungkin akan sangat menderita ketika kau terinfeksi atau menyebarkan virus di tubuhmu pada mereka.
Bila anda tidak bisa membuat keadaan menjadi lebih baik, janganlah membuat keadaan menjadi lebih buruk.
Komentar
Posting Komentar