Langsung ke konten utama

Penolakan UU Cipta Kerja, Jokowi Dewa Tak Tersentuh

Unjuk rasa kaum pekerja yang katanya difasilitasi oleh undang-undang, atas nama demokrasi mereka boleh melakukannya. Namun apakah kebebasan itu salah? Adakah keabsahan bahwa ada alasan kuat yang mendasari unjuk rasa menentang disahkannya RUU Cipta Kerja oleh DPR yang juga disetujui oleh pak Jokowi (karena beliau sama sekali tidak terdengar bereaksi menolak sampai sekarang) pada Senin tanggal 5 Oktober 2020?

Gelagat yang terbaca jika kita bandingkan dengan faktanya, unjuk rasa para pekerja itu dituduh oleh buzzer didasari dugaan prematur yang beredar melalui media sosial. Tapi sementara itu bunyi RUU yang sesungguhnya, tidak dapat ditemukan di mana2. 

Kenapa para wakil rakyat di Senayan demikian nekatnya menyetujui RUU itu tanpa mengedarkan draft RUU secara jelas atau diskusi lengkap di televisi, sementara di belakang nanti RUU itu dianggap akan menyengsarakan rakyat yang diwakilinya? Masak iya pula Presiden dan para menterinya melakukan persekongkolan jahat dengan para calon investor, hanya demi menyelamatkan angka statistik tentang performansi ekonomi nasional?


 Jika landasan bepikir para pengunjuk rasa itu salah, harusnya pemerintah berani menyebutkan di mana letak fakta kesalahan itu berada, peraturan lama vs aturan baru, disandingkan. Sebagaimana beberapa kabar tersiar yang entah bagaimana fakta sebenarnya, diantaranya :

1. Kabar UMP, UMK UMSP dihapus.
2. Kabar tentang penghapusan pesangon.
3. Kabar upah buruh dihitung per jam.
4. Kabar hilangnya hak cuti.
5. Kabar outsourcing diganti dengan kontrak seumur hidup.
6. Kabar status karyawan tetap ditiadakan.
7. Kabar bahwa perusahaan boleh mem-PHK kapanpun.
8. Cuti melahirkan dikabarkan dihapus.

Adapun segi positif ditetapkannya undang-undang cipta kerja terdengar lebih banyak menguntungkan pengusaha. Semoga pemerintah bisa segera melakukan diskusi terbuka tentang aturan baru ini.

Hal yang lebih menyedihkan, bukan pada perjuangan kaum buruh ini. Tapi kepergian presiden di saat masyarakat butuh penyelesaian. Pemimpin bukannya meredakan situasi, malah pergi meninggalkannya. 

Berapa kerugian masyarakat yang ditimbulkan oleh corona, sekarang bertambah lagi dengan mogok dan unjuk rasa. Kontradiktif dengan visi Presiden Jokowi yang katanya ingin menjaga kesejahteraan kaum pekerja. Mana mungkin perusahaan yang rugi gara2 kebijakan plinplan pemerintah di tengah pandemi dapat menjamin kesejahteraan pekerjanya.

Belum lagi jika harus mengalikannya dengan banyak daerah lain yang mengalami hal serupa, hitung saja energi yang terbuang percuma, sementara hasilnya nol besar. Sungguh ironis sikap Jokowi ini.

Agenda di balik unjuk rasa ini sepertinya sudah diatur sedemikian rupa, yakni persis seperti UU KPK dulu. Semua ribut soal RUU KUHP yang justru sangat baik. Eeeeeh ujung2nya pemerintah jadi malah mengesahkan UU KPK yang justru sangat kontroversial dan malah membatalkan UU KUHP. Kemudian kampret2 baru tersadar kalau mereka baru saja terjebak permainan cebong2 hahahaha. Mementahkan kebijakan pemerintah yang pro kampret, tapi meloloskan kebijakan yang pro cebong. Nanti tunggu saja, tiba2 ada tokoh yang sebetulnya pelaku, setuju dengan UU baru ini, tapi tiba2 menjadi pahlawan kesiangan seolah dari awal menolaknya. Siapakah yang memiliki tujuan menghambat agenda menyejahterakan pekerja dan iklim investasi? PKI pastinya. Bukan hal yang sulit untuk mengungkapnya, namun yang paling mendasar untuk kita lakukan, adalah menyadari bagaimana UU baru itu bukan hanya hasil kerja DPR, tapi juga persetujuan presiden yang bernama Jokowi, yang tidak berani disentuh oleh pendemo. Bahkan sekedar menyebut namanya pun, pendemo langsung terkencing2.

Penting untuk kita sadari, bahwa posisi presiden Jokowi dan DPR memang tidak mudah dan banyak menjumpai dilema, maka seharusnya jangan grasak grusuk dalam menyetujui sebuah aturan baru. Karena itu hanya akan menguntungkan pihak tertentu yang justru merusak tatanan yang sedang dibangun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...