Langsung ke konten utama

Awal Terciptanya Softdrink

Semuanya dimulai dengan serbat. Itu adalah istilah untuk salah satu jenis minuman yang terkenal di hampir seluruh dunia Muslim. Saat ini, serbat ini dikenal dengan nama berbeda di berbagai negara dan budaya yang berbeda.

Kombinasi jus yang diekstrak dari tumbuhan dan bunga bila ditambahkan dengan air, gula dan cuka membentuk cairan manis yang dinamai “Serbat'. Ini menjadi salah satu minuman paling populer di dunia Muslim karena Alkohol "Haram" dalam Islam. Belakangan, kata serbat juga digunakan di berbagai negara dan bahasa sebagai pujian.

Banyak peminum terinspirasi oleh rasa dan aroma serbat. Pada tahun 1626, French Bacon mencicipi serbat dan sangat terinspirasi oleh rasanya yang lezat. Ketika penyair Inggris terkenal Lord Byron mencicipi serbat, dia menulis syair tentangnya di tahun 1813.

Dalam bahasa Arab Mesir, kata "Sharbaataat" digunakan untuk menunjukan seorang anak kecil yang imut dan manis. Pada awal abad ke-20, karena jarangnya kulkas dan teknologi pengawetan, serbat buah-buahan segar menjadi sangat terkenal.

Serbat berasal dari kata Arab "Shariba" yang berarti "minum". Serbat memiliki banyak turunan dalam berbagai bahasa. Mashrabiyyah, adalah ciri khas arsitektur dunia Islam. Ini adalah wadah dimana toples bisa didinginkan lewat penguapan dan disimpan.

Serbat diminum oleh orang Turki Ottoman sebelum dan selama makan. Biasanya terbuat dari sirup quince, pir, apel, aprikot dan persik yang dicampur dengan air beku.

Restoran seperti Daruzziyafe ("wisma") dan Konyali di istana Topkapi masih menyajikan serbat gaya Ottoman. Dua jenis serbat yang disajikan oleh Daruzziyafe yaitu serbat herbal yang terbuat dari mawar, karob dan akar atau daun palem.

Hal ini masih berlaku sampai hari ini di desa-desa Turki Timur. Keluarga mempelai pria menawarkan serbat mawar atau Gul sherbeti dalam guci tembaga atau kuningan bermulut panjang, yang disebut ibrik. Lamaran pengantin pria diterima oleh wanita dengan isyarat dia meminum serbat. Di India dan Afghanistan, setelah keluarga mempelai pria memberikan hadiah kepada keluarga pengantin wanita, sebagai gantinya mereka dijamu dengan serbat Gul.

Serbat berwarna disajikan pada berbagai kesempatan seperti kelahiran anak, atau dalam acara-acara khusus.

Berbagai jenis minuman manis dan serbat diproduksi di Mesir, tetapi gula dan air biasanya selalu  digunakan. Jenis serbat lainnya adalah limun yang dibentuk dari bunga violet yang dididihkan dengan gula. Variasi serbat lain juga diperkenalkan seperti minuman dari Mulberry, coklat kemerah-merahan, akar manis dan berbagai buah.

Selama Ramadan, nampan besar digunakan untuk ditempatkan di depan rumah-rumah dari berbagai kelas masyarakat. Pengunjung akan dijamu beberapa menit sebelum matahari terbenam oleh tuan rumah. Serbat gula dan air disajikan untuk mereka.

Serbat di Iran biasanya digunakan di musim panas dan dalam pesta khusus.

Di Iran, selain buah-buahan, bunga aromatik juga digunakan dalam serbat. Bunga seperti araq, baharnaremj, bidmeshk dan kasniare diproduksi dan diekspor dari Shiraz ke bagian lain Iran.

Serbat adalah minuman populer di Amerika dan Eropa, terbuat dari buah-buahan seperti kismis atau raspberry yang dicampur dengan cuka dan gula, dan kadang-kadang ditambahkan alkohol. Serbat tanpa alkohol dijual di toko-toko kecil dan restoran bergaya kolonial.

Di akhir abad ke-19 minuman berkarbonasi “Coca-Cola” menjadi kegemaran orang Amerika. Minunan ini pertama kali beredar di seluruh negara melalui apotek dan toko obat. Kemudian mulai menyebar ke luar negeri di China dan Filipina pada tahun 1927, Malaysia pada tahun 1936, Singapura pada tahun 1934, Maroko dan Tunisia pada tahun 1947, Srilanka pada tahun 1960 dan Pakistan pada tahun 1953.

Minuman ringan Barat dan Timur awalnya  menempati posisi yang sama di toko serbat dan di jalanan di Timur Tengah. Kemudian Coca-Cola dan Pepsi menjadi dominan, dan disajikan dengan makanan cepat saji barat serta hidangan tradisional. Kebutuhan serbat murni yang terbuat dari tumbuhan, bunga, dan buah-buahan sudah mulai dianggap ketinggalan zaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...