Langsung ke konten utama

Microsoft Memensiunkan Font Defaultnya

font Calibri

Microsoft mengubah font defaultnya untuk pertama kali dalam 15 tahun, dan memberi Anda kesempatan untuk memilih yang baru. Tapi Anda tidak dapat memilih opsi konyol seperti Comic Sans, Wingdings atau Papyrus.


Microsoft telah menawarkan lima tipografi kustom baru untuk menggantikan Calibri, font yang telah menjadi default untuk semua dokumen Word dan email Outlook Anda sejak 2007. Calibri menggantikan Times New Roman (tulisan yang bertipe bangsawan, elegan tetapi kurang keren untuk internet).

Font default dirancang agar tidak mengganggu kenyamanan dan mudah diadaptasi oleh pengguna, dan Calibri telah menjalankan peran itu dengan baik selama ini. Font ini ditampilkan dengan baik di hampir semua layar, dengan ukuran berapa pun, tetapi masih memiliki ciri khas. Lekuk halusnya membuatnya sedikit lebih hangat daripada sepupu kotak-kotaknya dari sesama sans serif yaitu Helvetica dan Arial, dua favorit desainer digital yang terkenal karena kesederhanaannya dan bobot guratan yang seimbang. (Sans serif berarti tidak ada bit keriting di ujung setiap huruf)

    Tetapi setelah 13 tahun, Calibri mulai terlihat sedikit kuno, dan Microsoft ingin memberikan email dan dokumen Anda sentuhan baru.

      "Font default sering kali menjadi kesan pertama yang kami buat," tulis Microsoft dalam posting blog yang mengumumkan perubahan tersebut. "Itu adalah identitas visual yang kami tunjukkan kepada orang lain melalui resume, dokumen, atau email kami. Dan seperti orang dan dunia di sekitar kita yang menua dan tumbuh, demikian juga mode ekspresi kami."

      Meskipun Calibri pensiun sebagai default tahun depan, jenis huruf ini masih akan tersedia di antara ratusan font Microsoft Office.

      Berikut adalah lima sans serif baru Microsoft yang bisa Anda vote menjadi default di akun media sosial @ Microsoft365

      1. Tenorit
      2. Bierstadt
      3. Skeena
      4. Seaford
      5. Grandview

      Komentar

      Postingan populer dari blog ini

      Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

      French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

      Tukang Bid'ah

      Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

      Poltergeist

      Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...