Dulu pernah ada pasien bertanya "klo CROWN berapa dok?" Via WA. Ternyata setelah diperiksa, giginya tidak layak dicrown.
Ada lagi yg tanya, "cabut geraham BUNGSU berapa dok?" Ternyata yg dimaksud geraham dewasa biasa. Pasien sudah kabur duluan karena sy jawab tarif untuk geraham bungsu.
Ada lagi yg tanya untuk IMPLANT berapa dok? Padahal yang dimaksud mahkota pasak. Mendengar tarif 29 juta per gigi, pasien kabur, padahal mahkota pasak tak sampai segitu.
Tapi reaksi mereka ketika saya tertawa mendengar istilah yg mereka pakai bukan pada tempatnya sama, TERSINGGUNG. "Ya saya kan awam dok!"
Ya justru karena awam itulah sebaiknya Anda gunakan juga istilah awam saja. Tidak perlu sok2an pakai istilah medis, apalagi kalau komunikasinya via HP, tidak jelas duduk perkaranya, alias giginya. Anda tidak akan dimutilasi orang kok kalau menggunakan istilah awam. Dan bahkan mungkin komunikasi dengan dokter akan lbh lancar jika pakai istilah awam. Misalnya, "Saya ingin cabut gigi depan dok." "Gigi saya sudah tinggal separo dok, ingin diperbaiki."
Dan satu lagi yg jd masalah juga ketika pasien enggan datang langsung k klinik, lalu lgsg nembak diagnosa, "gigi saya mau ditambal, kena berpa y dok?" Pas datang, gigi yg DITAMBAL itu, ternyata gigi ompong, alias ga ada giginya.
Jadi kesimpulannya, kemajuan teknologi tidak akan bisa menggantikan MELIHAT LANGSUNG. Semakin anda enggan untuk DIPERIKSA LANGSUNG, makin besar kemungkinan anda SALAH DIAGNOSA. Ujung2nya rugi karena giginya tidak terselamatkan, padahal biayanya tidak mahal. Cuma karena ingin sok tau istilah medis, lalu salah komunikasi dg dokter gigi.
Toh saya belum pernah dengar ada dokter gigi yang membunuh pasien yg tidak jadi berobat karena uangnya kurang hehe
Komentar
Posting Komentar