Logo cincin Olimpiade yang terkenal itu berusia lebih dari 100 tahun. Tetapi makna besar di belakangnya tidak lekang oleh waktu.
| Cincin Olimpiade |
Ketika kita memikirkan Olimpiade, beberapa hal langsung muncul di benak kita. Para atlet berbaris selama upacara pembukaan, dengan bangga membawa bendera negara mereka; penyerahan dramatis medali emas, perak, dan perunggu kepada pemenang dari setiap pertandingan; obor dan momen Olimpiade yang tak terlupakan lainnya; dan, tentu saja, cincin Olimpiade.
Lima cincin Olimpiade yang saling bertautan telah menjadi begitu akrab dengan ajang tersebut sehingga ada kemungkinan besar kita tidak terlalu memperhatikannya. Mengingat cincin melambangkan komitmen yang berkelanjutan dan tak terputus, ala cincin pernikahan, maka kita mungkin akan berasumsi ada sentimen serupa di balik cincin Olimpiade. Tetapi sebenarnya lebih dari itu.
Sejarah Olimpiade
Baik cincin Olimpiade dan Olimpiade modern itu sendiri dapat ditelusuri kembali ke satu orang yaitu, sejarawan Prancis abad ke-19, sosiolog, atlet, dan reformis pendidikan Pierre de Coubertin. Selain bekerja untuk membuat pendidikan jasmani tersedia bagi siswa di Prancis seperti halnya rekan-rekan Inggris mereka, Coubertin menyelenggarakan Kongres Pendidikan Jasmani dan Kompetisi Cendekia pertama di dunia di Pameran Universal Paris 1889. Lima tahun kemudian, pada Juni 1894, Coubertin mendirikan IOC dan mengusulkan apa yang akan dikenal sebagai Olimpiade modern, yang pertama kali diadakan di Athena pada 1896, diikuti kemudian oleh Olimpiade 1900 di Paris.
Sejak awal, visi Coubertin untuk Olimpiade adalah mengumpulkan atlet elit dari berbagai belahan dunia di satu lokasi untuk bisa bersaing satu sama lain. Dalam Buletin Olimpiade edisi kedua pada tahun 1894, ia menjelaskan bagaimana Olimpiade akan berganti tempat di antara negara-negara yang berbeda, dan mengapa itu merupakan aspek penting dari acara tersebut. “Kejeniusan setiap orang, caranya mengadakan festival dan terlibat dalam latihan fisik,” tulisnya, “adalah apa yang akan memberi Olimpiade modern karakter sejatinya, dan mungkin membuatnya lebih unggul dari acara di zaman kuno dulu. Jelas bahwa Pertandingan yang diadakan di Roma tidak akan mirip sedikit pun dengan yang mungkin diadakan di London atau Stockholm.”
Sejarah cincin Olimpiade
Olimpiade 1912 yang diadakan di Stockholm, Swedia, adalah acara yang pertama memasukkan atlet dari apa yang saat itu dianggap sebagai lima benua: Afrika, Asia, Eropa, Oseania (Australia dan Selandia Baru), dan kombinasi Amerika Utara dan Selatan. Terinspirasi oleh acara yang telah menjadi benar-benar global, pada tahun 1913, Coubertin merancang apa yang kemudian menjadi simbol Olimpiade, yaitu cincin Olimpiade.
Cincin Olimpiade telah digunakan dalam setiap Olimpiade musim panas dan musim dingin sejak tahun 1920 dan relatif tidak berubah sejak dulu. Pengecualian untuk ini adalah versi yang diperkenalkan pada tahun 1957, yang sedikit merenggangkan jarak antar cincin. Namun, pada tahun 2010, IOC memutuskan untuk kembali ke desain dan jarak asli versi Coubertin sampai saat ini.
Makna cincin Olimpiade
Manusia telah lama menggunakan cincin atau lingkaran sebagai simbol. Tetapi dalam kasus cincin Olimpiade, mereka memiliki arti khusus. Misalnya, lima cincin mewakili lima benua yang berpartisipasi dalam Olimpiade 1912. Dan menurut Aturan 8 Piagam Olimpiade, “simbol Olimpiade mengungkapkan aktivitas Gerakan Olimpiade…dan pertemuan para atlet dari seluruh dunia di Pertandingan Olimpiade.”
Selain itu, lima cincin yang saling bertautan harus memiliki dimensi yang sama, mewakili gagasan bahwa semua benua sama dalam Olimpiade. Terakhir, dalam kata-kata Coubertin sendiri: "Lima cincin ini mewakili lima bagian dunia yang sekarang dimenangkan untuk tujuan olimpiade dan siap menerima persaingan yang sehat."
Arti di balik warna cincin Olimpiade
Mengingat apa yang kita ketahui tentang warna dan banyak makna simbolisnya, maka kita akan berasumsi setiap warna yang ditampilkan dalam cincin Olimpiade akan mewakili sesuatu yang spesifik, seperti benua. Namun pada kenyataannya, sama sekali tidak demikian. Coubertin memilih enam warna resmi Olimpiade, yaitu biru, kuning, hitam, hijau, merah, dan putih (ditampilkan di latar belakang) karena ketika ia memperkenalkan simbol tersebut pada tahun 1913, setiap bendera negara yang berpartisipasi dalam permainan dapat direproduksi menggunakan warna dalam simbol Olimpiade. Atau, dengan kata-katanya sendiri: "Keenam warna yang digabungkan dapat mereproduksi warna dari semua bangsa tanpa kecuali."
Versi resmi dari cincin Olimpiade
Percaya atau tidak, saat ini ada tujuh versi "resmi" dari cincin Olimpiade, menurut IOC. Tidak mengherankan, iterasi yang disukai adalah yang menampilkan cincin dalam kelima warna dengan latar belakang putih. Namun, dalam situasi di mana tidak mungkin untuk mereproduksi cincin Olimpiade dalam warna aslinya, versi monokrom dari cincin Olimpiade, adalah alternatif yang dapat diterima.
Evolusi cincin Olimpiade
Meskipun konsep cincin Olimpiade mungkin bukan hal baru, simbol itu sendiri telah berubah sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Inilah evolusinya menurut IOC:
| Perubahan Logo Olimpiade |
1913 : Coubertin menciptakan cincin Olimpiade. Simbol aslinya menampilkan lima cincin yang saling bertautan. Berwarna biru, kuning, hitam, hijau, dan merah di tengah latar belakang putih. Cincin itu diadopsi pada tahun 1914, tetapi baru enam tahun kemudian terlihat di Olimpiade.
1920 : Cincin Olimpiade membuat debut resminya di Olimpiade VII di Antwerpen, dalam bentuk bendera Olimpiade.
1957 : Setelah cincin tersebut digunakan selama 44 tahun, IOC menyetujui modifikasi pertama dari cincin Olimpiade, meskipun sangat halus. Faktanya, hanya sedikit perbedaan dari versi aslinya Coubertin, hanya memindahkan dua cincin bawah sedikit lebih jauh dan memberikan jarak tambahan di antara cincinnya.
1986 : IOC memperbarui Standar Grafik mereka untuk memasukkan deskripsi versi resmi cincin Olimpiade, lengkap dengan berapa banyak jarak yang harus ada di antara setiap cincin saat logo direproduksi.
2010 : Dewan Eksekutif IOC memutuskan bahwa cincin Olimpiade harus kembali ke asalnya, seperti dalam versi asli Coubertin.
Komentar
Posting Komentar