Sebotol coca cola sehari mungkin membuat anda jadi langganan dokter. Tetapi minuman bersoda ini pertama kalinya ditemukan justru oleh seorang apoteker sebagai stimulan, tonik saraf dan obat sakit kepala.
Pada tahun 1886, John Pemberton menemukan "Pemberton's French Wine Coca," yang merupakan obat mabuk yang ditujukan untuk mengatasi berbagai rasa tidak nyaman peminumnya.
Tetapi ketika undang-undang larangan disahkan di negara asal Pemberton, Georgia, penemunya menciptakan variasi yang bukan ditujukan untuk alkoholik pada sirup warna karamel ciptaannnya itu.
Legenda mengatakan bahwa Pemberton tanpa sadar menambahkan air berkarbonasi ke dalam minuman. Tetapi sebenarnya niat apoteker ini untuk menyajikannya sebagai ramuan berkarbonasi karena dia percaya gelembung bisa menjadi alternatif yang enak untuk menggantikan minuman beralkohol.
Ternyata tujuan di balik ramuan yang awalnya diciptakan sebagai obat, sekarang justru dijual sebagai minuman soda.
Ketika sang apoteker meninggal tak lama kemudian, seorang pria bernama Asa Griggs Candler mengambil alih tempat yang ditinggalkan Pemberton dan menjadi pemilik merek Coca-Cola.
Pengusaha cerdas itu menyusun kampanye iklan yang agresif, yang akhirnya menyebar ke seluruh Amerika dan memicu minat konsumen yang tinggi.
Griggs mulai membotolkan minuman ini untuk memenuhi tuntutan luas pemasaran, dan hingga hari ini, Coca-Cola tetap menjadi salah satu minuman ringan paling populer dan terlaris dalam sejarah.
Judul artikel ini merujuk pada ayat Al Quran. Tapi kenyataannya memang demikian. Beberapa masalah yang akhir2 ini diributkan orang justru penyebabnya mereka sendiri. Maraknya begal dan pembunuhan. Lah udah disuruh hukum potong tangan, hukum mati jika si begal membunuh, dilakukan di depan umum supaya ada efek jera, eh malah ga dikerjakan. Jadilah begal2 itu residivis kambuhan. Bukannya masyarakat yang dilindungi, justru si begal yang terlindungi dari hukuman berat. Susahnya cari tanah kuburan. Lah udah dibilang sama Rasulullah kuburan seorang muslim itu cuma tanah aja, ga pake pertanda apa2, apalagi sampai dibikinin nisan+bangunan di atasnya. Tapi ya kok tetap pada ngeyel? Pembangunan tidak merata. Lah udah dibilang bikin bangunan atau rumah ga boleh menghalangi matahari ke rumah tetangga, ini malah berlomba bangun pencakar langit. Jadinya? Ya numpuk di Jakarta. Mau ngeluh banjir? Macet? Ngeyel sih. Pelecehen seksual merajalela. Lah udah diajarin syarat nikah itu suka sama ...
Komentar
Posting Komentar