Langsung ke konten utama

Kenapa Orang Amerika Menggunakan Fahrenheit Bukan Celsius?



Bukan rahasia lagi bahwa Amerika Serikat tampaknya selalu ingin berbeda dari negara lain. AS adalah salah satu dari hanya tiga negara di dunia yang tidak menggunakan sistem metrik. AS dengan keras kepala bersikeras menuliskan tanggal dengan bulannya dulu sebelum hari. Sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan oleh negara lain, tanpa alasan yang jelas. Beberapa tahun setelah memenangkan Perang Revolusi, orang Amerika juga menerbitkan kamus yang berisi kata-kata yang dieja dengan sengaja berbeda dari ejaan Inggris. Mereka juga menggunakan sistem suhu yang berbeda dari sebagian besar dunia. 

Anda akan berpikir bahwa suhu akan menjadi sesuatu yang dapat disetujui oleh seluruh dunia sebagai satu sistem universal, seperti memberi tahu waktu (jam). Tapi masalahnya dunia punya tiga sistem suhu yang berbeda. Tentu saja, masuk akal jika banyak ilmuwan mengukur suhu dalam Kelvin, yang memungkinkan mereka untuk lebih mudah memetakan suhu yang tidak kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti suhu nol mutlak atau suhu bintang. Tetapi mengapa ada dua sistem berbeda untuk suhu cuaca normal sehari-hari? Dan ketika berbicara tentang Fahrenheit vs Celcius, mana yang lebih dulu? Dan, tentu saja, mengapa Amerika memilih menjadi minoritas dengan penggunaan Fahrenheit? 

Fahrenheit vs Celcius 
Bagi kebanyakan orang di seluruh dunia, hari dengan suhu 40 derajat artinya sangat panas. Tapi di Amerika Serikat, itu hari yang dingin. Jadi kalau orang AS mendengar orang lain mengeluh tentang berkeringat dalam cuaca 40 derajat bisa membingungkan mereka. Jangan lupa juga bahwa dalam Celcius, air membeku pada nol derajat dan mendidih pada 100 derajat. Sedangkan dalam Fahrenheit, angka-angka itu adalah…32 derajat dan 212 derajat. 

Nah, ada masa yang cukup singkat, ketika menggunakan Fahrenheit lebih umum, karena itu satu-satunya cara untuk mengukur suhu saat itu. Pada awal 1700-an, termometer masih belum sempurna, sedikit dan jarang, dan kurang tepat. Orang yang menemukan termometer modern pertama memiliki nama Daniel Gabriel Fahrenheit. Dia adalah orang pertama yang membuat dua termometer yang bisa menunjukkan pembacaan yang sama. Pada 1724, ia mengembangkan skala, dengan namanya, untuk mengukur suhu. Dia menetapkan nol derajat sebagai suhu terendah yang bisa dia dapatkan dari campuran garam dan air. Dia memperkirakan suhu tubuh manusia sebagai 96 derajat untuk titik patokan lainnya. 

Hanya 18 tahun setelah terobosan Daniel Fahrenheit, ilmuwan lain bernama Anders Celsius mengembangkan sistem pengukuran suhu kedua dan yang jauh lebih intuitif. Yang satu ini, tentu saja, bahkan memiliki perbedaan 100 derajat antara titik beku dan titik didih air. Tentu akan sangat mengecewakan bagi Daniel Fahrenheit… jika beberapa negara, termasuk Amerika, tidak lagi menggunakan sistemnya hingga hari ini. 

Mengapa Amerika menggunakan Fahrenheit? 
Hanya dalam 18 tahun setelah Fahrenheit menjadi satu-satunya pemain skala suhu, ia telah memperoleh pijakan yang substansial. British Royal Society telah mengadopsinya, dan Inggris menyebarkannya ke koloninya, termasuk Amerika Serikat dan Australia. 

Tetapi kedekatan Celsius dengan sistem metrik yang baru lahir tidak dapat diabaikan karena keduanya didasarkan pada kelipatan sepuluh. Pemerintah Prancis mempelopori penerapan sistem metrik dan Celsius. Sistem intuitif ini menyebar ke sebagian besar dunia. Tetapi pada saat yang sama, dunia berbahasa Inggris tetap bergantung pada Fahrenheit. 

Pada tahun 1960-an, Inggris akhirnya secara resmi beralih ke sistem metrik sehingga akan sejalan dengan negara-negara Eropa lainnya. Amerika, tidak membuat perubahan seperti itu. Mereka mengambil solusi dalam memperkenalkan sistem metrik pada tahun 1975 dengan Undang-Undang Konversi Metrik Kongres. Tindakan ini membuat mengadopsi sistem metrik dipersilakan secara "sukarela." Dan ternyata, orang-orang tidak memiliki keinginan untuk secara sukarela mengubah sistem pengukuran, yang aneh dan sulit digunakan, yang mereka kenal dan operasikan selama ini. Alasan inilah di balik mengapa Amerika Serikat tidak menggunakan sistem metrik secara resmi. 

Apa negara lain yang menggunakan Fahrenheit? 
Ada beberapa negara terkenal lainnya yang juga menggunakan sistem Fahrenheit. Anda masih dapat menikmati cuaca 70 derajat di Bahama, Kepulauan Cayman, Palau, Negara Federasi Mikronesia, dan Kepulauan Marshall. Beberapa negara lain menggunakan kedua sistem, termasuk Belize, British Virgin Islands, dan Bermuda. 

Jika Anda bepergian ke negara yang mengukur suhu secara berbeda dari negara Anda, akan sangat membantu jika Anda mengetahui tingkat konversi Fahrenheit ke Celsius dan Celsius ke Fahrenheit. Untuk mengubah suhu dari Fahrenheit ke Celcius, kurangi 32, kalikan dengan 5, dan bagi dengan 9. Untuk mengubah dari Celcius ke Fahrenheit, kalikan dengan 1,8 dan tambahkan 32. Tidak perlu khawatir, kan?! Mungkin Amerika Serikat harus segera berfikir untuk mengadopsi Celsius, sehingga segala urusan akan lebih cepat daripada sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...