Mungkin ga sampai bangkrut atau dengan kata lain BELUM. Tapi setidaknya anjloknya saham Netflix menunjukan ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi di sana. Netflix katanya kehilangan 200 ribu pelanggan hanya dalam waktu singkat.
Rasanya masih jelas dalam ingatan ketika Netflix dengan gagah berani berinvestasi milyaran dolar, yang tentu saja hasil MINJEM, dengan basis data asumsi atau prediksi pengeluaran pelanggannya di MASA DEPAN. Jadi dengan kata lain, Netflix berani bikin film2 sendiri dengan alasan pelanggan mereka diprediksi akan terus naik dan pendapatan itu akan bisa menutupi pengeluaran investasi mereka saat ini.
Ya, begitulah. Sebuah perusahaan BERSPEKULASI, bahwa mereka akan untung besar di MASA DEPAN, dengan berbasis data saat ini. Tapi apa salahnya? Bukankah semua perusahaan memang seperti itu? Ya tentu saja. Kita bikin usaha kan karena melihat PROSPEK masa depan. Tapi kemudian yang membedakan adalah bagaimana langkahmu menggapai prospek itu.
Perusahaan yang sehat, akan menginvestasikan KEUNTUNGANNYA untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan. Ibarat dagang, hari ini dia jual 2 pisang, labanya dia pakai lagi supaya besok bisa menjual 3 pisang. Tapi sebagaimana orang bijak mengatakan, apa yang dulu biasa, dianggap aneh saat ini, termasuk adat hidup juga berubah. Dulu hutang dianggap hina, saat ini mereka menghutang untuk berbagai hal, dengan alasan sama seperti Netflix.
Berbeda dengan gadai, yakni punya jaminan, tidak berbunga, hutang bank sungguh melilit seperti ular. Bunganya tampak kecil, tapi kalau dijalani anda akan termakan sendiri.
Tapi ya itu tadi, justru saat ini orang yang tidak mau kreditlah yang dianggap aneh. Mereka yang tak punya hutang, dianggap alien.
Netflix meminjam uang untuk diinvestasikan ke dalam proyek2 filmnya. Memang sih bagus2 filmnya, tapi tetap saja, masa depan adalah sebuah ketidakpastian.
Sama seperti startup yang suka BAKAR UANG. Mereka melakukan itu dengan harapan masa depan bahwa mereka bisa menjadi penguasa pasar dan akhirnya meraih keuntungan. Gojek yang segitu BESARnya saja ternyata masih merugi. Tapi ya kembali ke poin sebelumnya, APA YANG DIANGGAP ANEH DI MASA LALU, DIANGGAP NORMAL DI SAAT INI. Jadi startup ya ITU. Tetap merugi ga apa-apa, yang penting ada pertumbuhan transaksi dan jumlah pelanggan. Kasarnya BERJUDI dengan masa depan.
Tapi ya namanya judi, rugi besar, tapi kalau untung, MEROKET. Itulah kenapa ekonomi AS menjadi menggelembung. Mereka berani judi. Tapi di sisi lain........masalah keuangan besar bermunculan juga di sana. Belum lagi jumlah hutang AS yang merupakan penghutang terbesar di dunia. Ekonom kemudian berdalih, bahwa hutangnya berhasil menggerakan ekonomi dll. Tapi percayalah, Allah ga pernah mengajarkan sesuatu yang salah. Menjauhi hutang itu penting, dan akan lebih baik hasilnya di masa depan. Setidaknya tidak jantungan di akhir bulan.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar