Dan kejadian sejadi2nya. Asisten kebingungan mencari rekam medik salah satu pasien karena namanya tidak berhasil ditemukan. Usut punya usut, ternyata dia mendaftarkan diri dengan nama lengkap, pas dtg lagi menjawab dengan nama panggilan, yang juga bukan nama depannya.
Awalnya saya pikir fenomena ini cuma terjadi pada bocil2 kelahiran tahun 2000an. Misalnya, bukan nama sebenarnya ya, namanya Deddy Cahyadi, tapi ketika ditanya nama untuk ditulis di rekam medik jawabnya Cahyadi, atau Cahya. Bahkan yg lebih parah, dia menjawab ADI.
Tapi setelah banyak pasien, ternyata kenyataan pahit ini juga dilakukan oleh bapak2, om dan tante. Padahal bukankah sebuah logika umum bahwa jika ditanya dalam urusan resmi (atau klinik kesehatan dianggap urusan main2?) anda sebaiknya menjawab dengan NAMA LENGKAP. Memangnya ketika mengurus KTP atau SIM, anda bakal tulis ADI sebagai nama anda? Bukan Deddy Cahyadi?
Jangan samakan institusi resmi, urusan resmi, dengan foodcourt atau restoran. Klo di resto ya pantas anda menyebutkan nama panggilan ketika ngantri, karena memang dia akan memanggil2 anda. Justru repot kalau dalam urusan ini anda menyebutkan nama lengkap.
So. Belajarlah untuk menempatkan diri sesuai urusan yg sedang anda jalani. Tujuannya tentu, supaya anda bisa dilayani dengan cepat dan tepat. 😊🙏👍
Komentar
Posting Komentar