Langsung ke konten utama

Padien Cerdas

Akhirnya setelah sekian lama menunggu, ketemu juga pasien cerdas. 

Seorang pasien tidak cerdas pernah mampir di page klinik saya dan meninggalkan review berikut penilaian buruk. "Udah giginya sakit banget, ga DITINDAK lagi....." kurang lebih BERNADA seperti itulah komentarnya. 

Tentu saja komentar itu menarik perhatian saya. Saya dokter gigi yg justru sangat banyak melakukan tindakan. Eh ini malah dibilang tidak mau melakukan tindakan pada pasien. Ada apa dengan org ini? Itu yg ada di pikiran saya. 

Saya coba ingat2 lagi. Ternyata sering mengalami, pasien NGOTOT minta DIOBATI dulu, sebelum dicabut. Berkali2 pula saya MEMBALIKAN tuduhan mereka bahwa saya yg MEWAJIBKAN minum obat dulu sebelum pencabutan. Berkali2 pula saya menyadari bahwa mereka minta giginya DIBERSIHKAN dulu pada pertemuan itu.

Dan akhirnya pasien cerdas ini datang dan mengeluarkan kesimpulan: "Kalau memang mau dicabut, kenapa gigi saya harus dimatikan syaraf dulu? Cabut mah cabut aja! Gitu juga dalam fikiran sy dok."

Ya. Pasien sering datang dengan niat cabut gigi. Tapi kemudian menggunakan otak sendiri untuk menangani giginya, bukan mengikuti dokternya. Ketika BIASANYA teman2nya diminta untuk minum obat dulu, dia minta diberi obat dulu. Ketika BIASANYA teman2nya datang dalam kondisi sakit gigi, kemudian dimatikan syaraf/perawatan saluran akar oleh dokternya, dia minta DIBERSIHKAN juga giginya. Padahal dia mau CABUT GIGI sedangkan temannya mau MEMPERTAHANKAN giginya itu. 

Kalau memang mau mengobati diri sendiri yaudah ngapain ke dokter gigi? 

Tapi faktanya kalau anda ingin cabut gigi, artinya anda memang sudah sampai pada keputusan membuang gigi bermasalah itu, lalu buat apa MEMBERSIHKANnya dulu? Membersihkan di sini adalah bahasa pasien untuk PSA atau MEMATIKAN SYARAF GIGI. Jadinya pasien keluar duit 2 kali lipat dong. Biaya PSA dan kemudian biaya cabut giginya.

 Buat dokter, tentu saja menguntungkan. Dapat dua kali bayaran. Dokter mana yg menolak? Saya juga masih menggunakan uang untuk membeli berbagai barang. Tapi sayangnya, pasien sering kehilangan kosakata dalam meminta ini. DIOBATI saja dulu dok. Tentu mendengar OBAT ya saya lari pada kesimpulan bahwa pasien minta diresepkan obat saja, bukan tindakan. Siapa yg tau klo pasiennya minta DIMATIKAN SYARAF/PSA dulu?

Dan di saya biaya resep dan tindakan tentu berbeda, pasti lebih mahal tindakan. Tentu saya akan senang sekali kalau ada pasien yg minta PSA ketimbang resep. Tapi buat pasien : mrk rugi, keluar duit 2 x untuk hal yang tidak perlu. Kurang cerdas kan? Buang2 duit. Toh giginya mau dibuang jg, ngapain dipoles2 dulu?

Di situlah akhirnya sy dipertemukan dengan pasien cerdas yg berkomentar, "ya saya kepikiran jg sih dok. Klo memang gigi sy mau dicabut, ngapain sy harus PSA/dimatikan syaraf dulu. Cabut mah cabut aja!"

Pasien tercerdas yg sy temui. Setidaknya lebih cerdas ketimbang yg pernah komen di internet dan menuduh saya TIDAK MAU MELAKUKAN TINDAKAN. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...