Langsung ke konten utama

Tiga Kegiatan yang Membuat Otak Bahagia

 Jalan kaki sebagaimana orang yg menghargai dirinya sendiri: Berjalanlah seperti orang yang menghormati diri sendiri dan memercayai keputusan sendiri. Punggung tegak dan pundak rileks. Langkahkan kaki seperti orang yang santai, seperti orang yang tidak mencemaskan kritikan orang lain.


Memasang raut wajah seperti orang yang mencintai diri sendiri : Setiap kali melihat kaca, bayangkan ekspresi wajah seperti apa yg akan anda pasang jika anda mencintai diri anda. Biasanya tersenyum. Saya tidak menyuruh anda untuk terpaksa tersenyum. Adakalanya kita berpisah dengan kekasih dan adakalanya kita ada masalah keluarga. Bayangkan raut wajah seperti apa yg akan anda pasang jika anda menyayangi orang yg ada di dalam cermin di hari seperti itu. Pasanglah raut wajah itu.


Berbicara sendiri. Orang dengan harga diri yang sangat tinggi memikirkan dan mengucapkan apa yg akan dikatakannya ketika sedang mengalami hal yg berat. Ia akan menggeneralisasi, “Tidak apa-apa, orang lain juga mengalami ini,” atau, “Ini bisa teratasi karena aku. Kalau orang lain, pasti sudah jadi masalah besar.” Perdengarkan ucapan ini kepada otak. Otak menyukai ucapan seperti ini. Sering-seringlah mendengarkan ucapan yg disukai oleh otak.


Jalan kaki, pasang raut wajah, dan bicara sendiri. Ingatlah ketiga hal ini. Kegiatan ini hanya dapat dilakukan oleh manusia. Otak manusia berfungsi secara aktif saat melakukan ketiga hal ini. Perubahan akan terjadi jika kita meningkatkan harga diri di kala otak paling aktif dan bergerak secara efisien. Berteriak, memecahkan barang, atau menyerang orang lain adalah tindakan yang dapat dilakukan oleh hewan apapun. Tindakan seperti itu tidak dapat mengembalikan kesehatan otak. Mari hidup secara manusiawi dan berbudipekerti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...