Aku sudah mengenal Nanat sejak kecil. Sejak kami duduk di bangku sekolah dasar di kampung yang sama, hingga akhirnya kami berdua melanjutkan studi di kota yang berbeda. Entah kenapa, meskipun kami sering terpisah oleh jarak, persahabatan kami tidak pernah terputus. Setiap kali ada waktu libur, aku selalu mengunjunginya, begitu juga sebaliknya. Rasanya, kami sudah seperti saudara.
Namaku drg. Abimana. Kini, aku sudah 35 tahun, seorang dokter gigi yang membuka praktik di klinik kecil milikku sendiri. Sementara Nanat, ia seorang pengacara yang kini bekerja di salah satu firma hukum besar di kota. Tapi meskipun kesibukan kami semakin padat, kami selalu menemukan waktu untuk saling berbagi cerita, tertawa, atau sekadar duduk bersama sambil menikmati kopi.
Aku mulai merasa bahwa hubungan kami telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Tanpa kusadari, setiap detik yang kuhabiskan bersamanya semakin terasa berarti. Rasanya nyaman sekali berada di dekatnya. Senyumnya selalu mampu meredakan kecemasan dan beban pikiran yang aku bawa setiap hari.
Namun, aku terlalu lama membiarkan perasaan itu hanya terkubur dalam hati. Aku mengira, persahabatan kami akan tetap seperti itu—tak berubah, tetap nyaman, tanpa harus ada yang mengubah status hubungan kami. Tapi semakin tua, aku mulai berpikir. Mungkin sudah waktunya aku berhenti menunda-nunda dan mengutarakan perasaanku. Aku merasa bahwa Nanat adalah sosok yang tepat untuk menemani hidupku. Aku merasa cocok dengannya, dan sudah waktunya aku berani melangkah ke arah yang lebih serius.
---
Hari itu, aku memutuskan untuk melamar Nanat. Aku sudah mempersiapkan segalanya—cincin yang kubeli di toko perhiasan, kata-kata yang sudah kuatur dalam hati, dan rencana untuk mengajaknya makan malam di restoran favorit kami, tempat yang selalu kami datangi sejak dulu. Aku ingin mengungkapkan semua perasaanku yang sudah lama aku simpan. Aku ingin mengatakan padanya betapa pentingnya dia dalam hidupku, betapa aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya.
Aku menatap jam di tanganku. Hari itu adalah hari yang tepat, aku merasa yakin. Segera setelah klinikku tutup, aku berniat menuju rumahnya untuk melamarnya.
Namun, sebelum aku bisa mengangkat telepon untuk menghubunginya, ponselku berbunyi. Nanat mengirim pesan.
"Abimana, ada yang ingin aku kasih tahu. Aku sudah memutuskan untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Aku sudah bertunangan dengan Adit. Kami akan menikah dalam waktu dekat. Aku harap kamu mengerti."
Pesan itu seperti petir yang menyambar. Dadaku terasa sesak, dan seluruh dunia seakan berhenti berputar.
Aku membaca pesan itu berulang kali, berharap itu hanya mimpi. Tapi kenyataannya tak bisa kuhindari. Nanat, sahabatku yang selama ini aku anggap sebagai orang yang tepat, ternyata sudah menemukan jalan hidupnya sendiri. Aku tidak pernah tahu bahwa dia sudah berkomitmen dengan orang lain. Bahkan, aku tak pernah merasa bahwa dia akan melangkah sejauh itu.
Airmataku hampir tumpah, tetapi aku berusaha keras menahan diri. Aku menatap cincin yang ada di tanganku—cincin yang seharusnya kutawarkan pada Nanat. Kini semuanya terasa sia-sia.
Dengan tangan gemetar, aku membalas pesan Nanat.
"Selamat, Nanat. Aku berharap kamu bahagia. Maafkan aku kalau aku terlambat."
---
Hari pernikahan Nanat datang begitu cepat. Aku tidak tahu apakah aku siap menghadapi hari itu. Di dalam hatiku, ada rasa pahit yang sulit diungkapkan. Aku datang ke acara pernikahannya hanya sebagai seorang teman. Aku tersenyum, meskipun di dalam hati aku merasa hancur. Aku melihat Adit—suaminya sekarang—dan aku tahu dia adalah orang yang sangat beruntung bisa mendapatkan Nanat.
Pernikahan itu berlangsung meriah. Nanat cantik sekali di balutan gaun putih, dan Adit tampak bahagia di sampingnya. Aku bisa melihat betapa bahagianya mereka. Aku mencoba tersenyum, walaupun hatiku terasa kosong.
Setelah acara selesai, aku mendekati Nanat yang sedang duduk bersama keluarga dan teman-temannya. Dia tersenyum padaku.
“Terima kasih sudah datang, Abimana. Kamu tahu kan, betapa pentingnya kamu buat aku?”
Aku menatapnya, mencoba menahan air mata. “Aku tahu, Nanat. Aku selalu mendukungmu.”
Nanat memegang tanganku, lalu berkata, “Aku tahu kamu yang terbaik, Abimana. Tapi Adit... dia yang membuatku merasa hidupku lengkap.”
Aku menatapnya, mencoba menerima kenyataan. “Aku senang kamu bahagia, Nanat.”
Nanat tersenyum, tapi ada keraguan di matanya. “Aku selalu tahu kamu ada di sana untuk aku, dan aku akan selalu menghargai persahabatan kita.”
Aku mengangguk, meskipun aku tahu persahabatan kami tak akan pernah sama lagi.
---
Aku pulang malam itu dengan perasaan campur aduk. Aku merasa lega karena akhirnya Nanat bahagia, tapi ada rasa sakit yang tak bisa aku hilangkan. Mungkin aku terlambat untuk mengungkapkan perasaanku, dan mungkin aku selalu ragu untuk melangkah. Tapi kini aku tahu, hidup berjalan dengan cara yang tak terduga. Terkadang, kita baru sadar apa yang kita inginkan setelah semuanya terlambat.
Nanat kini menikah dengan orang yang tepat untuknya. Aku pun akhirnya menerima kenyataan itu. Aku berjanji untuk selalu mendukungnya, meski dalam diam. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk menjadi lebih dari teman baginya, tapi aku berharap dia selalu bahagia—bahagia seperti yang selalu dia berikan padaku.
Komentar
Posting Komentar