Langsung ke konten utama

Ada Apa Dengan Cinta

Namaku Cinta.

Aku pikir aku tahu banyak tentang cinta. Kata-kata adalah duniaku, puisiku berbicara lebih lantang dari suara. Tapi tidak ada puisi yang bisa mempersiapkanku untuk jatuh cinta kepada seseorang seperti Rangga.

Rangga adalah sunyi yang hangat. Ia seperti buku tua di rak perpustakaan—tak menarik di mata banyak orang, tapi menyimpan dunia di dalamnya. Ia membuatku ingin diam, dan mendengar.

Namun waktu tak pernah bersahabat. Saat aku mulai yakin akan perasaan ini, dia harus pergi. Ke New York. Mengikuti ayahnya yang kembali diberi kesempatan hidup baru.

Kami bertengkar. Aku terluka. Tapi aku sadar, aku tak bisa membiarkannya pergi tanpa mengatakannya.

Aku mengejarnya ke bandara. Nafasku sesak. Tapi aku sampai, tepat sebelum dia masuk ke ruang keberangkatan.

Dia berdiri di kejauhan, mengenakan jaket abu-abu dan ransel yang besar. Aku memanggil namanya—pelan tapi pasti. Ia menoleh. Tatapan itu... penuh kenangan yang belum sempat dibuat.

Kami berdiri berjauhan. Mungkin tiga atau empat meter. Tapi rasanya seperti dua dunia yang terpisah.

“Aku sayang kamu,” kataku, nyaris seperti bisikan.

Rangga tidak mendekat. Ia hanya berdiri tegak. Menatapku dalam-dalam, lalu... tersenyum kecil. Senyum paling jujur yang pernah kulihat darinya.

“Terima kasih sudah datang,” ucapnya.

Ia tak melangkah ke arahku. Ia hanya mengangkat tangannya sebentar. Isyarat pamit. Sopan, pelan, tapi menyakitkan.

Lalu dia membalikkan badan.
Dan masuk ke ruang tunggu.
Tanpa pelukan. Tanpa cium kening. Tanpa genggaman tangan.

Hanya jarak. Dan kata-kata yang tertinggal di udara.


---

Bertahun-tahun setelahnya, aku tak pernah lupa momen itu. Awalnya kami masih saling mengirim email. Lalu menghilang perlahan—seperti puisi yang tak selesai ditulis.

Lalu, suatu hari, aku datang ke pameran puisi di Jakarta. Seorang penulis muda membacakan puisi untuk mentornya yang tak sempat menerbitkan karyanya. Namanya disebut:

Rangga Satya Adiningrat.

Aku membeku.

Lelaki itu, katanya, meninggal dalam kecelakaan mobil di New York. Tiga tahun lalu.

Setelah acara, aku memohon untuk melihat tulisan tangannya. Dan mereka menunjukkan satu halaman dari catatan miliknya:

Untuk Cinta,
Jika waktu pernah memberiku satu keberanian,
Aku ingin kembali ke hari itu di bandara,
Dan berlari, bukan pergi.



Aku menangis diam-diam malam itu.
Karena aku tahu—dia juga ingin tinggal. Tapi tidak bisa.

Dan sekarang, hanya puisinya yang tinggal.
Dan aku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Terbuka Ruslan Buton Untuk Joko Widodo

Kepada Yth. Saudara Ir. H .Joko Widodo. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Ruslan Buton, mewakili suara seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Di tengah pandemi Covid-19, saya melihat tata kelola berbangsa dan bernegara yang begitu sulit dicerna akal sehat untuk dipahami oleh siapapun. Kebijakan-kebijakan saudara selalu melukai dan merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Yang lebih menghawatirkan lagi adalah ancaman lepasnya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kami cintai ini. Suka atau tidak suka, di era kepimimpinan saudaralah semua menjadi kacau balau alias amburadul dalam segala hal. Entah karena ketidakmampuan saudara atau bisikan kelompok yang memiliki kepentingan yang tidak bisa saudara pahami atau mungkin karena saudara telah tersandra oleh kepentingan para elit politik. Disini saya tidak akan memaparkan kebijakan-kebijakan saudara yang lebih banyak merugikan ...

Dokter Bhinneka Tunggal Ika? Atau Dokter Anti Islam?

Hhmmm dokter bineka tunggal ika..??? Rasanya dari dulu ga pernah ada masalah dengan Bhineka Tunggal Ika....dari mulai kuliah rekan2 dari sabang sampe merauke, dosennya juga dari berbagai suku ras dan agama.. sampai sekarang jadi TS.. pasien2 juga beragam dari mulai yang matanya sipit kulitnya hitam, dilayani dengan baik sesuai kode etik.. Kenapa tiba2 ada yang ngaku2 dokter Bhinneka Tunggal Ika? Hahaha.. Pilkada DKI sudah selesai, jangan profesi dokter kalian tunggangi karena sakit hati. InsyaAllah tinggal usulkan : Presiden harus beragama non muslim dan berasal dari etnis Tionghoa di UUD kita nanti. Sesuai penafsiran Bhineka Tunggal Ika kalian kan? Hahahaha

3 Cara Mendisinfeksi Masker

Ahli medis merekomendasikan untuk mencuci masker setidaknya sekali sehari. Berikut adalah tiga metode untuk mendisinfeksi masker  secara efektif. 1. Bersihkan masker di mesin cuci Jika Anda memiliki mesin cuci, sebenarnya sudah cukup untuk membersihkan masker Anda. Pastikan untuk mencuci masker Anda setiap selesai digunakan. Pakailah kantong khusus seperti mencuci sepatu untuk melindungi elastisitasnya. Cuci masker Anda dengan deterjen cuci biasa dan bisa tambahlan  air panas juga. Selanjutnya, keringkan.. Metode yang sama juga berlaku untuk penutup wajah kain lainnya seperti bandana atau syal. 2. Bersihkan masker di wastafel Karena tidak memiliki akses ke mesin cuci, Anda juga dapat membersihkan masker kain di wastafel dapur Anda. Isi wastafel Anda dengan air panas dan sabun cuci piring. Biarkan masker wajah Anda terendam dalam air sabun panas selama setidaknya lima menit. Pastikan untuk mengeringkannya sampai benar2 kering sebelum memakainya. 3. Disinfeksi masker...