Langsung ke konten utama

Flipped

Hari itu, kami—anggota PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) cabang Berau—mengadakan penyuluhan gigi di SDN 3 Tanjung Batu. Aku, drg. Abimana, berdiri di depan kelas sambil menjelaskan cara menyikat gigi yang benar. Suasana ramai, anak-anak heboh, tapi ada satu hal yang membuatku tak bisa fokus.

Dia datang membawa goodie bag.

“Dok, ini brosur dan pasta giginya udah dibagiin semua,” katanya ramah.

Aku menoleh. “Oh, makasih… eh, Ami, ya?”

“Iya. Asistennya drg. Lanny.”

Aku mengangguk sambil berusaha menyembunyikan kegugupan. “Saya Abimana, tapi… ya, mungkin kamu udah dengar juga.”

Ami tertawa. “Udah. Katanya dokter paling serius di PDGI.”

Aku nyengir. “Serius karena gugup ngomong di depan anak-anak.”

Tawanya ringan, dan sejak hari itu, entah kenapa aku selalu menanti-nanti pertemuan berikutnya.


---

Beberapa bulan berlalu. Setiap ada kegiatan PDGI, mataku secara otomatis mencarinya. Kadang kami ngobrol sebentar di sela acara. Kadang aku memberanikan diri membawakannya air minum atau sekadar menyapa lebih dulu.

Sore itu, setelah penyuluhan di Lapangan Pemuda, kami duduk sebentar di bangku pinggir lapangan sambil menunggu dijemput.

“Kamu selalu kelihatan kalem ya, Abimana,” kata Ami sambil membuka botol air mineral.

Aku tersenyum. “Kalem karena takut salah ngomong di depan kamu.”

Dia menoleh cepat, tertawa. “Wah, gombal juga ternyata.”

Aku ikut tertawa, meski dalam hati rasanya ingin bilang: “Aku nggak gombal. Aku serius.”

Tapi lagi-lagi, lidahku kelu. Aku hanya menatapnya diam-diam. Dalam hati.


---

Beberapa minggu kemudian, kabar itu datang seperti petir di siang bolong.

“Ami mau nikah,” kata salah satu rekan PDGI saat rapat. “Sama Andre, pengusaha alat kesehatan dari Samarinda.”

Dunia seakan berhenti. Aku hanya bisa mengangguk pelan, padahal jantungku seolah pecah dari dalam.


---

Dua hari sebelum lamaran Ami, aku memberanikan diri mengirim pesan.

Aku butuh bicara sebentar. Kalau kamu berkenan.

Ami membalas.

Boleh. Di taman dekat kantor Dinkes sore ini ya.

Kami duduk di bangku panjang, di bawah pohon ketapang yang rindang. Angin sore berembus pelan.

“Ami,” kataku pelan, “aku minta maaf kalau ini mengganggu… tapi aku harus jujur.”

Dia menatapku lekat.

“Aku suka kamu. Sejak pertama kali kita ketemu di penyuluhan itu. Tapi aku selalu merasa kamu terlalu... sempurna. Dan aku terlalu biasa.”

Ami menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Abimana… kamu tahu nggak, aku juga suka kamu dulu.”

Aku terdiam. “Serius?”

Dia mengangguk. “Tapi kamu nggak pernah kasih tanda. Aku tunggu, tapi kamu diam. Aku pikir kamu cuma ramah.”

“Aku takut. Aku... pengecut,” bisikku.

Ami menatapku, senyumnya getir.

“Kalau kamu bilang ini dulu, mungkin sekarang beda. Tapi aku sudah tunangan. Keluarga sudah terlibat. Aku nggak bisa mundur.”

Aku mengangguk, meski hati menolak. “Aku cuma ingin kamu tahu. Aku nggak akan ganggu kamu. Aku cuma... terlambat.”

“Bukan terlambat suka,” katanya. “Cuma terlambat bicara.”


---

Aku tidak datang ke pernikahannya. Aku juga tak membuka Instagram selama seminggu penuh. Setiap orang di PDGI mengunggah foto-foto pesta Ami.

Sebulan setelah itu, aku mengajukan mutasi ke Bekasi. Alasannya? Keluarga. Nyatanya, aku ingin pergi sejauh mungkin dari kenangan yang menyakitkan.

Kini aku bekerja di klinik swasta kecil. Hari-hariku padat, tapi malam selalu sepi. Kadang aku termenung, memutar ulang semua percakapan kami.

Dan aku bertanya dalam hati:

“Bagaimana jika waktu itu aku berani bicara lebih awal?”



Sayangnya, waktu tak bisa diulang. Dan rasa yang datang terlambat… hanya bisa ditinggalkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...