Langsung ke konten utama

Poltergeist


Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga.

Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib.

Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya.

“Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.”

Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang salah. Dan kalau bukan aku yang bergerak, siapa lagi?


---

Malam kelima Ramadhan, selepas sahur, aku niatkan diri berangkat lebih awal untuk shalat Subuh. Aku melintasi jalan setapak yang membelah sawah—tempat pohon waru besar berdiri, tempat gangguan itu sering muncul.

Langit gelap, kabut turun dari arah bukit. Angin dingin menghembus pelan. Aku terus melangkah. Saat sampai di bawah pohon waru, suasana tiba-tiba sunyi. Kabut menjadi tebal, dan udara jadi berat. Suara angin berhenti. Aku bisa dengar detak jantungku sendiri.

Lalu terdengar suara dalam bahasa Minang, serak dan bergema:

“Nan di surau, bukan urusan ang... baliak lah, anak rantau.”

Aku mengangkat kepala. Di atas cabang waru, berdiri sosok tinggi, hitam, dan matanya merah menyala seperti bara tungku. Rambutnya panjang, menggantung sampai tanah. Badannya besar, tapi tak menyentuh tanah.

Aku menahan napas. Lututku sempat lemas, tapi aku mengingat pesan Buya di pesantren: jin hanya bisa menguasai manusia yang takut dan lalai dari zikir.

Aku mulai membaca ayat kursi dengan suara tegas, lalu dilanjutkan Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Tanganku gemetar, tapi suara doaku makin keras.

Makhluk itu meraung. Suara raungannya mengguncang udara kampung. Ia melayang turun dan menghentak tanah, tapi cahaya dari surau yang mulai menyala menyilaukan tubuhnya. Ia menjerit, mengepul asap, lalu pecah seperti debu tertiup angin barat.


---

Esoknya, berita menyebar cepat. Warga yang awalnya takut, mulai berani keluar. Anak-anak kembali mengaji. Para ibu mengantar tajil ke surau. Bahkan, mamak-mamak yang biasanya sibuk di dapur malam hari mulai meramaikan pengajian bakda Isya.

Mak Etek Datuak Sati hanya tersenyum padaku saat kami duduk di beranda.

“Ang dulu baraja di rantau... kini barjuang di kampuang. Ini baru anak cucu urang awak,” katanya.

Dan aku hanya menjawab, “Selama kita jaga surau, jaga iman, ndak ado jin nan bisa menjegal urang Minang.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Ada Gigi yang Ditambal Langsung, Ada yang Tidak?

Tidak semua gigi bisa langsung ditambal karena kondisi kerusakan setiap gigi berbeda-beda. Berikut alasan utama kenapa ada yang bisa langsung ditambal dan ada yang tidak: 1. Tingkat Kerusakan Gigi Bisa langsung ditambal: Jika lubang pada gigi masih kecil atau sedang, dan tidak mencapai saraf gigi. Tidak bisa langsung ditambal: Jika lubangnya terlalu dalam, atau sudah mengenai saraf (pulpa), maka harus dilakukan perawatan saluran akar dulu sebelum ditambal. 2. Infeksi atau Nyeri Hebat Gigi yang bernanah, bengkak, atau sakit berdenyut tidak bisa langsung ditambal. Harus diobati dulu infeksinya. Menambal langsung bisa “mengurung” bakteri di dalam, dan itu memperparah kondisi gigi. 3. Kebutuhan Perawatan Lanjutan Dalam beberapa kasus, dokter perlu membersihkan lubang gigi secara bertahap atau dilakukan perawatan saluran akar sebelum tambalan permanen. 4. Struktur Gigi yang Tersisa Kalau kerusakan terlalu besar, tidak cukup kuat hanya ditambal. Bisa jadi perlu dibuat mahkota gigi (crown). J...

19 Oktober 2023

Hari ini aku dapat kabar… Nayla meninggal. Kecelakaan. Dunia seperti ikut berhenti bersamaku. Aku datang ke pemakamannya. Berdiri di antara orang-orang yang mencintainya secara nyata, sedangkan aku? Aku hanya bayang-bayang di sudut kenangan. Tak ada yang tahu, bahkan ia pun tak pernah tahu… aku menyayanginya lebih dari yang bisa kupahami.