Langsung ke konten utama

Layla & Marjohan

Di sebuah nagari sejuk di kaki Gunung Marapi, hiduplah seorang gadis bernama Layla, anak tunggal dari seorang penghulu suku Caniago yang terpandang. Ia cerdas, pandai menari, dan gemar bersyair. Parasnya menyejukkan mata, seperti embun pagi di sawah yang baru ditanam.

Di sisi lain nagari, tinggallah Marjohan, anak yatim dari keluarga sederhana. Ibunya berjualan lamang, sedangkan ayahnya telah lama wafat di rantau. Marjohan pandai menulis syair dan sering membantu di surau. Mereka bertemu di pentas randai saat SMA, saat Layla menjadi penari utama dan Marjohan membacakan syair pembuka.

Sejak saat itu, cinta tumbuh dalam diam.

Mereka sering bertukar pantun lewat buku catatan. Di balik lembar-lembar puisi itu, tumbuh harapan: bahwa kelak mereka bisa bersatu. Tapi di tanah Minang, adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Cinta harus sejalan dengan restu mamak dan martabat suku.

Ketika Marjohan memberanikan diri mengirim utusan ke rumah Layla, mamak Layla menolak mentah-mentah.

> “Bako urang awak indak mungkin diserahkan ka anak urang kampuang!” kata mamaknya lantang.
“Apalagi anak dari suku yang kini tak punya penghulu!”



Marjohan hancur. Tapi Layla lebih tersiksa. Ia dikurung, dijodohkan dengan Raja Anwar, anak dari keluarga pengusaha emas di Bukittinggi.

Sementara itu, Marjohan memutuskan pergi merantau ke Batam. Di sanalah ia menulis puisi demi puisi yang hanya ia kirimkan lewat udara, berharap angin membawa rindunya ke rumah gadang Layla.

Satu malam, di hari pernikahan Layla, Marjohan kembali. Ia berdiri jauh di seberang rumah gadang, di balik kelok semak, menyaksikan lampu alek bersinar terang.

Ia tidak masuk.

Ia hanya menulis syair terakhir di selembar daun waru:

> “Bukan karena aku tak berjuang, Layla,
Tapi karena kampuang kita telah lama menyumpahi kita berbeda.”



Ia pergi. Tanpa suara.

Tahun-tahun berlalu.

Layla, kini telah menjadi ibu, namun wajahnya murung. Anaknya bernama Johan, dan setiap malam ia mendongeng kisah tentang seorang lelaki pujangga yang pernah mencintainya dengan seluruh napasnya.

Di sisi lain, Marjohan tinggal di pondok di pinggir laut Bengkalis. Sendiri. Menulis, dan sesekali membaca surat yang tidak pernah sampai.

Dan di suatu petang yang sunyi, di pelataran surau tua, seorang murid mengaji menemukan nisan kayu bertuliskan:

 Marjohan bin Umar.
“Yang hidup dalam kata, mati dalam rindu.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Terbuka Ruslan Buton Untuk Joko Widodo

Kepada Yth. Saudara Ir. H .Joko Widodo. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Ruslan Buton, mewakili suara seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Di tengah pandemi Covid-19, saya melihat tata kelola berbangsa dan bernegara yang begitu sulit dicerna akal sehat untuk dipahami oleh siapapun. Kebijakan-kebijakan saudara selalu melukai dan merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Yang lebih menghawatirkan lagi adalah ancaman lepasnya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kami cintai ini. Suka atau tidak suka, di era kepimimpinan saudaralah semua menjadi kacau balau alias amburadul dalam segala hal. Entah karena ketidakmampuan saudara atau bisikan kelompok yang memiliki kepentingan yang tidak bisa saudara pahami atau mungkin karena saudara telah tersandra oleh kepentingan para elit politik. Disini saya tidak akan memaparkan kebijakan-kebijakan saudara yang lebih banyak merugikan ...

Dokter Bhinneka Tunggal Ika? Atau Dokter Anti Islam?

Hhmmm dokter bineka tunggal ika..??? Rasanya dari dulu ga pernah ada masalah dengan Bhineka Tunggal Ika....dari mulai kuliah rekan2 dari sabang sampe merauke, dosennya juga dari berbagai suku ras dan agama.. sampai sekarang jadi TS.. pasien2 juga beragam dari mulai yang matanya sipit kulitnya hitam, dilayani dengan baik sesuai kode etik.. Kenapa tiba2 ada yang ngaku2 dokter Bhinneka Tunggal Ika? Hahaha.. Pilkada DKI sudah selesai, jangan profesi dokter kalian tunggangi karena sakit hati. InsyaAllah tinggal usulkan : Presiden harus beragama non muslim dan berasal dari etnis Tionghoa di UUD kita nanti. Sesuai penafsiran Bhineka Tunggal Ika kalian kan? Hahahaha

3 Cara Mendisinfeksi Masker

Ahli medis merekomendasikan untuk mencuci masker setidaknya sekali sehari. Berikut adalah tiga metode untuk mendisinfeksi masker  secara efektif. 1. Bersihkan masker di mesin cuci Jika Anda memiliki mesin cuci, sebenarnya sudah cukup untuk membersihkan masker Anda. Pastikan untuk mencuci masker Anda setiap selesai digunakan. Pakailah kantong khusus seperti mencuci sepatu untuk melindungi elastisitasnya. Cuci masker Anda dengan deterjen cuci biasa dan bisa tambahlan  air panas juga. Selanjutnya, keringkan.. Metode yang sama juga berlaku untuk penutup wajah kain lainnya seperti bandana atau syal. 2. Bersihkan masker di wastafel Karena tidak memiliki akses ke mesin cuci, Anda juga dapat membersihkan masker kain di wastafel dapur Anda. Isi wastafel Anda dengan air panas dan sabun cuci piring. Biarkan masker wajah Anda terendam dalam air sabun panas selama setidaknya lima menit. Pastikan untuk mengeringkannya sampai benar2 kering sebelum memakainya. 3. Disinfeksi masker...