Langsung ke konten utama

My Sassy Girl

Namanya Nadya. Asisten baruku di klinik kecil tempatku praktik setiap sore sepulang dari puskesmas. Dia datang dengan senyum ramah dan kerudung warna pastel yang selalu berbeda tiap hari. Di balik usianya yang masih 22 tahun, sikapnya tenang, cekatan, dan sopan. Kami cepat akrab, meski tak pernah benar-benar bicara banyak hal pribadi.

Aku, drg. Abimana, dokter gigi berusia 34 tahun yang terlalu banyak menyimpan dalam hati.


---

Hari-hari bersama Nadya terasa ringan. Dia tahu kapan harus diam, kapan harus bercanda, dan kapan menyodorkan teh hangat saat aku kelelahan.

Kadang, saat dia sibuk mencatat daftar stok bahan atau mengepel ruang praktik, aku hanya memandanginya dalam diam. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak bisa kugambarkan—tenang, tulus, dan membuatku ingin pulang cepat hanya untuk melihatnya duduk di balik meja resepsionis.

Tapi aku sadar. Aku jauh lebih tua. Aku hanya seorang dokter gigi di klinik pinggiran kota. Sementara dia, gadis muda yang cerah dan mungkin punya banyak impian. Maka seperti biasa, aku memilih diam.


---

Suatu malam, aku menemukan dia tertidur di sofa ruang tunggu. Wajahnya pucat, napasnya berat.

“Nadya?” aku mengguncangnya pelan.

Dia terbangun dan memaksakan senyum. “Maaf, Dok. Tadi pusing, jadi duduk sebentar... terus ketiduran.”

Keesokan harinya dia izin tidak masuk. Dan besoknya lagi. Dan minggu depannya, kabar datang dari ibunya:

“Nadya dirawat, Dok. Leukemia. Baru ketahuan dua bulan lalu, tapi makin parah.”

Duniaku runtuh seketika.

Aku menjenguknya di rumah sakit. Dia masih tersenyum saat melihatku.

“Dokter... maaf ya, Nadya nggak bilang. Takut malah merepotkan.”

Aku duduk di samping ranjangnya, berusaha menahan air mata.

“Nggak apa-apa. Kamu harus sembuh. Kita belum sempat makan martabak bareng, kan?” kataku setengah bercanda.

Dia tertawa kecil. “Iya, janji ya?”

Aku mengangguk, meski hatiku tahu... janji itu mungkin tak akan ditepati.


---

Sebulan kemudian, Nadya meninggal.

Aku berdiri di pemakaman, bersama ratusan orang lain yang mencintainya. Tapi hanya aku yang tahu: betapa aku mencintainya dalam diam. Betapa aku ingin sekali mengatakan semua perasaan itu.

Tapi kini sudah terlambat.


---

Sejak kepergiannya, klinik terasa kosong. Meja resepsionis tetap kubiarkan apa adanya. Bahkan mug teh favoritnya masih di tempat semula.

Dan tiap malam, sebelum pulang, aku memandang ruang tunggu yang pernah jadi saksi diam-diamku.

 “Maaf, Nadya... aku terlalu pengecut untuk mencintaimu dengan berani.”



Dan kini, aku hanya bisa menjaga satu hal:

Kenangan tentang senyumnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Terbuka Ruslan Buton Untuk Joko Widodo

Kepada Yth. Saudara Ir. H .Joko Widodo. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Ruslan Buton, mewakili suara seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Di tengah pandemi Covid-19, saya melihat tata kelola berbangsa dan bernegara yang begitu sulit dicerna akal sehat untuk dipahami oleh siapapun. Kebijakan-kebijakan saudara selalu melukai dan merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Yang lebih menghawatirkan lagi adalah ancaman lepasnya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kami cintai ini. Suka atau tidak suka, di era kepimimpinan saudaralah semua menjadi kacau balau alias amburadul dalam segala hal. Entah karena ketidakmampuan saudara atau bisikan kelompok yang memiliki kepentingan yang tidak bisa saudara pahami atau mungkin karena saudara telah tersandra oleh kepentingan para elit politik. Disini saya tidak akan memaparkan kebijakan-kebijakan saudara yang lebih banyak merugikan ...

Dokter Bhinneka Tunggal Ika? Atau Dokter Anti Islam?

Hhmmm dokter bineka tunggal ika..??? Rasanya dari dulu ga pernah ada masalah dengan Bhineka Tunggal Ika....dari mulai kuliah rekan2 dari sabang sampe merauke, dosennya juga dari berbagai suku ras dan agama.. sampai sekarang jadi TS.. pasien2 juga beragam dari mulai yang matanya sipit kulitnya hitam, dilayani dengan baik sesuai kode etik.. Kenapa tiba2 ada yang ngaku2 dokter Bhinneka Tunggal Ika? Hahaha.. Pilkada DKI sudah selesai, jangan profesi dokter kalian tunggangi karena sakit hati. InsyaAllah tinggal usulkan : Presiden harus beragama non muslim dan berasal dari etnis Tionghoa di UUD kita nanti. Sesuai penafsiran Bhineka Tunggal Ika kalian kan? Hahahaha

3 Cara Mendisinfeksi Masker

Ahli medis merekomendasikan untuk mencuci masker setidaknya sekali sehari. Berikut adalah tiga metode untuk mendisinfeksi masker  secara efektif. 1. Bersihkan masker di mesin cuci Jika Anda memiliki mesin cuci, sebenarnya sudah cukup untuk membersihkan masker Anda. Pastikan untuk mencuci masker Anda setiap selesai digunakan. Pakailah kantong khusus seperti mencuci sepatu untuk melindungi elastisitasnya. Cuci masker Anda dengan deterjen cuci biasa dan bisa tambahlan  air panas juga. Selanjutnya, keringkan.. Metode yang sama juga berlaku untuk penutup wajah kain lainnya seperti bandana atau syal. 2. Bersihkan masker di wastafel Karena tidak memiliki akses ke mesin cuci, Anda juga dapat membersihkan masker kain di wastafel dapur Anda. Isi wastafel Anda dengan air panas dan sabun cuci piring. Biarkan masker wajah Anda terendam dalam air sabun panas selama setidaknya lima menit. Pastikan untuk mengeringkannya sampai benar2 kering sebelum memakainya. 3. Disinfeksi masker...