Aku orang Minang, lahir dan besar di Bukittinggi. Tapi sejak usia 18 tahun, aku mulai merantau. Dari Bukittinggi ke Bandung, hingga akhirnya pindah ke Berau, Kalimantan Timur. Tapi ke mana pun aku pergi, satu hal selalu mengikutiku—sosok nenek tua berambut panjang dan berbungkuk, yang hanya muncul saat malam.
Pertama kali aku melihatnya waktu kecil, di rumah lama keluarga kami di kaki Gunung Singgalang. Saat itu aku mengira itu hanya mimpi buruk. Tapi seiring waktu, aku sadar: dia bukan hanya mimpi.
---
Waktu pindah ke kontrakan kecil di Berau, aku sempat berpikir semuanya akan berubah. Daerahnya tenang, tetangganya ramah, dan tempat kerjaku dekat.
Tapi malam pertama, tepat pukul 2 dini hari, aku mendengar suara sendal kayu berderak di lantai depan kamarku.
“Tek… tek… tek…”
Saat kulirik dari balik kelambu, sosok itu berdiri di pojok ruangan. Tubuhnya kecil, mengenakan kebaya kusam, rambutnya menutupi wajah, dan tubuhnya bungkuk seperti ranting tua.
Aku menahan napas. Tak bisa bergerak. Hanya bisa membaca ayat kursi dalam hati. Setelah beberapa menit, dia menghilang.
---
Tiap kali aku pindah kontrakan—dua kali di Berau, bahkan saat sempat tinggal di rumah teman—dia tetap datang. Tak bicara. Hanya berdiri. Kadang di pojok dapur, kadang di ruang tamu, atau tepat di ujung tempat tidur. Selalu dengan bau tanah basah dan angin dingin yang tiba-tiba datang tanpa sebab.
Temanku, Reno, pernah melihatnya saat menginap.
“Siapa nenek yang duduk di depan pintu kamar kamu semalam?”
Aku tak bisa jawab. Karena hanya aku yang tahu: nenek itu bukan manusia.
---
Puncaknya, aku bermimpi dia duduk di sisi tempat tidurku.
Wajahnya terlihat jelas. Kulit keriput, gigi tinggal tiga, dan matanya kosong.
Dalam mimpi itu dia berkata pelan, dengan suara serak dan berat:
“Jan tinggaan ambo... ang lah jo ambo kini...”
Aku terbangun dengan peluh dingin, lalu merinding sampai Subuh.
---
Akhirnya aku memberanikan diri menelepon Mak Etek di kampung. Beliau mengerti tanpa aku menjelaskan panjang.
“Kalau memang dia ikut ang dari kampung, bararti ado hal nan ndak ang selesaikan dulu. Cobalah kirim pulang... ka kampuang... dan mintakan ampun pada Allah.”
Atas saran Mak Etek, aku lakukan shalat tajahud, mengaji Al-Baqarah, dan An-Nas. Sambil berkata dalam hati :
“Kalau memang engkau nenek yang tersesat, kembalilah. Aku bukan tempatmu. Dunia kita tak sama.”
Malam itu aku bermimpi lagi. Dia berdiri jauh, di antara kabut. Kali ini dia tak mendekat. Hanya melihatku, lalu perlahan membalikkan badan... dan berjalan menjauh, menembus kabut hingga lenyap.
Sejak malam itu, dia tak pernah datang lagi.
---
Kini sudah dua tahun aku tinggal di Berau, berpindah ke rumah kontrakan lain. Tak ada suara langkah. Tak ada mimpi. Tak ada sosok di pojok kamar. Kadang aku masih merasa hawa dingin lewat tiba-tiba, tapi aku hanya tersenyum.
Sebagai orang Minang, aku percaya: ke mana pun perantau pergi, jejak kampung tetap melekat. Tapi tidak semua jejak harus kita bawa. Ada yang harus dilepas… agar langkah ke depan menjadi ringan.
Komentar
Posting Komentar