Tiga bulan lalu, aku dipindahtugaskan ke sebuah klinik kecil di Simpang Tiga, Payakumbuh, Sumatera Barat. Karena biaya kontrakan mahal, aku menerima tawaran seorang warga untuk menempati sebuah rumah gadang tua yang katanya kosong tak berpenghuni sejak lima tahun lalu. Rumah BESAR ya maksudnya, bukan rumah adat khas Minang itu.
“Rumah itu dulu punya keluarga Sutan Marajo,” kata Pak Anto, yang mengantarku. “Tapi sejak kejadian... ndak ado nan sanggup tinggal di sana.”
Kejadian? Aku tak bertanya lebih jauh. Rumah itu besar, dinding kayu ukiran lama. Sedikit lapuk, tapi anggun. Aku merasa tertantang untuk menempatinya.
Hari pertama, semuanya baik-baik saja. Tapi malamnya—sekitar pukul 2 dini hari—aku terbangun oleh suara perempuan menangis dari dapur. Bukan tangisan biasa, melainkan lirih... menyayat... dan seperti berasal dari balik dinding.
Aku turun dari ranjang, membawa senter. Saat menyibak tirai dapur, suara itu hilang. Dapur kosong. Tapi di lantai kayu, ada jejak kaki basah... padahal aku yakin tidak hujan.
---
Keesokan harinya, aku tanya ke warung kopi dekat kantor.
Orang-orang langsung terdiam saat aku menyebut nama rumah itu.
“Rumah itu tempat pembantaian,” kata seseorang pelan. “Lima tahun lalu, satu keluarga dibunuh di situ. Ibu, ayah, dan dua anak. Pembunuhnya kabur, tak pernah tertangkap. Waktu orang kampung datang, mayat-mayat itu ditemukan dengan kondisi mengenaskan. Sejak itu... rumah itu dihuni makhluk lain.”
Aku mulai merasakan keganjilan setiap malam. Lampu menyala sendiri. Kipas angin berputar saat tak tersambung listrik. Dan selalu... selalu... suara tangisan dari balik tembok.
Malam keempat, aku memberanikan diri membaca Yasin di ruang tengah. Saat sampai ayat ke-9, angin tiba-tiba masuk dari celah papan, membawa bau amis menyengat. Lampu mati. Di ujung ruang, sosok perempuan berpakaian compang-camping, rambut menutup wajah, muncul sambil menjerit.
“Pergi!! Ini bukan tempatmu!”
Aku gemetar, tapi tak berhenti. Kubacakan ayat kursi, lalu Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas. Sosok itu melayang ke arahku, lalu berhenti di depan rak buku tua. Wajahnya... separuh hancur, mata tinggal satu, mulut menganga lebar.
“Rumah ini milik kami...” desisnya.
Aku berdiri, menatapnya dengan gemetar, tapi suara bacaan makin nyaring. Tiba-tiba dinding rumah berguncang. Dari lantai, muncul asap hitam tebal, membentuk sosok lain: tinggi besar, matanya merah menyala.
Jin.
Makhluk penjaga trauma pembunuhan itu. Ia menggeram, seolah melindungi arwah perempuan itu.
Aku terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Suara makhluk itu makin ganas, tapi cahaya dari lilin yang kupasang makin terang. Aku merasa hawa panas menyebar ke seluruh ruangan. Kemudian terdengar teriakan panjang... lalu hening.
Asap hitam menghilang. Sosok perempuan itu memudar.
---
Pagi harinya, rumah itu terasa lebih ringan. Tak ada suara aneh, tak ada jejak kaki. Bahkan aroma amis itu hilang total. Sejak malam itu, rumah itu kembali tenang. Tak lagi ada tangisan, teriakan, atau mimpi buruk.
Orang kampung mulai berani lewat di depan rumah. Beberapa bahkan minta izin mengaji di serambi depan.
Dan aku? Aku hanya berkata pada Pak Anto:
“Setan dan jin bisa menempati tempat manusia... hanya kalau manusia menyerah. Tapi selama ada cahaya dan ayat-Nya, tak ada tempat bagi mereka di bumi Allah.”
Komentar
Posting Komentar