Aku bertugas di Puskesmas Gunung Tabur, Berau, Kalimantan Timur. Di balik kesederhanaannya, tempat ini memberiku banyak cerita—termasuk satu kisah yang tak akan pernah benar-benar hilang.
Namanya Tri. Seorang perawat baru, wajah ayu, kulit putih, dan pembawaannya memikat. Ayahnya orang Bugis, keras dan tegas. Ibunya Jawa dari Klaten, lembut dan ramah. Tri seperti kombinasi keduanya—penuh percaya diri dan mematikan dalam diam.
Kami pertama kali bertemu di ruang UGD. Dia menyapaku lebih dulu, tersenyum sambil mengulurkan tangan. Tatapan matanya tajam, seolah bisa membaca isi pikiranku.
Sejak hari itu, entah kenapa aku selalu menantikan kehadirannya. Tiap pagi, senyumnya seperti membuka harapan. Tiap malam, aku memikirkan cara membuatnya bahagia.
Kadang ia bercanda lewat chat. Kadang memberi kopi instan di jam lembur. Kadang, hanya sekadar menatapku lama lalu berkata:
“Dok, kamu cocoknya jadi pasangan yang sabar. Tapi sabar itu bosan, lho...”
Aku tertawa. Kupikir ia hanya menggoda. Tapi semakin hari, aku merasa dia membuka ruang. Memberiku harapan. Dan bodohnya, aku percaya.
---
Suatu malam hujan, kami duduk berdua di beranda belakang puskesmas. Listrik padam. Dunia sepi. Aku memberanikan diri:
“Tri... kalau suatu hari kamu ingin hidup yang tenang, sederhana, dan setia... aku ada.”
Dia hanya tertawa kecil, lalu berkata,
“Tenang itu kadang membosankan, Dok. Aku suka yang menantang.”
---
Lalu kabar itu datang. Tri akan menikah. Bukan denganku, tentu saja. Tapi dengan lelaki lulusan S2 Kesehatan Masyarakat, seorang dosen dari Jakarta, katanya. Pintar. Mapan. Tampan. Persis seperti mimpi mayoritas perempuan modern.
Aku menunduk saat membaca undangannya. Tak datang ke pesta kecil di aula. Tak mengirim pesan. Tapi dari bisik-bisik rekan kerja, aku tahu satu hal yang membuat dadaku lebih sesak:
Tri tahu aku menyukainya. Bahkan lebih dari suka. Tapi katanya pada seorang bidan, dia senang melihatku berharap.
“Seru aja, lihat dokter Assep ke-PD-an. Lucu,” katanya sambil tertawa. “Aku tahu dia jatuh, tapi aku nggak pernah niat serius.”
Dan saat itu, aku sadar. Aku bukan gagal. Aku hanya dipermainkan dengan sengaja.
---
Beberapa bulan setelah pernikahannya, aku mengajukan pengunduran diri dan pindah ke Bekasi, dengan alasan ingin dekat keluarga. Tapi jujur saja, aku hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat di mana aku kehilangan harga diri.
Di Bekasi, aku hidup dengan tenang. Bekerja. Ibadah. Tak lagi mudah jatuh oleh senyum siapa pun.
Karena sejak saat itu aku tahu, tidak semua senyum berarti cinta.
Sebagian hanya tipu daya. Dan di balik senyum Tri, ternyata tersimpan tawa yang mengejek.
Dan aku, adalah korbannya yang diam-diam mencoba melupakan.
Komentar
Posting Komentar