Langsung ke konten utama

Postingan

Ternyata luar biasa iman penyembah Ahok di salah satu daerah miskin di Indonesia. Demi memuja Tuhan mereka yang bernama Ahok, Shalat Idul Fitri mereka tinggallkan. Kirain alasannya karena si khatib menghalalkan korupsi, atau si khatib tiba2 joget2 di atas mimbar. Atau alasan lain yang dijelaskan dalam aturan agama. Ternyata alasannya, khatib menghina Tuhan mereka yang sedang dipenjara akibat kasus penistaan agama. Tuhan memang tidak boleh dihina. Makanya mereka rela pahala shalat Idul Fitri ditinggalkan demi ketaatan pada Tuhan Ahok. Karena toh Islam kan hanya tulisan di KTP mereka saja, shalat pun mereka cuma sekali setahun, saat lebaran itu. Itupun menjadi tidak sempurna pahalanya karena meninggalkan khutbah yang menghina Tuhan mereka. Semoga Allah memberi saya kesempatan untuk menyaksikan bagaimana keadaan daerah miskin ini kelak setelah meninggalkan ritual Idul Fitri demi menyembah Ahok.
Banyak ilmuwan dan tokoh Indonesia yang sempat besar di luar negeri, lalu kembali ke Indonesia. Berbagai media mencantumkan pujian : Beliau lebih rela mengabdi di negeri sendiri ketimbang bergaji tinggi di negeri orang. Atau : Beliau ingin membangun negeri. Padahal sejatinya hanya penyakit bawaan kebanyakan manusia Indonesia : homesick.
Alhamdulillah. Senang rasanya ketika tahu Pak Quraish Shihab ditunjuk sebagai khatib shalat Idul fitri. Beberapa kali mengikuti acara TV beliau, di salah satu stasiun TV yang terkenal suka memelintir berita soal umat Islam. Di situ muncul kekaguman saya pada beliau. Seperti kata beliau di salah satu ceramah tahun lalu, Islam itu ibarat cahya matahari. Mustahil untuk menutupi cahayanya. Itu pula yang terjadi pada acara tv beliau itu. Beberapa kali si pembawa acara, yang akrab dengan dunia hedon, mencoba menggiring pemaknaan beliau terhadap salah satu ayat yang sedang jadi topik bahasan. Alhamdulillah, beliau tidak terpeleset. Berulang pula beliau memberikan penjelasan yang memaknai kekisruhan beberapa waktu lalu di pilkada DKI. Tidak menusuk langsung pada peristiwa itu, tp setidaknya bisa memberi hidayah pada tokoh2 yang anti Islam akibat peristiwa pilkada DKI. Cahaya matahari tak bisa dihalangi. Anda tutupi malah anda yang tidak bisa hidup. Mudah2an esok di idul fitri, bel...
Setelah nonton beberapa film "islami" yang dibuat oleh kreator2 yang "ingin memberi pencerahan" dan akhirnya nonton "mencari hilal" akhirnya saya sadar. Mereka yang "katanya" ingin menyegarkan pemahaman agama lewat film justru sejatinya malah membuat awam makin jauh dan benci pada agama. Betapa tidak, kata2 "Allah" dan istilah2 islami lainnya dipelintir2 layaknya komedi wara wiri ramadhan yang pernah dibintangi komeng dan adul. Tapi dalam versi sarkastic. Ulama digambarkan sesuai "paranoia" si kreator film. Sebagaimana penjelasan Dr. Zakir Naik. Mereka para kreator film yang "ngaku islami" ini mungkin ketakutan sampai terkencing2 setiap kali melihat, mendengar atau berpapasan dengan ulama. Akhirnya, sebagaimana penderita paranoia yang overanxiety, mereka "memukul2", "menendang2", "berteriak2", lewat karya seni yang mereka buat. Layaknya orang paranoia yang panik, kreasi mereka tak...
Penipuan itu klo sampeyan datang, orangnya kabur. Sampeyan mintain duit sampeyan, dia ga ngasih. Kalo sampeyan blm nemuin, blm minta duit sampeyan, trus nuduh "penipu" itu namanya fitnah Mbel! Jangan mentang2 dia ustadz, sampeyan seenaknya memfitnah.